Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Al-Quran Memerintahkan Sayyid Mujtabah Dan Iran Segera Menghentikan Perang
Jumat, 13 Maret 2026 15:55 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Perang mengisi lini masa dalam sejarah peradaban manusia. Yang bisa perang hanya manusia. Hewan tidak bisa perang. Dalam perburuan, mereka mengutamakan insting untuk bertahan hidup. Namun manusia berbeda.
Perang muncul karena kompleksitas manusia, kepentingan dan narasi soal kekuasaan. Tidak jauh-jauh dari itu. Negara saling berhadapan karena kepentingan strategis dan perebutan pengaruh.
Dalam kajian hubungan internasional, konflik bersenjata dipahami sebagai bagian dari dinamika kekuasaan global. Para pemikir strategi militer mencoba menjelaskan mengapa perang terjadi serta bagaimana ia dihentikan.
Carl von Clausewitz pernah menyebut perang sebagai kelanjutan politik melalui cara lain, sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa konflik bersenjata selalu terhubung dengan tujuan politik yang ingin dicapai.
Setiap perang membawa perhitungan yang kompleks. Para pengambil keputusan mempertimbangkan kemampuan militer, posisi diplomatik, stabilitas domestik, serta tekanan internasional. Di balik seluruh kalkulasi tersebut terdapat satu kenyataan yang tidak pernah bisa diabaikan, yaitu biaya manusia yang sangat besar.
Setiap konflik selalu menghabisi banyak hal-hal yang semestinya tidak hilang. Nyawa tak berdosa, rumah sakit yang hancur, kota yang luluh lantak, serta masyarakat yang harus hidup dalam trauma berkepanjangan.
Dalam studi hubungan internasional, terdapat pembahasan mengenai biaya perang yang melampaui sekadar kerugian militer atau angka-angka statistika. Negara harus menambah utang politik di dalam negeri, tekanan opini publik, dan gangguan terhadap ekonomi nasional.
Belum lagi kerusakan hubungan diplomatik dengan negara lain. Perang sering dimulai dengan keyakinan kuat bahwa kemenangan dapat diraih dengan cepat. Sejarah menunjukkan bahwa banyak konflik berkembang jauh lebih panjang dari perkiraan awal para pemimpin politik.
Baca juga : Telepon MBS, Prabowo Serukan AS-Israel Vs Iran Hentikan Perang
Di sinilah pertanyaan moral mulai muncul. Perang tidak hanya berbicara mengenai strategi militer atau keseimbangan kekuatan antarnegara. Konflik bersenjata juga menyentuh persoalan etika, kemanusiaan, serta tanggung jawab moral para pemimpin terhadap rakyat yang mereka wakili.
Setiap keputusan yang diambil di ruang kekuasaan akan beresonansi langsung pada kehidupan masyarakat sipil yang berada jauh dari meja perundingan.
Etika Islam dalam Peperangan
Ajaran Islam memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini sejak awal. Al-Qur’an melalui Surah Al-Baqarah ayat 190 sampai 194 memberikan panduan yang jelas mengenai batas dalam peperangan.
Perang hanya dilakukan terhadap pihak yang memerangi, sementara tindakan yang melampaui batas mendapat peringatan keras. Ketika pihak lawan menghentikan permusuhan, peperangan harus dihentikan. Prinsip ini menunjukkan bahwa konflik memiliki batas moral yang harus dijaga.
Sejarah Islam juga menyimpan pelajaran mendalam mengenai pengendalian diri dalam situasi perang. Dalam sebuah kisah yang sangat dikenal, Ali bin Abi Thalib berhadapan dengan seorang lawan dalam duel. Ketika kemenangan hampir diraih, lawan tersebut meludahi wajahnya.
Ali menahan diri serta menurunkan pedangnya. Ia khawatir tindakan yang diambil setelah peristiwa tersebut dipengaruhi oleh emosi labil pribadinya. Keputusan untuk menunda serangan mencerminkan disiplin moral yang sangat tinggi dalam situasi yang paling emosional sekalipun.
Kisah ini dipahami sebagai gambaran mengenai bagaimana perang harus berada dalam kendali nilai moral. Pertempuran tidak boleh berubah menjadi pelampiasan emosi. Prinsip ini menunjukkan bahwa etika memiliki tempat penting dalam tradisi pemikiran Islam mengenai konflik bersenjata.
Sejarah juga mencatat peran bangsa Persia dalam perjalanan peradaban umat. Dalam Surah Muhammad ayat 38 terdapat peringatan bahwa jika suatu kaum berpaling dari ajaran Allah, Allah dapat menggantinya dengan kaum lain yang lebih setia.
Baca juga : Konflik Timteng Memanas, Keselamatan WNI Prioritas
Dalam tafsir, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menunjuk Salman Al-Farisi ketika ayat ini dibicarakan. Banyak ulama melihat peristiwa tersebut sebagai isyarat mengenai peran bangsa Persia dalam perkembangan peradaban pada masa berikutnya.
Dalam konteks Iran modern, dimensi sejarah Persia sering kali bertemu dengan dinamika negara dan militer yang sangat khas. Salah satu institusi yang menonjol dalam struktur keamanan Iran adalah Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC.
Pasukan ini lahir dari Revolusi Islam 1979 dan memiliki posisi strategis dalam menjaga sistem republik serta pertahanan negara. Dalam berbagai konflik kawasan, IRGC sering dipandang melalui lensa geopolitik, keseimbangan kekuatan, dan rivalitas regional.
Namun dalam kerangka etika Islam yang lebih luas, setiap kekuatan militer tetap berada di bawah prinsip moral yang sama. Penggunaan kekuatan harus tunduk pada batas keadilan, perlindungan terhadap kehidupan manusia, serta tujuan akhir berupa terciptanya perdamaian yang bermartabat.
Refleksi ini menjadi relevan ketika dunia menyaksikan berbagai konflik modern yang membawa dampak kemanusiaan yang luas. Teknologi militer meningkatkan daya hancur secara drastis.
Satu keputusan politik dapat memicu eskalasi yang mempengaruhi jutaan kehidupan manusia. Setiap konflik pada akhirnya menempatkan para pemimpin pada pilihan yang sangat berat antara melanjutkan konfrontasi atau membuka jalan menuju penyelesaian damai.
Relevansi Hubungan Internasional
Dalam situasi seperti ini, kebijaksanaan politik memiliki peran yang sangat penting. Para pemimpin dunia dituntut memahami bahwa perang bukan sekadar perhitungan angka kekuatan militer. Konflik bersenjata juga menyangkut pertimbangan moral, nilai kemanusiaan, serta tanggung jawab terhadap generasi yang akan datang.
Islam mengajarkan bahwa perang dapat terjadi dalam perjalanan sejarah manusia. Pada saat yang sama, Islam memberikan batas yang jelas agar konflik tidak berkembang tanpa kendali. Prinsip ini mengingatkan bahwa kekuatan harus diarahkan kepada terciptanya keadilan serta keselamatan kehidupan.
Baca juga : Quraish Shihab Doakan Prabowo: Semoga Dibantu Tuhan Tegakkan Perdamaian
Di tengah dunia yang dipenuhi ketegangan geopolitik, pesan ini menemukan relevansinya. Setiap perang membawa biaya utang yang besar bagi umat manusia, lebih dari tujuan perang itu sendiri.
Maka dari itu, perdamaian selalu menuntut kebijaksanaan yang lebih tinggi untuk menyelesaikan peperangan. Nilai inilah yang sejak awal diajarkan dalam sebagai pedoman moral bagi kehidupan dunia yang lebih berkeadaban di dalam hubungan antar negara.
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ketua Umum Pengurus Pusat MUBALLIGH INDONESIA (BAKOMUBIN).
Visiting Professor Hubungan Internasional Tomsk State Universoty (TSU) RUSIA.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya