Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Era AI, Wamen Fajar Minta Santri Jadi Penuntun Etika
Minggu, 1 Februari 2026 10:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan pentingnya peran santri dan pesantren dalam merespons perkembangan artificial intelligence (AI) yang kian memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Menurutnya, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai dan adab agar kemajuan digital tidak kehilangan orientasi kemanusiaan.
Hal itu disampaikan Wamendikdasmen saat memberikan kuliah umum bertajuk “Santri Modern dan Berkemajuan di Era Artificial Intelligence” di Pondok Pesantren Modern Assalaam, Surakarta, Sabtu (31/1/2026).
Baca juga : Pramono Tetapkan Jakarta Barat Jadi Prioritas Penanganan Banjir
Wamendikdasmen menyampaikan bahwa perubahan yang dipicu AI bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan cara manusia berpikir, belajar, dan membangun peradaban. Dalam konteks tersebut, pesantren dinilai memiliki posisi strategis karena sejak awal menempatkan pembentukan karakter dan adab sebagai fondasi pendidikan.
“AI mampu mengolah data dan membantu pengambilan keputusan, tetapi tidak memiliki kemampuan menilai benar dan salah. Di titik inilah manusia termasuk santri harus tetap memegang kendali,” ujar Fajar.
Dia menekankan, agenda Indonesia Emas 2045 tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia. Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila didukung pendidikan bermutu, karakter yang kuat, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesantren, dengan tradisi keilmuan dan pembinaan moral yang panjang, dinilai berkontribusi penting dalam menyiapkan generasi tersebut.
Baca juga : Teja Paku Alam: Persib Siap Start Maksimal di Putaran Kedua
Dalam kerangka Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pembangunan manusia dan kebudayaan ditempatkan sebagai fondasi pembangunan nasional. Pendidikan dipahami bukan semata sebagai urusan kurikulum, melainkan instrumen strategis pembentuk peradaban dan kedaulatan bangsa.
Sejalan dengan itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan koding dan artificial intelligence sebagai kebijakan prioritas pendidikan nasional. Koding dan AI diposisikan sebagai literasi baru abad ke-21 untuk melatih cara berpikir komputasional, logis, dan sistemik, sehingga peserta didik tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta teknologi.
Meski demikian, Wamendikdasmen mengingatkan adanya risiko yang menyertai pemanfaatan AI, antara lain ketergantungan berlebihan pada mesin, menurunnya kejujuran akademik, serta melemahnya empati sosial. Karena itu, penguasaan teknologi harus disertai penguatan etika dan kebijaksanaan.
Baca juga : Pesawat Delay, Tante Nyentrik Ajak Penumpang Latihan Qigong
Menurutnya, pesantren berkemajuan bukan pesantren yang meninggalkan tradisi, melainkan yang mampu mengintegrasikan kekuatan tradisi keilmuan seperti kajian kitab dengan inovasi digital. Integrasi tersebut diharapkan melahirkan santri yang unggul secara intelektual, kuat secara moral, dan relevan dengan tantangan zaman.
“Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan teknologi yang canggih, tetapi manusia yang bijak dalam menggunakannya,” pungkas Fajar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya