Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Surat Haru Messi untuk Sang Ayah: Mengapa Tak Bertahan Sedikit Lebih Lama?
- Persik Bidik Trofi Internasional di Turnamen Pramusim Malaysia
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- Penyaluran KUR BRI Hingga Akhir Juni 2026 Capai Rp103,81 T Dukung Danantara
- Diperiksa KPK, Bebizie Sebut Hanya Jalani Profesi sebagai Penyanyi
Di Ajang WAIC Shanghai, Indonesia Berpeluang Jadi Pusat AI & Teknologi Regional
Kamis, 13 Agustus 2026 17:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan Indonesia perlu memanfaatkan kemitraan strategis dengan Tiongkok, untuk mempercepat pembangunan ekosistem kecerdasan artifisial, infrastruktur komputasi dan talenta digital nasional.
Senior Advisor on Global Technology Cooperation Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian James Karnadi mengatakan, Indonesia harus mengarahkan kerja sama teknologi menuju pembangunan kapasitas nasional, bukan sebatas menjadi pasar bagi produk dan platform digital global.
Hal itu dikemukakannya, setelah mengikuti pertemuan bilateral Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao di Shanghai, Jumat (17/7/2026).
Pertemuan yang berlangsung di sela-sela World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 itu membahas penguatan perdagangan dan investasi, ekonomi digital, kerja sama industri, serta pembangunan rantai pasok yang andal antara Indonesia dan Tiongkok.
“Indonesia memiliki pasar digital, sumber daya dan generasi muda dalam skala yang sangat besar. Tahap berikutnya, memastikan Indonesia juga memiliki kapasitas komputasi, pusat riset, talenta dan industri yang mampu menciptakan teknologi,” ujar James, dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).
Ia menilai, terdapat sejumlah bidang yang dapat menjadi prioritas kerja sama teknologi Indonesia–Tiongkok, antara lain pengembangan infrastruktur AI dan cloud computing, pusat data berkelanjutan, keamanan siber, semikonduktor, digitalisasi industri, serta pendidikan dan pelatihan talenta teknologi.
Baca juga : Menag: Indonesia Berpeluang Besar Jadi Episentrum Peradaban Dunia Islam
Kerja sama tersebut, lanjutnya, harus menghasilkan transfer pengetahuan, kegiatan riset dan pengembangan di Indonesia, serta keterlibatan perusahaan dan tenaga ahli nasional dalam rantai nilai teknologi global.
“Investasi teknologi harus diukur bukan hanya dari nilai modal yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar pengetahuan yang berpindah, talenta yang dibangun, dan kemampuan nasional yang tercapai," ujarnya.
Ia juga mendorong agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi pusat data, tetapi berkembang sebagai pusat pengembangan model AI, aplikasi industri, keamanan digital, dan inovasi teknologi untuk pasar ASEAN.
James berpandangan, perkembangan AI telah mengubah teknologi menjadi bagian penting dari diplomasi ekonomi dan ketahanan nasional.
“Negara yang menguasai data, kapasitas komputasi, talenta dan infrastruktur digital akan memiliki posisi yang semakin menentukan dalam ekonomi dunia,” ujarnya.
Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum teknologi internasional perlu dijalankan secara terbuka, pragmatis dan tetap berlandaskan politik luar negeri bebas aktif.
Baca juga : CORE Dorong Indonesia Jadi Pusat Hilirisasi Sawit Global
“Indonesia tidak harus memilih satu blok teknologi. Kita harus mampu bekerja sama dengan berbagai mitra, sekaligus membangun standar, kapasitas dan kedaulatan teknologi kita sendiri,” katanya.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, turut membahas program Two Countries, Twin Parks, kerja sama ekonomi digital dan penguatan rantai pasok industri.
James melihat, kerangka tersebut dapat diperluas untuk menghubungkan kawasan industri Indonesia dengan ekosistem teknologi, manufaktur cerdas dan pusat inovasi di Tiongkok.
Menurutnya, kawasan industri masa depan tidak cukup hanya menawarkan lahan dan insentif. Bahkan, kawasan tersebut juga harus dilengkapi dengan konektivitas digital, energi hijau, pusat komputasi, laboratorium riset dan ketersediaan tenaga kerja berkeahlian tinggi.
Saat ini, Tiongkok merupakan salah satu mitra ekonomi terbesar Indonesia. Pada 2025, perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar 167,48 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, investasi dari Tiongkok dan Hong Kong di Indonesia tercatat sekitar 18 miliar dolar AS pada periode yang sama.
Baca juga : RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia Melaju ke Paripurna DPR
Ia menilai, besarnya hubungan ekonomi tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk mendorong kemitraan teknologi yang lebih strategis dan berimbang.
Melalui diplomasi teknologi dan kemitraan global yang terarah, Indonesia diharapkan dapat mempercepat transformasi industri sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi digital dan AI di kawasan.
“Target kita harus lebih besar daripada adopsi teknologi. Indonesia harus ikut merancang, mengembangkan dan memproduksi teknologi yang akan menentukan ekonomi masa depan,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya