Dark/Light Mode

Indonesia Jadi Tuan Rumah Forum Regional Lawan Dengue ASEAN

Selasa, 10 Februari 2026 14:32 WIB
Forum Regional: Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di ASEAN. (Foto: Istimewa)
Forum Regional: Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di ASEAN. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia menjadi tuan rumah Forum Regional: Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Kawasan Negara-negara ASEAN/Asia Tenggara, di Jakarta pada 9–10 Februari 2026.

Forum ini diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bekerja sama dengan Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue. Sekitar 150 peserta dan panelis hadir, terdiri atas pembuat kebijakan, otoritas kesehatan, organisasi regional dan global, komunitas ilmiah, serta mitra pembangunan dari negara-negara ASEAN, termasuk perwakilan 10 dari 11 negara anggota ASEAN.

Forum Regional ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas negara, lintas sektor, dan lintas pemangku kepentingan. Selain itu, forum ini mendorong penyelarasan kebijakan serta adopsi strategi pencegahan dan pengendalian dengue yang lebih komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Dengue masih menjadi salah satu tantangan kesehatan publik paling serius secara global maupun regional. Antara Januari hingga Maret 2025, lebih dari 1,4 juta kasus dengue dan lebih dari 400 kematian dilaporkan di 53 negara dan teritori dalam wilayah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Secara global, lebih dari 3,9 miliar orang berisiko terinfeksi dengue, dengan estimasi sekitar 390 juta infeksi setiap tahun, di mana sekitar 96 juta kasus bersifat klinis.

WHO mencatat dengue kini menjadi salah satu penyakit tular vektor dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan kawasan Asia Pasifik sebagai kontributor kasus terbesar. Di kawasan ASEAN, dengue telah lama diakui sebagai episentrum global penularan, dengan banyak negara menghadapi wabah siklikal dan kondisi endemis berkelanjutan.

Baca juga : Indonesia Bidik Tuan Rumah Piala Dunia Futsal 2028

Data European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) menunjukkan, hampir 400.000 kasus dengue dilaporkan di Asia Tenggara sejak awal 2025 hingga Oktober–November 2025. Vietnam mencatat jumlah kasus tertinggi, diikuti Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, dan Singapura. Penularan dengue di ASEAN bersifat lintas negara, dipengaruhi kesamaan kondisi ekologis, mobilitas lintas batas, konektivitas perkotaan, serta variabilitas iklim, sehingga menegaskan pentingnya respons regional terkoordinasi.

Selain berdampak pada kesehatan, dengue juga menimbulkan konsekuensi sosial-ekonomi signifikan. Di Indonesia, klaim layanan kesehatan terkait dengue mendekati Rp 3 triliun pada 2024, dengan estimasi total kerugian ekonomi hampir Rp 15 triliun per tahun. Kontribusi dengue terhadap beban penyakit mencapai sekitar 0,71 persen dari total disability-adjusted life years (DALYs).

Pada 2024, Indonesia mencatat 257.271 kasus dengue dengan lebih dari 1.400 kematian. Data pembiayaan kesehatan nasional menunjukkan lebih dari satu juta kasus terkait dengue ditanggung sistem jaminan kesehatan pada tahun yang sama. Kemenkes RI mencatat Indonesia menyumbang sekitar 66 persen dari total kematian akibat dengue di Asia dan menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di kawasan. Hingga Desember 2025, tercatat 161.752 kasus dengan 673 kematian.

Membuka forum, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Prof. Asnawi Abdullah, menekankan pentingnya kekompakan negara-negara ASEAN dalam melawan dengue yang mudah menyebar lintas batas.

“Nyamuk itu tidak butuh paspor untuk pindah-pindah negara, jadi kita di ASEAN harus kompak melawannya. Kita memang tidak bisa mengatur cuaca atau menghentikan El Niño, tapi kita bisa melindungi warga dengan cara-cara yang lebih cerdas, seperti menggunakan teknologi nyamuk Wolbachia dan memperluas vaksinasi,” terang Asnawi.

Baca juga : Menteri Ara Puji BRI, Penyaluran Rumah Subsidi Melonjak 100 Persen

Ia menambahkan, penurunan angka kasus dengue hingga 57 per 100.000 penduduk pada 2025 merupakan hasil pergeseran strategi yang lebih proaktif dan adaptif terhadap perubahan iklim.

“Penurunan angka kasus dengue hingga ke angka 57 per 100.000 penduduk pada tahun 2025 bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil nyata dari pergeseran strategi kita yang lebih proaktif dan adaptif terhadap perubahan iklim, terutama melalui perluasan teknologi Wolbachia dan penguatan cakupan vaksinasi,” tandasnya.

Ketua KOBAR Lawan Dengue, dr. Suir Syam, menegaskan pengendalian dengue harus bertumpu pada pencegahan dini. “Pengendalian dengue harus bertumpu pada pencegahan dini sebagai fondasi utama, dimulai dari tingkat rumah tangga, diperkuat di komunitas, dan didukung kolaborasi lintas sektor yang konsisten. Tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Nihayatul Wafiroh, menilai dengue bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga persoalan ketahanan kesehatan dan perlindungan sosial. “Oleh karena itu, kebijakan pengendalian dengue harus dilaksanakan secara komprehensif, terintegrasi, dan saling melengkapi, serta terus diperkuat melalui berbagai inovasi, termasuk upaya pencegahan seperti vaksinasi dan pengendalian vektor melalui Wolbachia, guna mempercepat pencapaian target Zero Dengue Deaths 2030,” ujarnya.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, drg. Murti Utami, menambahkan pengendalian dengue menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesehatan tangguh menuju visi Indonesia Emas 2045. “Pengendalian dengue bukan hanya upaya mengatasi satu penyakit, tetapi bagian dari penguatan sistem kesehatan yang menempatkan pencegahan, deteksi dini, dan layanan berbasis komunitas sebagai prioritas,” jelasnya.

Baca juga : Kejagung Ungkap Riza Chalid Ada di Salah Satu Negara ASEAN

Pemerintah tengah memperbarui Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 dengan empat strategi utama, yakni penguatan deteksi dan diagnosis dini, peningkatan tata laksana klinis dan sistem rujukan, penguatan pencegahan melalui pengendalian vektor dan inovasi seperti Wolbachia serta vaksinasi, serta komunikasi risiko dan surveilans terintegrasi.

Forum ini menegaskan pencapaian Zero Dengue Deaths 2030 hanya dapat diwujudkan melalui kepemimpinan kolaboratif, inovasi berbasis sains, serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan. Forum ini didukung Takeda dan World Mosquito Program (WMP) sebagai mitra penyelenggara dalam mendorong pendekatan pencegahan dengue yang komprehensif dan berkelanjutan.

Melalui forum ini, Indonesia bersama negara-negara ASEAN dan mitra global menegaskan komitmen untuk bergerak dari pendekatan reaktif menuju strategi yang lebih prediktif, preventif, dan terkoordinasi guna melindungi masyarakat kawasan dari ancaman dengue yang terus berkembang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.