Dark/Light Mode

Pengamat: Jangan Normalisasi Pengibaran Bendera GAM, Itu Simbol Separatis

Jumat, 26 Desember 2025 12:41 WIB
Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an. (Foto: IG @alirif.an)
Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an. (Foto: IG @alirif.an)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an mengingatkan publik dan negara agar tidak menormalisasi praktik pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di ruang publik. Menurutnya, simbol tersebut tidak bisa dipandang sebagai ekspresi biasa, karena memiliki makna ideologis dan politis yang sangat kuat.

Ali menegaskan, bendera GAM secara historis melekat pada gerakan separatis bersenjata yang pernah mengancam kedaulatan negara. “Karena itu, kemunculannya di ruang publik tidak boleh dinormalisasi. Simbol ini bukan simbol budaya atau ekspresi netral, tetapi simbol politik separatis,” ujarnya, Jumat (26/12/2025).

Dalam pandangan Ali, pengibaran simbol tersebut menunjukkan adanya indikasi separatisme laten yang masih tersisa. Negara, kata Ali, tidak boleh memberikan ruang pembenaran terhadap simbol yang bertentangan dengan kedaulatan nasional.

Baca juga : KCIC Imbau Penumpang Antisipasi Perjalanan Pada Musim Hujan

“Jika dibiarkan, ini bisa memicu efek domino, eskalasi simbolik, dan membuka ruang kebangkitan narasi konflik lama,” jelasnya.

Ali memaparkan, separatisme modern tidak lagi bergerak dengan pola lama semata, melainkan mengombinasikan aksi fisik di lapangan dengan provokasi di ruang digital. Media sosial digunakan untuk membangun narasi emosional, memelintir persepsi publik, dan menghasut sentimen ketidakadilan. “Hari ini, media sosial juga bisa menjadi medan tempur kelompok separatisme,” tegasnya.

Ia juga mengkritik keras upaya eksploitasi situasi bencana di Aceh. Menurut Ali, munculnya provokasi di tengah duka masyarakat menunjukkan pola manipulasi emosi publik.

Baca juga : Pengamat: Sikap Terbuka Tito Tunjukkan Empati Negara Saat Bencana

“Kondisi psikologis masyarakat dimanfaatkan untuk membangun rasa ketidakadilan, yang kemudian terus diglorifikasi. Ini bisa berisiko memicu konflik horizontal dan mendelegitimasi negara,” tambahnya.

Ali menekankan, Ali Rif'an, ancaman separatis hari ini tidak hanya muncul secara fisik, tapi lebih banyak hadir melalui simbol dan narasi dibandingkan senjata. Negara harus membaca ancaman ini secara adaptif dan kontekstual.

“Separatisme tidak selalu bersenjata, tapi dampaknya bisa sama berbahayanya jika dibiarkan,” ujarnya.

Baca juga : Pengamat Nilai Keterbukaan Jadi Kunci Penguatan Profesionalisme Polri

Ali menggarisbawahi, perdamaian Aceh merupakan hasil proses panjang, mahal, dan penuh pengorbanan. Setiap simbol, narasi, dan provokasi yang mengarah pada separatisme dinilainya mencederai komitmen damai tersebut.

“Menjaga perdamaian berarti menutup semua ruang bagi kebangkitan simbol dan konflik masa lalu,” pungkasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.