Dark/Light Mode

Erick Thohir Soal Program Prioritas Presiden

Sekolah Rakyat, Gerakan Kebangsaan Untuk Membuka Akses Pendidikan

Senin, 4 Agustus 2025 08:06 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Apa tantangan terbesar mewujudkan program ini?

Kalau boleh jujur, pola pikir masyarakat perlu diantisipasi. Harapannya, jangan sampai ada yang terjebak pada hal-hal negatif. Misalnya ada anak ke­luar (baca: kabur) dari Sekolah Rakyat lalu itu jadi headline di media. Sebaiknya dipahami, anak itu, sebelumnya tidak ter­biasa disiplin. Dulunya mungkin bebas bermain. Masuk Seko­lah Rakyat, tinggal di asrama. Harus bangun pagi, olahraga, makan teratur, lalu belajar. Tidak mudah bagi mereka. Kita perlu merangkul dan ikut mem­bimbing mereka agar bisa ber­adaptasi.

Melalui pendidikan dan kedi­siplinan, kita membentuk “ma­nusia baru Indonesia”. Bapak Presiden sangat meyakini kita memiliki potensi untuk bisa se­jajar dengan bangsa-bangsa besar di dunia. Masa depan Indonesia harus dibangun lewat kekuatan sumber daya manusia yang unggul.

Tentu harapannya, program ini juga disambut baik oleh masyarakat ya Pak?

Baca juga : Mega Perintahkan Kader Banteng Dukung Pemerintah, Gerindra Senang

Harapannya, masyarakat atau mereka yang mendapat kesempatan emas ini, benar-benar memanfaatkannya. Dulu, almarhum ayah saya harus merantau demi mendapatkan pendidikan. Tapi sekarang, negara hadir. Pemerintah mem­bangun fasilitas pendidikan yang setara dengan sekolah-sekolah terbaik. Untuk rakyat­nya. Ini sesuatu yang luar biasa. Harapannya, anak-anak dari Sekolah Rakyat, bisa diterima nantinya di perguruan tinggi terbaik. Di dalam maupun di luar negeri. Ini program mulia.

Banyak anak dari kalangan miskin selama ini membantu orang tua bekerja. Apakah mereka rela melepas anaknya ke boarding school di Sekolah Rakyat?

Benar, itu memang tantangan besar. Dalam realitas kepen­dudukan dan pendidikan, me­mang sering terjadi “kebocoran” jenjang. Dari SD ke SMP, ada yang putus sekolah. Dari SMP ke SMA, banyak yang hilang (tidak menerus­kan). Salah satu penyebab uta­manya adalah kondisi ekonomi keluarga. Anak-anak terpaksa berhenti sekolah demi membantu orang tua mencari nafkah. Ini, kalau dibiarkan, menjadi ke­miskinan terstruktur, sekaligus pembodohan terstruktur.

Masalah ini, termasuk yang ingin diintervensi oleh Bapak Presiden melalui pembangunan ekosistem, mencakup pendidi­kan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan. Program pemerintah seperti Bantuan Subsidi Upah (BSU), bantuan sosial, dan bantuan tunai merupakan bagian penting yang mendukung ekonomi masyarakat di lapisan terbawah.

Baca juga : Isu Munaslub Golkar Mimpi Di Siang Bolong

Saya paham, bagi orang tua, melepas anak mereka ke seko­lah berasrama seperti Sekolah Rakyat, bukanlah hal mudah. Tapi ini semua demi masa de­pan mereka, dan masa depan keluarga secara keseluruhan.

Orang tua perlu diyakinkan. Dan itu menjadi salah satu tugas penting. Beberapa kementerian, termasuk Kementerian Pember­dayaan Perempuan, perlu mulai melakukan edukasi kepada para ibu, agar mereka bisa mendo­rong anak-anak dari keluarga miskin ini untuk bersekolah.

Di sepak bola, contohnya saat Timnas U-17 lolos ke Piala Dunia. Berdasarkan data yang saya miliki, sekitar 30–40 persen dari anak-anak itu ternyata berasal dari keluarga yang ibu­nya adalah nasabah program PNM Mekaar (jenis pembiayaan usaha, bantuan dari Pemerintah untuk usaha ultra mikro, red).

Mereka, orang tuanya mendapatkan pinjaman usaha di desa-desa, sementara anak-anaknya bisa bermain bola ikut klub profesional hingga jadi bintang. Bahkan bergaji be­sar. Ini adalah contoh nyata bagaimana lingkaran ekono­mi positif bisa tercipta. Jadi, saya sepakat dengan pendapat, bahwa pemerintah harus ha­dir untuk membantu kehidupan ekonomi rumah tangga. Tidak menutup kemungkinan, anak-anak ini kelak justru menjadi tulang punggung keluarga.

Baca juga : PAN Kalbar Orkestrasikan Tokoh Senior Dan Figur Muda

Jadi, dengan memberikan program bantuan untuk orang tuanya, maka mereka akan ikhlas tenang melepaskan putra-putrinya masuk Sekolah Rakyat ya?

Betul. Mereka akan ikhlas melepaskan anaknya, dan di­yakinkan bahwa anak-anak ini akan punya masa depan. Hara­pannya, setelah lulus, mereka bisa kuliah di universitas ter­baik, lalu bekerja dan membantu keluarganya. Sekolah Rakyat ini tujuannya jelas, yaitu untuk meningkatkan kualitas SDM dari kelompok masyarakat bawah, agar nantinya mereka bisa seja­jar dengan kelompok menengah dan atas.

Karena dari mereka bisa lahir pemimpin masa depan, ilmuwan hebat, atau ahli di berbagai bidang yang akan membawa Indonesia maju.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.