Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
MBG di Perbatasan Sanggau Tekan Angka Bolos, UMKM Lokal Ikut Bergerak
Jumat, 28 Agustus 2026 18:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak positif di kawasan perbatasan Sanggau, Kalimantan Barat.
Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi siswa, program ini dinilai turut meningkatkan kehadiran siswa di sekolah sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat dan pelaku UMKM lokal.
Kepala SMP Negeri 1 Sanggau, Syafarani, menceritakan antusiasme siswa ketika program MBG mulai disalurkan di sekolahnya pada akhir Mei 2026.
“Ketika pertama kali mobil BGN itu naik ke halaman tengah kita, anak-anak itu pada bertepuk tangan semua. Mereka itu gembira baru melihatnya,” tutur Syafarani.
Menurutnya, kehadiran program MBG berkorelasi dengan meningkatnya antusiasme siswa untuk datang ke sekolah. Dia mencatat, jumlah siswa yang tidak masuk sekolah tanpa keterangan juga cenderung menurun.
“Antusiasnya (siswa) untuk datang ke sekolah itu nampaknya lebih aktif. Kalau kemarin mungkin dalam satu kelas itu ada satu dua lah yang bolos, tapi akhir-akhir ini intensitas kehadiran anak itu cukup baik,” tambahnya.
Dampak tersebut juga dirasakan langsung oleh siswi kelas 9 SMP Negeri 1 Entikong, Sanggau, Franciela Sherli.
Menurut Sherli, keberadaan makanan di sekolah membuatnya lebih bersemangat untuk mengikuti kegiatan belajar.
Baca juga : Ribuan Pengunjung Padati Hari Pertama Danantara Housing Expo
“Kalau udah dapat MBG tuh absen saya bersih semua, enggak ada alpa. Semenjak ada MBG kayak semangat gitu. Kadang kalau malas mau ke sekolah, baru ingat ada MBG, langsung semangat lagi,” kisah Sherli.
Selain memberi manfaat bagi siswa, program MBG juga dirasakan oleh orang tua dan pelaku usaha di sekitar sekolah.
Dewi Anggreni, salah satu perwakilan orang tua siswa, menilai program tersebut membantu meringankan beban orang tua dalam memenuhi kebutuhan makan anak selama berada di sekolah.
Di tengah kesibukannya bekerja, Dewi mengaku tidak lagi terlalu khawatir ketika sesekali lupa menyiapkan bekal atau uang jajan untuk putrinya.
“Program ini sebenarnya sangat membantu karena dinilai sangat efektif untuk mendukung tumbuh kembang anak dan meningkatkan motivasi belajar,” ungkap Dewi.
Menurut Dewi, dampak MBG juga terasa terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Kebutuhan bahan pangan untuk program tersebut dinilai dapat memberikan manfaat bagi pelaku UMKM, petani, dan peternak lokal.
“Untuk menggerakkan ekonomi masyarakat melalui UMKM lokal sangat terbantu. Petani yang menanam sayur, peternak, semua bisa dibantu oleh MBG ini,” tuturnya.
Bagi siswa, tersedianya makanan di sekolah juga membuat pengeluaran uang jajan menjadi lebih hemat. Sherli mengatakan, sebelum ada MBG, uang jajannya kerap habis untuk membeli makanan.
Baca juga : 455 SPPG Ditutup Permanen, Zulhas Perketat Pengawasan Tata Kelola MBG
“Semenjak ada MBG ini, jajan pun kadang ngeluarinnya sedikit, paling beli air aja. Sisanya ditabung. Jadi bersyukur sekali sudah ada program MBG ini,” jelasnya.
Meski mendapat respons positif, pelaksanaan program MBG tetap membutuhkan evaluasi.
Salah satu tantangan yang muncul di lapangan adalah menyesuaikan cita rasa makanan dengan selera anak-anak Sanggau yang terbiasa dengan masakan rumah bercita rasa kuat.
Dewi memahami bahwa menu MBG harus mengikuti komposisi yang telah ditetapkan ahli gizi. Namun, dia berharap cita rasa makanan tetap dapat disesuaikan dengan selera siswa tanpa mengurangi standar kesehatan dan gizi.
“Makanan sehat itu tidak perlu tajam aromanya. Cuma karena anak-anak sudah kebiasaan yang tajam-tajam, kita harap ke depannya ahli gizi bisa memikirkan bagaimana komposisinya tetap standar sehat, tetapi rasanya pas untuk anak,” sarannya.
Untuk memastikan makanan tidak terbuang dan siswa dapat menyampaikan pendapat, pihak sekolah menyediakan ruang aspirasi. Syafarani mengatakan, sekolah menyiapkan kotak saran yang dapat digunakan siswa secara anonim.
“Kita siapkan kotak saran, silakan anak-anak itu memberikan saran masukan, tidak usah ditulis nama. Ini secara periodik dalam waktu satu minggu kita buka untuk melihat mana yang kira-kira sesuai dengan selera, namun tetap berkoordinasi dengan tim UKS dan Puskesmas,” terangnya.
Sherli juga merasa masukan siswa mendapat perhatian dari pihak sekolah. Jika terdapat menu yang dianggap kurang sesuai, siswa dapat menyampaikannya kepada guru untuk menjadi bahan evaluasi.
Baca juga : Pertamina Kembali Hadirkan UMK Academy, Dorong Pelaku Usaha Lokal Naik Kelas
“Kadang kalau dapat yang makanannya kurang penyedap atau keasinan, nanti dikasih tahu ke guru. Nah, nanti biar besoknya tuh udah nggak gitu lagi,” ujarnya.
Terlepas dari evaluasi terhadap menu, masyarakat penerima manfaat menilai program MBG memberikan manfaat yang lebih luas.
Program tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan makanan siswa, tetapi juga diharapkan berkontribusi dalam mencegah masalah kurang gizi dan stunting sejak dini.
Sherli berharap, program MBG dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.
“Harapan saya, program MBG ini ingin kayak menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak generasi penerus yang sehat, cerdas, dan bebas stunting,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya