Dark/Light Mode

Hari Lahan Basah 2026, Menhut Saksikan Deklarasi Konservasi Mangrove Di Tarakan

Rabu, 11 Februari 2026 22:29 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang menghadiri penandatanganan komitmen konservasi mangrove di KKMB Tarakan, Jumat (6/2/2026). (Dok. Kemenhut)
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang menghadiri penandatanganan komitmen konservasi mangrove di KKMB Tarakan, Jumat (6/2/2026). (Dok. Kemenhut)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026 dipusatkan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat (6/2/2026). Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyaksikan langsung penandatanganan deklarasi komitmen konservasi dan rehabilitasi mangrove berkelanjutan di provinsi tersebut.

Kegiatan ini turut dihadiri Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang, perwakilan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, organisasi internasional, serta sektor swasta.

Dalam sambutannya, Menhut menegaskan lahan basah tidak sekadar kawasan tergenang air, tetapi menyimpan kekayaan biodiversitas tinggi, sumber ekonomi masyarakat, sekaligus penyerap karbon yang signifikan.

Baca juga : Menhut Tegaskan Rehabilitasi Mangrove Berkelanjutan

“Saya berharap lahan basah ini tidak hanya tanah yang basah, tetapi menjadi sumber biodiversitas, sumber ekonomi, dan penyerapan karbon yang sangat tinggi,” ujarnya.

Secara ekologis, Kalimantan Utara memegang peran penting. Provinsi ini memiliki lebih dari 326 ribu hektare hutan mangrove dan 347 ribu hektare lahan gambut. Ekosistem tersebut berfungsi sebagai habitat keanekaragaman hayati, penahan abrasi dan cuaca ekstrem, sekaligus penopang ketahanan pangan dan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Deklarasi yang diteken memuat komitmen aksi terkoordinasi antara Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, mitra pembangunan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Forest Programme VI, NASCLIM yang diwakili Global Green Growth Institute (GGGI), serta sejumlah pelaku usaha.

Baca juga : Ramaikan IIMS 2026, Jetour T2 Hadir Dengan Konsep Terbaru

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat rehabilitasi mangrove melalui penanaman, regenerasi alami, dan pendekatan berbasis masyarakat, dengan dukungan kebijakan pemerintah dan pembiayaan iklim.

Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan, Dyah Murtiningsih, dalam laporannya menekankan pentingnya pengetahuan tradisional yang diwariskan turun-temurun dalam menjaga kelestarian lahan basah.

Di akhir kunjungan, Menhut meninjau langsung kawasan KKMB Tarakan, termasuk habitat bekantan yang menjadi ikon konservasi di wilayah tersebut. KKMB dinilai sebagai laboratorium hidup untuk pendidikan, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lahan basah berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.