Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Badan Komunikasi Pemerintah Soal “Londo Ireng”
Presiden Tidak Bermaksud Menyudutkan Profesi Tertentu
Senin, 27 Juli 2026 08:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Komunikasi Pemerintah menegaskan, pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah “Londo Ireng” tidak dimaksudkan untuk menyudutkan profesi atau kelompok tertentu. Presiden justru mengajak seluruh elemen bangsa bersatu dan tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan asing.
Hal tersebut disampaikan Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Ricky Tamba, kepada wartawan, Minggu (26/7/2026).
“Tidak ada labeling atau tendensius khusus dari pernyataan Presiden,” kata Ricky kepada wartawan, Minggu (26/7/2026).
Ricky mengatakan, Presiden ingin mengingatkan bahwa Indonesia telah mengalami penjajahan selama ratusan tahun. Selain merampas kekayaan alam, penjajah juga melakukan berbagai tindakan yang menimbulkan penderitaan dan korban jiwa di kalangan rakyat Indonesia.
“Kemerdekaan Indonesia bukan cuma lepas dari penjajahan fisik, tapi bagaimana menjaga kedaulatan di bidang ekonomi, pangan, energi, teknologi, dan sumber daya alam,” tegas Ricky.
Ia juga meyakini, Presiden tidak memiliki niat menyudutkan profesi atau kelompok tertentu. Menurut Ricky, apabila Presiden mengingatkan adanya pihak-pihak yang berpotensi melemahkan Indonesia, hal itu didasarkan pada informasi dan data yang diterima dari berbagai institusi negara.
“Sehingga, apabila ada indikasi yang dapat melemahkan Indonesia, menjadi wajar jika Presiden mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk tetap berpihak pada kepentingan nasional,” ujarnya.
Baca juga : Efek Jera Dinilai Ampuh Menekan Angka Tawuran
Ricky menekankan pesan moral yang ingin disampaikan Presiden adalah setiap pihak yang mendapat amanah mengelola negara harus memiliki loyalitas kepada Merah Putih, konstitusi, dan rakyat Indonesia. Menurutnya, hal tersebut juga berlaku bagi organisasi nonpemerintah maupun kalangan akademisi.
Menurutnya, Presiden juga sejak lama konsisten mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari buruh, elite politik, birokrat, pengusaha, akademisi, hingga masyarakat, untuk mengutamakan kepentingan nasional. Ajakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat persatuan bangsa.
Ia juga menegaskan, pemerintahan Prabowo tidak bersikap anti terhadap pihak asing. Indonesia tetap terbuka terhadap investasi, transfer teknologi, dan perdagangan internasional.
Ia menjelaskan, di era globalisasi Indonesia tetap membutuhkan kerja sama dengan berbagai negara. Namun, kerja sama tersebut harus berlandaskan prinsip saling menguntungkan dan tidak membuat Indonesia bergantung maupun dirugikan.
Ricky menambahkan, Presiden terus mendorong agar kekayaan sumber daya alam Indonesia memiliki nilai tambah melalui program hilirisasi dan industrialisasi. Pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di tingkat global.
“Tetapi investasi yang masuk harus menghormati hukum Indonesia, membuka lapangan kerja, melakukan alih teknologi, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat,” tutur Ricky.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan menilai, pernyataan Presiden mengenai istilah Londo Ireng tidak tepat dimaknai sebagai serangan terhadap profesi tertentu. Menurutnya, pernyataan tersebut lebih tepat dipahami sebagai kiasan politik.
Baca juga : 30 Persen Warga Di Papua Belum Punya Hunian Layak
“Saya melihat pernyataan Presiden Prabowo lebih tepat dipahami sebagai kiasan politik, bukan ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu secara harfiah,” kata Iwan dalam keterangannya, Minggu (26/7/2026).
Iwan menjelaskan, istilah Londo Ireng sejak lama dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai simbol bagi orang-orang dari bangsa sendiri yang lebih berpihak kepada kepentingan asing daripada kepentingan nasional. Karena itu, istilah tersebut perlu dipahami dalam konteks sejarah dan politik.
Untuk diketahui, secara historis, Londo Ireng berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Belanda Hitam” atau “orang Belanda berkulit hitam”. Istilah itu awalnya merujuk kepada prajurit asal Afrika Barat yang bertugas dalam Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19, bukan kepada orang Belanda asli.
Makna istilah tersebut kemudian berkembang pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Saat itu, Londo Ireng digunakan sebagai ejekan yang berkonotasi negatif terhadap pribumi yang berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda.
Iwan menambahkan, pernyataan Presiden juga perlu dilihat dalam konteks kebijakan Pemerintah yang berorientasi pada penguatan kedaulatan nasional. Kebijakan tersebut mencakup hilirisasi industri, ketahanan pangan, swasembada energi, hingga penguatan industri dalam negeri.
“Saya kira Presiden sedang mengingatkan agar elite bangsa tidak menjadi perpanjangan kepentingan eksternal ketika Indonesia sedang berupaya memperkuat posisi tawarnya di tingkat global,” jelasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyinggung masih adanya perilaku Londo Ireng, istilah yang pada masa kolonial merujuk kepada pribumi yang membantu kepentingan penjajah. Menurut Prabowo, karakter serupa masih ada hingga saat ini dan berupaya menggoyahkan kepercayaan publik terhadap Indonesia.
Baca juga : Saan Mustopa Soal Kunjungan Luar Negeri Presiden: Tidak Bisa Dibandingkan
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat berpidato pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan sejak masa penjajahan telah ada orang-orang Indonesia yang tidak berpihak kepada kepentingan bangsanya sendiri dan justru mengabdi kepada kepentingan asing.
Selain itu, Prabowo menyinggung adanya narasi yang menyebut Indonesia akan mengalami kolaps. Menurutnya, prediksi tersebut terus bergulir dari waktu ke waktu, tetapi tidak pernah terbukti.
“Kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps,” imbuh Prabowo. UMM/BYU
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya