Dark/Light Mode

Raih Public Leadership Award, Wamen Fajar Ajak Alumni Untuk Mengabdi

Senin, 3 Agustus 2026 19:23 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menerima Public Leadership Award pada UMS Alumni Award 2026 di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (1/8/2026). Dok. Kemendikdasmen
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menerima Public Leadership Award pada UMS Alumni Award 2026 di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (1/8/2026). Dok. Kemendikdasmen

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menerima Public Leadership Award dalam ajang UMS Alumni Award 2026 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (1/8/2026). Fajar menegaskan penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan kepemimpinan harus bermuara pada pengabdian kepada masyarakat.

Penghargaan diberikan atas rekam jejak, integritas, prestasi, kepemimpinan, serta kontribusi Fajar bagi masyarakat dan bangsa. Namun, bagi Fajar, kembali ke kampus almamater memiliki makna yang lebih mendalam.

Fajar merupakan alumnus Fakultas Agama Islam UMS yang juga menempuh pendidikan di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran. Menurutnya, UMS menjadi tempat yang membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan, keislaman, kemuhammadiyahan, dan Indonesia.

"Saya hadir dengan amanah sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, tetapi sesungguhnya saya sedang pulang—ke tempat yang ikut membentuk cara saya memahami pendidikan, keislaman, kemuhammadiyahan, dan Indonesia," kata Fajar.

Ia mengatakan kampus telah memberinya ruang untuk belajar, berpikir, dan berdialog dengan berbagai gagasan, sementara pendidikan di Shabran mengajarkan bahwa kecerdasan harus memiliki arah nilai.

Menurut Fajar, pendidikan bukan sekadar tentang seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat.

Baca juga : Raih Public Leadership Award, Wamen Fajar: Ilmu Harus Bermuara pada Pengabdian

Ia juga menegaskan penghargaan bukanlah tujuan akhir. Jabatan, gelar, maupun penghargaan memiliki batas waktu, sedangkan manfaat yang diberikan kepada masyarakat akan terus dikenang.

"Jabatan memiliki batas waktu. Penghargaan suatu saat menjadi arsip. Gelar akademik tinggal beberapa huruf di belakang nama. Yang lebih lama tinggal adalah jejak manfaat yang kita tinggalkan pada kehidupan orang lain," ujarnya.

Fajar menilai Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (AI), persaingan talenta global, hingga ketimpangan dan fragmentasi sosial. Karena itu, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial.

"Indonesia membutuhkan orang terdidik yang bersedia mengambil tanggung jawab," katanya.

Menurutnya, alumni perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena dapat menjadi jembatan antara dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus menghubungkan gagasan dengan kebijakan publik.

Hingga Juni 2026, Universitas Muhammadiyah Surakarta telah meluluskan sedikitnya 181.761 mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan. Fajar menilai jumlah tersebut menjadi modal besar untuk memperkuat kontribusi alumni bagi pembangunan bangsa.

Baca juga : Mansur: Harusnya Bukan Sekadar Imbauan, Tapi Larangan

Ia juga menekankan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Sekolah dan guru memang memiliki peran penting, namun keluarga, lingkungan sosial, ruang digital, hingga dunia kerja turut menentukan kualitas pendidikan generasi muda.

"Pendidikan adalah urusan semua orang, karena masa depan bangsa adalah urusan semua orang," ujarnya.

Fajar mengajak alumni UMS mengubah kekuatan jejaring menjadi ekosistem kolaborasi melalui berbagi pengetahuan, pengalaman, kesempatan, dan jejaring untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.

"Tantangan kita adalah mengubah jejaring menjadi ekosistem; mengubah nostalgia menjadi kolaborasi; dan mengubah kebanggaan terhadap almamater menjadi kerja bersama," katanya.

Menurut Fajar, peran alumni akan semakin penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Ia mendorong para alumni berkontribusi sebagai mentor, membuka kesempatan magang, mendekatkan sekolah dengan dunia profesi, berbagi pengetahuan kepada guru, hingga membawa inovasi perguruan tinggi ke tengah masyarakat.

"2045 bukan janji sejarah. Ia adalah hasil dari keputusan yang kita ambil hari ini. Kita harus bergerak dari alumni sebagai jaringan sosial menjadi alumni sebagai kekuatan pembangunan," ujarnya.

Baca juga : Kurniasih Mufidayati: Ini Bagian Dari Ikhtiar Yang Perlu Didukung

Selain Fajar, UMS Alumni Award 2026 juga diberikan kepada sejumlah alumni berprestasi, di antaranya Bupati Karanganyar Rober Christanto dan pegiat pendamping anak dengan HIV di Jawa Tengah, Puger Mulyono.

Rektor UMS Prof. Harun mengatakan para penerima penghargaan menunjukkan kiprah penting alumni dalam berbagai bidang sekaligus menjadi inspirasi bagi perkembangan UMS di masa depan.

Menutup sambutannya, Fajar mengajak seluruh alumni menjadikan manfaat bagi masyarakat sebagai ukuran utama keberhasilan.

"Dari UMS kita bertumbuh. Di tengah masyarakat kita mengabdi. Dan kepada Indonesia, ilmu itu kita kembalikan," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.