Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Atasi Dampak Bencana Aceh, Sumut Dan Sumbar
Menteri Brian Libatkan 39 Perguruan Tinggi
Jumat, 5 Desember 2025 07:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengerahkan 39 perguruan tinggi untuk mempercepat penanganan banjir, longsor dan kerusakan infrastruktur yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar).
Melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kemendiktisaintek menyiapkan 28 Perguruan Tinggi Posko dan 11 Perguruan Tinggi Pendukung yang akan bergerak langsung di lapangan. Langkah ini menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana, yang menempatkan kampus sebagai pusat komando ilmiah berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan, peran kampus sangat vital dalam penanganan bencana. “Perguruan tinggi bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga kekuatan kemanusiaan,” ujar Brian dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/12/2025).
Baca juga : Pancasila Jadi Kekuatan Menuju Stabilitas Global
Menurut Brian, kehadiran akademisi, peneliti dan mahasiswa di wilayah terdampak merupakan bukti bahwa ilmu, teknologi dan inovasi harus bekerja untuk masyarakat. Dia memastikan seluruh intervensi kampus dilakukan secara terkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Sosial (Kemensos).
“Perguruan Tinggi Posko akan menjadi pusat komando lapangan. Perguruan Tinggi Pendukung menyediakan tenaga ahli, teknologi, alat pemulihan, hingga pendampingan intervensi di daerah terdampak,” jelasnya.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Fauzan Adziman mengatakan, program tanggap darurat difokuskan pada delapan pilar utama, yakni distribusi logistik; layanan kesehatan dan gizi; pendampingan psikososial; rehabilitasi sanitasi dan penyediaan air bersih; pendidikan darurat; pemulihan ekonomi; dukungan administrasi publik; serta mitigasi dan edukasi kebencanaan.
Baca juga : OSO Ajak Masyarakat Bantu Pemerintah Atasi Bencana
“Pilar ini dirancang untuk memastikan respons yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan,” ujarnya.
Asesmen lapangan Kemendiktisaintek menemukan sejumlah kebutuhan kritis yang masih belum tertangani. Seperti akses jalan yang terputus, jaringan komunikasi yang lumpuh, keterbatasan Bahan Bakar Minyak (BBM), serta hambatan distribusi logistik yang memaksa penggunaan jalur alternatif.
Fauzan menjelaskan, program ini akan berjalan dalam dua fase. Pertama, fase tanggap darurat hingga 31 Desember 2025, dengan fokus pada logistik, layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, pendidikan darurat, serta pemulihan awal. Kedua, fase pemulihan pada 2026, yang mencakup rehabilitasi wilayah, pemulihan ekonomi, serta inovasi berbasis teknologi untuk mendukung kehidupan masyarakat jangka panjang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya