Dark/Light Mode

Kemenperin Butuh Rp 452 M Untuk Cetak Wirausaha Industri Baru

Rabu, 2 September 2026 15:08 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan pemapran pada Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8/2026). (Foto: Kemenperin)
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan pemapran pada Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8/2026). (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 452,50 miliar pada 2027 untuk mendukung program penumbuhan wirausaha industri baru sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur dan daya saing industri nasional.

Usulan tersebut menjadi salah satu komponen terbesar dalam tambahan anggaran senilai Rp 1,72 triliun yang diajukan Kemenperin guna memperkuat pelaksanaan sejumlah program prioritas pembangunan industri pada 2027.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan industri nasional memerlukan dukungan kebijakan dan pembiayaan yang memadai, terutama untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor manufaktur sekaligus meningkatkan produktivitas dan nilai tambah di dalam negeri.

“Industri manufaktur menunjukkan kinerja yang positif dan tetap menjadi salah satu motor utama perekonomian nasional. Karena itu, momentum ini harus terus kita jaga melalui kebijakan dan program yang mampu memperkuat struktur industri, meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menciptakan nilai tambah yang semakin tinggi di dalam negeri,” kata Agus dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Baca juga : Kemenperin Tancap Gas Pacu Industri Manufaktur

Kemenperin pada 2027 memperoleh pagu anggaran sebesar Rp 2,01 triliun atau turun Rp 488,16 miliar dibandingkan pagu awal 2026 sebesar Rp 2,50 triliun. Kondisi tersebut membuat ruang anggaran untuk belanja nonoperasional dan pelaksanaan program prioritas semakin terbatas.

Menurut Agus, kondisi anggaran tersebut perlu menjadi perhatian karena kebutuhan belanja operasional dasar, termasuk belanja pegawai dan pelaksanaan tugas serta fungsi kementerian, terus meningkat. Sementara itu, belanja nonoperasional memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan program prioritas dan pencapaian sasaran pembangunan nasional.

“Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama karena porsi belanja operasional dasar, khususnya belanja pegawai dan kebutuhan operasional pelaksanaan tugas dan fungsi, cenderung meningkat,” ujar Agus.

Karena itu, Kemenperin mengajukan tambahan anggaran Rp 1,72 triliun yang akan digunakan untuk memperkuat sejumlah program strategis. Selain penumbuhan wirausaha industri baru, tambahan anggaran juga diusulkan untuk pendidikan dan pelatihan vokasi sektor industri prioritas sebesar Rp 207,90 miliar serta restrukturisasi mesin dan peralatan bagi sektor industri padat karya dan IKM sebesar Rp 174,50 miliar.

Baca juga : Industri Pengolahan Masih Tumbuh, IKI Agustus Capai 52,30

Tambahan anggaran juga direncanakan untuk mendukung hilirisasi dan industrialisasi, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera, pengadaan alat uji penerapan SNI wajib, serta penguatan fasilitas dan sentra industri kecil dan menengah (IKM).

Sebelumnya, Kemenperin telah menetapkan pembangunan SDM industri dan penguatan IKM sebagai bagian dari delapan program utama pada 2027. Dalam pagu anggaran yang tersedia, pembangunan SDM industri mendapat alokasi Rp 106,94 miliar, sedangkan penguatan IKM sebagai rantai pasok memperoleh Rp 59,96 miliar.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung pendidikan dan pelatihan industri, penyediaan sarana dan prasarana kompetensi, penumbuhan wirausaha baru IKM, fasilitasi pemberdayaan IKM, serta penguatan sentra-sentra IKM di berbagai daerah.

Kemenperin menilai penguatan basis pelaku usaha industri menjadi penting di tengah agenda pemerintah mendorong hilirisasi, pengembangan industri bernilai tambah tinggi, peningkatan daya saing industri padat karya, transformasi industri hijau, serta perluasan pasar ekspor.

Baca juga : Kemenperin Pacu Industri Tekstil Indonesia Menang Di Pasar Global

Pada saat yang sama, kinerja industri pengolahan nonmigas menunjukkan pertumbuhan positif. Pada triwulan II-2026, sektor tersebut tumbuh 5,32 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Industri pengolahan nonmigas juga menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi perekonomian nasional dengan kontribusi 0,97 poin persentase. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto nasional mencapai 16,83 persen atau senilai Rp 1.102,88 triliun.

Agus berharap dukungan terhadap rencana kerja dan anggaran Kemenperin 2027 dapat memperkuat pelaksanaan program prioritas industri. Dengan pembiayaan yang memadai, peningkatan produktivitas, daya saing, nilai tambah, serta penguatan struktur industri diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.