Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Laporan Dari Jepang
Menperin: Industrialisasi RI Dirancang Tanggguh Dan Jangka Panjang
Senin, 14 Juli 2025 12:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, strategi industrialisasi Indonesia bukan merupakan respons sesaat terhadap dinamika global, melainkan hasil dari kerangka kebijakan yang berakar pada prinsip ekonomi pembangunan dan transformasi struktural jangka panjang.
“Pendekatan Indonesia terhadap kebijakan industri bukanlah reaksi spontan terhadap krisis atau tren global. Ini adalah strategi yang dibangun berdasarkan prinsip ekonomi fundamental, dan diperkaya oleh pelajaran dari teori pembangunan, perdagangan strategis, serta jaringan produksi global,” ujar Menperin dalam kuliah umum di Universitas Hiroshima, Jepang, Senin (14/7/2025).
Menperin memberikan judul kuliah umumnya Strategi Baru Industrialisasi Indonesia Untuk Ketahanan Pangan Dan Energi. Acara dimulai sekitar pukul 14.00.
Menurut Menperin, pemerintah merancang ekosistem industri nasional yang tidak hanya kompetitif untuk saat ini, tetapi juga tangguh dalam menghadapi ketidakpastian global dan transformatif secara jangka panjang.
Baca juga : Menperin Paparkan Strategi Baru Industrialisasi RI Di Universitas Hiroshima
Salah satu sektor yang menjadi prioritas transformasi adalah agroindustri. Menperin menekankan pentingnya pendekatan yang menyeluruh, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga akses dan distribusi. Ia merujuk pada Entitlement Theory dari Amartya Sen yang menyatakan bahwa ketahanan pangan harus memastikan hak atas pangan melalui infrastruktur, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi yang merata.
“Kami melakukan modernisasi besar-besaran di sektor agroindustri dengan investasi di pengolahan makanan, logistik rantai dingin, dan produksi pupuk. Ini bukan semata pembangunan industri, tetapi juga instrumen keadilan sosial dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.
Modernisasi tersebut, lanjut Menperin, turut mendorong peningkatan pendapatan petani, menurunkan kerugian pascapanen, dan memperpanjang daya simpan hasil pertanian sehingga manfaat ekonomi dan gizi bisa tersebar secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Sektor energi juga menjadi fondasi penting dalam kerangka industrialisasi baru. Pemerintah mendorong transformasi dari model berbasis ekstraksi ke pengolahan bernilai tambah di dalam negeri. Hal ini antara lain diwujudkan melalui hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) serta pengembangan biodiesel dari minyak kelapa sawit.
Baca juga : Menperin: Batik Itu Cool, Harus Ditampilkan Di Forum Internasional
“Langkah ini adalah aktualisasi dari prinsip Industrialisasi Substitusi Impor (ISI) dalam konteks modern. Transformasi energi bukan sekadar teknologi, melainkan bentuk komitmen terhadap keberlanjutan, kedaulatan energi, dan penciptaan nilai ekonomi lokal,” ujar Agus.
Transformasi tersebut, menurutnya, sekaligus berfungsi sebagai mekanisme internalisasi terhadap eksternalitas global, baik dari sisi lingkungan maupun volatilitas ekonomi internasional.
Selain itu, Indonesia juga mulai menggarap sektor industri semikonduktor sebagai frontier baru industrialisasi. Mengacu pada teori Global Value Chain yang dikembangkan oleh Gereffi dan Humphrey, Menperin melihat segmen Assembly, Testing, and Packaging (ATP) sebagai pintu masuk strategis untuk masuk dalam arsitektur industri global.
“ATP memang sering dianggap kurang bergengsi dibandingkan desain atau fabrikasi chip, tetapi justru di sinilah kami membangun fondasi teknis, mengembangkan SDM, dan menarik investasi strategis,” kata Menperin.
Baca juga : Daihatsu Minta Program LCGC Diperpanjang, Menperin Bilang Begini
Ia menambahkan, penguasaan segmen ATP memungkinkan Indonesia menapaki jenjang nilai tambah yang lebih tinggi secara bertahap dari keunggulan komparatif menuju daya saing kompetitif berbasis pengetahuan. “Langkah ini bukan bentuk proteksionisme, tetapi positioning yang terencana dalam ekosistem industri global,” tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya