Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Surat Haru Messi untuk Sang Ayah: Mengapa Tak Bertahan Sedikit Lebih Lama?
- Persik Bidik Trofi Internasional di Turnamen Pramusim Malaysia
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- Penyaluran KUR BRI Hingga Akhir Juni 2026 Capai Rp103,81 T Dukung Danantara
- Diperiksa KPK, Bebizie Sebut Hanya Jalani Profesi sebagai Penyanyi
Presiden Luncurkan MoLiNas, Menperin: Jadi Momentum Kemandirian Industri
Kamis, 13 Agustus 2026 23:27 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Motor Listrik Nasional (MoLiNas) beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026), sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat industri kendaraan listrik nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, peluncuran MoLiNas menjadi momentum penting untuk memperkuat kemampuan industri dalam menguasai teknologi, memperdalam struktur industri, dan meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri.
“MoLiNas harus kita jadikan sebagai momentum untuk membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang semakin kuat dari hulu sampai hilir,” kata Agus.
Ia menegaskan, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi harus mampu menjadi basis produksi dan pengembangan teknologi kendaraan listrik yang berdaya saing global.
Menurut Agus, pengembangan MoLiNas sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat kemandirian bangsa melalui penguasaan sains, teknologi, dan kemampuan industri nasional.
Pengembangan tersebut juga melibatkan pemerintah, BUMN, swasta, lembaga riset, akademisi, dan sektor keuangan sebagai bagian dari semangat Indonesia Incorporated untuk membangun kemampuan industri dan ekonomi nasional secara bersama-sama.
Dalam kegiatan tersebut, Presiden Prabowo meninjau proses produksi motor listrik di fasilitas ALVA serta stan ekosistem kendaraan listrik. Presiden juga menandatangani plakat produksi ALVA sebanyak 20 ribu unit.
Presiden mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam pengembangan MoLiNas, mulai dari perusahaan swasta, pelaku usaha, BUMN, hingga dunia akademis yang berperan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan.
Baca juga : Prabowo Luncurkan MoLiNas, PT Len Siap Perkuat Ekosistem Motor Listrik
“Hari ini adalah hari yang sangat penting. Di sini saya ingin ucapkan terima kasih saya, penghargaan saya kepada semua unsur,” ujar Prabowo.
Presiden mengatakan kolaborasi tersebut merupakan salah satu contoh penerapan konsep Indonesia Incorporated. Menurut dia, keberhasilan suatu bangsa pada era modern sangat ditentukan oleh kemampuan menguasai sains dan teknologi serta memanfaatkannya untuk mendukung kemajuan nasional.
Agus mengatakan, Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun industri kendaraan listrik yang terintegrasi. Saat ini terdapat 69 perusahaan industri KBLBB roda dua dan roda tiga dengan kapasitas produksi mencapai 2,511 juta unit per tahun dan nilai investasi sekitar Rp 1,2 triliun.
Selain itu, terdapat 14 perusahaan kendaraan roda empat listrik dengan kapasitas produksi 409.860 unit per tahun serta 10 perusahaan kendaraan komersial listrik dengan kapasitas 7.500 unit per tahun.
Secara keseluruhan, nilai investasi industri perakitan kendaraan listrik nasional telah mencapai sekitar Rp 30,468 triliun. “Besarnya kapasitas produksi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki fondasi manufaktur yang sangat memadai,” kata Agus.
Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan pasar secara berkelanjutan, meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, serta memperdalam struktur industri melalui penggunaan komponen buatan dalam negeri.
Berdasarkan data yang diolah Kementerian Perindustrian, populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 468.231 unit hingga sekitar April 2026. Kendaraan listrik roda dua menjadi kelompok terbesar dengan 242.909 unit, disusul kendaraan roda empat penumpang sebanyak 223.100 unit.
Populasi KBLBB nasional mencatat pertumbuhan dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) lebih dari 150 persen sepanjang 2020–2025, dengan kendaraan roda dua dan roda empat menjadi penggerak utama.
Baca juga : Prabowo Bicara Carbon Tax: Ini Warning Buat Pengguna Motor Bensin
Agus menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya penerimaan masyarakat terhadap kendaraan listrik. Namun, peningkatan permintaan harus diikuti penguatan kapasitas produksi dan rantai pasok domestik.
“Kita ingin setiap peningkatan penggunaan kendaraan listrik memberikan multiplier effect sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, semakin banyak kendaraan listrik digunakan masyarakat, semakin besar pula peluang peningkatan produksi komponen di dalam negeri, investasi, penguasaan teknologi, dan aktivitas industri nasional.
Dari sisi pasar, penjualan sepeda motor listrik meningkat dari 17.198 unit pada 2022 menjadi 62.409 unit pada 2023 dan 77.078 unit pada 2024. Pada 2025, penjualan tercatat 55.059 unit.
Program bantuan pembelian KBLBB roda dua pada 2023 dan 2024 melibatkan 22 industri dan 70 tipe atau model kendaraan. Penyaluran bantuan mencapai 11.532 unit pada 2023 dan meningkat menjadi 62.541 unit pada 2024 atau naik sekitar 442 persen.
Secara kumulatif, sebanyak 74.073 unit sepeda motor listrik telah mendapatkan bantuan pembelian melalui program tersebut.
Agus mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan stimulus pasar memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan industri kendaraan listrik roda dua. Karena itu, kebijakan dari sisi permintaan dan penawaran perlu berjalan beriringan agar industri memperoleh kepastian pasar sekaligus terdorong meningkatkan investasi dan pendalaman struktur industri.
Kemenperin juga terus mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk memastikan transformasi kendaraan listrik memberikan manfaat optimal bagi industri nasional.
Baca juga : Prabowo Janjikan Insentif Molis: Menkeu Tak Suka, Tapi Ujungnya Akan Suka
Per 22 Juli 2026, terdapat 48 perusahaan dengan total 213 produk KBLBB yang telah memiliki sertifikat TKDN. Khusus KBLBB roda dua dan roda tiga, terdapat 31 perusahaan dengan 98 produk yang telah tersertifikasi TKDN.
Nilai TKDN kendaraan listrik roda dua dan roda tiga berada pada rentang 27,00–74,27 persen dengan rata-rata 47,5 persen. Sementara itu, nilai TKDN tertinggi untuk KBLBB roda empat telah mencapai 80,01 persen.
Pemerintah menetapkan target minimum TKDN KBLBB sebesar 40 persen hingga 2026, kemudian meningkat menjadi minimum 60 persen pada 2027–2029 dan minimum 80 persen mulai 2030.
Agus mengatakan pengembangan MoLiNas membutuhkan sinergi kebijakan, mulai dari penciptaan permintaan, dukungan keterjangkauan konsumen, peningkatan kapasitas industri, pembangunan infrastruktur, hingga penyediaan skema pembiayaan.
“Kemandirian industri tidak dibangun dalam satu malam. Kita harus mengerjakannya secara konsisten mulai dari penciptaan pasar, penguatan industri komponen, penguasaan teknologi, pembangunan SDM, hingga kegiatan R&D,” katanya.
Menurut Agus, pengembangan kendaraan listrik juga memiliki dimensi strategis dalam mendukung ketahanan energi dan agenda dekarbonisasi. Semakin luas penggunaan kendaraan listrik yang ditopang produksi dan komponen domestik, semakin besar potensi pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
“Peluncuran MoLiNas menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk bergerak dari sekadar pengguna teknologi menjadi bangsa yang mampu mengembangkan dan memproduksi teknologi sendiri,” ujar Agus.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya