Dark/Light Mode

Akademisi: Operasi Ketupat 2026 Direncanakan dengan Matang

Minggu, 12 April 2026 22:25 WIB
Foto: Korlantas Polri.
Foto: Korlantas Polri.

RM.id  Rakyat Merdeka - Akademisi yang juga Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 yang dinilai telah direncanakan secara matang.

Albertus menilai, keberhasilan operasi tersebut tidak lepas dari kemampuan Korlantas Polri dalam mengerahkan berbagai sumber daya.

Ia menegaskan, sumber daya yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan anggaran, tetapi juga mencakup kualitas sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi.

“Apresiasi kita kepada Korlantas karena mampu mengerahkan sumber daya, bukan hanya anggaran, tetapi juga manusianya dan teknologinya,” ujar Albertus dalam program APA KABAR INDONESIA SIANG TVONE dikutip Minggu (12/4/2026).

Sebagai akademisi yang memiliki kajian khusus di bidang lalu lintas, ia melihat kekuatan utama Operasi Ketupat 2026 terletak pada aspek perencanaan.

Menurutnya, perencanaan yang dilakukan tidak sekadar berbasis prosedur atau cara bertindak (CB), melainkan telah menggunakan pendekatan akademik yang lebih ilmiah.

“Perencanaannya tidak sekadar CB, tetapi menggunakan tools akademik, yaitu pendekatan prediktif dengan analisa yang scientific. Di era sekarang, teknologi sangat mendukung hal tersebut,” jelasnya.

Baca juga : Akademisi: Strategi Korlantas Polri Sukses Tekan Risiko Kecelakaan Saat Mudik

Lebih lanjut, ia juga menyoroti faktor kepemimpinan Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho dalam pelaksanaan di lapangan.

Albertus menyebut, peran Kakorlantas sangat penting dalam mengoordinasikan berbagai pihak lintas sektor sehingga pelaksanaan rekayasa lalu lintas berjalan optimal.

Leadership dari Pak Kakorlantas mampu meng-organize berbagai komponen seperti Dishub dan pariwisata, sehingga semuanya berjalan serempak dan hasilnya menjadi baik,” katanya.

Dari sisi evaluasi, Albertus mengungkapkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan bersama Ikatan Doktor Ilmu Kepolisian Indonesia menunjukkan tingkat penerimaan publik yang sangat tinggi terhadap kebijakan yang diterapkan.

“Persetujuan terhadap kebijakan ini mencapai 93 persen. Artinya mayoritas pengguna jalan memberikan dukungan penuh terhadap langkah yang dilakukan,” ungkapnya.

Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan praktik tata kelola pemerintahan (good governance) yang berjalan baik.

Bahkan, respons publik yang biasanya cenderung mengeluh justru berubah menjadi apresiasi terhadap kebijakan lalu lintas yang diterapkan.

Baca juga : HNW Apresiasi Keputusan Presiden Tak Bebankan Kenaikan Biaya Haji Kepada Jamaah

“Biasanya masyarakat mengeluh, tapi kali ini justru apresiasinya tinggi. Hanya sekitar 7 persen yang tidak setuju, dan itu akan kami teliti lebih lanjut,” tambahnya.

Albertus juga menilai, tingkat penerimaan yang tinggi ini menjadi indikator kuat bahwa kebijakan serupa dapat kembali diterapkan di masa mendatang tanpa menimbulkan resistensi dari masyarakat.

“Tingkat penerimaan kembali juga mencapai 93 persen. Artinya jika dilakukan lagi, publik tidak akan keberatan. Ini harus dipertahankan,” kata Albertus.

Sementara itu, hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap penyelenggaraan Mudik Lebaran 2026 berada pada level sangat tinggi.

Sebanyak 85,3 persen pemudik menyatakan puas terhadap pelayanan mudik tahun ini.

Direktur Eksekutif Burhanuddin Muhtadi menjelaskan, secara umum tingkat kepuasan masyarakat baik yang mudik maupun tidak mencapai 80,8 persen.

Namun, tingkat kepuasan meningkat signifikan pada kelompok pemudik, yakni sebesar 85,3 persen.

Baca juga : Pengamat Ungkap Faktor Kunci Sukses Operasi Ketupat 2026

“Ini menunjukkan penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 berjalan sangat baik dan mendapat apresiasi luas dari masyarakat,” ujarnya dalam paparan hasil survei, Selasa (7/4/2026).

Dari rincian survei, kategori “sangat puas” tercatat 10,8 persen (umum) dan 15,3 persen (pemudik), sementara “cukup puas” mendominasi dengan 70,0 persen di kedua kategori.

Adapun tingkat ketidakpuasan relatif rendah, yakni 7,1 persen (umum) dan 9,5 persen (pemudik), serta yang menyatakan tidak puas sama sekali di bawah 2 persen.

Hasil ini juga menunjukkan konsistensi kinerja dibanding tahun sebelumnya. Tingkat kepuasan publik pada 2026 tercatat hampir identik dengan 2025, baik pada kategori sangat puas maupun cukup puas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.