Dark/Light Mode

Dukcapil Ungkap Shio Penduduk Indonesia, Tikus Paling Banyak

Kamis, 12 Maret 2026 23:38 WIB
Foto: Ditjen Dukcapil Kemendagri.
Foto: Ditjen Dukcapil Kemendagri.

RM.id  Rakyat Merdeka - Data kependudukan tidak hanya menggambarkan jumlah dan persebaran penduduk, tetapi juga dapat digunakan untuk membaca pola demografi dari berbagai perspektif, termasuk melalui klasifikasi shio dalam astrologi Tionghoa.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Teguh Setyabudi saat memaparkan Rilis Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II Tahun 2025 di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Menurut Teguh, dalam perspektif demografi dan administrasi kependudukan, shio tidak lagi dipandang sebagai narasi mistis atau horoskop semata.

Sebaliknya, klasifikasi shio dapat digunakan sebagai pendekatan analisis untuk melihat tren kelahiran dan karakteristik generasi dalam struktur penduduk.

Baca juga : Kemendagri: Penduduk Indonesia Capai 288,3 Juta Jiwa pada 2025

Berdasarkan data Dukcapil, jumlah penduduk terbanyak berada pada Shio Tikus dengan 25.348.923 jiwa. Posisi berikutnya ditempati Shio Kelinci sebanyak 25.112.854 jiwa dan Shio Naga dengan 25.021.878 jiwa.

Sementara itu, shio dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah Shio Kambing yang tercatat sebanyak 22.571.729 jiwa.

Dalam kajian demografi, pengelompokan penduduk berdasarkan shio sebenarnya merepresentasikan kohort atau kelompok usia berdasarkan tahun kelahiran tertentu.

Misalnya, Shio Tikus yang mencatat jumlah sekitar 25,3 juta jiwa mencakup penduduk yang lahir pada tahun 1960, 1972, 1984, 1996, 2008, dan 2020.

Baca juga : Kepastian Keberangkatan Haji, Prabowo Tekankan Keselamatan Jemaah Paling Utama

Besarnya angka tersebut mencerminkan dominasi generasi milenial dan Gen Z yang saat ini berada dalam usia produktif.

Sementara itu, Shio Kelinci dan Shio Naga masing-masing memiliki jumlah sekitar 25,1 juta dan 25 juta jiwa.

Angka tersebut menunjukkan konsistensi tingkat kelahiran pada periode tahun yang berdekatan, misalnya antara tahun 1996 hingga 1999 atau 2008 hingga 2012.

Dari sisi administrasi kependudukan, Teguh menilai data tersebut juga mencerminkan tingginya tingkat tertib administrasi penduduk di Indonesia.

Baca juga : Gabung BOP, Pengamat: Indonesia Tak Terkait Aksi Militer AS

Menurutnya, analisis seperti ini hanya dapat dilakukan apabila data tanggal, bulan, dan tahun lahir masyarakat telah terdigitalisasi dengan baik dalam basis data Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK).

“Dukcapil kini mampu melakukan data mining bukan hanya berdasarkan NIK, tetapi juga variabel budaya seperti shio untuk memetakan struktur penduduk secara lebih luwes,” ucap Teguh.

Ia menambahkan, data tersebut dapat membantu pemerintah memprediksi lonjakan kebutuhan layanan publik di masa depan, misalnya saat kelompok usia tertentu memasuki usia 17 tahun dan membutuhkan perekaman KTP elektronik atau saat memasuki usia sekolah.

“Shio Tikus dan Naga mencakup rentang usia produktif yang besar saat ini. Kelompok ini menjadi penyumbang utama bonus demografi Indonesia, sekaligus penggerak ekonomi dan target utama kebijakan ketenagakerjaan,” tutup Teguh.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.