Dark/Light Mode

Kebijakan Strategis Pemerintah Topang Kenaikan PMI Manufaktur

Senin, 3 Agustus 2026 21:09 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Ist)
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut sejumlah kebijakan strategis pemerintah, seperti kepastian Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dan relaksasi bea masuk bahan baku plastik, menjadi faktor yang menopang pemulihan sektor manufaktur nasional hingga kembali memasuki zona ekspansi pada Juli 2026.

Berdasarkan data S&P Global, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2, naik signifikan dibandingkan 46,9 pada Juni 2026. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada pada fase ekspansi.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, kenaikan PMI sebesar 3,3 poin tersebut mencerminkan pulihnya aktivitas industri nasional yang ditopang peningkatan produksi, stabilnya pesanan baru, serta kembali bertambahnya penyerapan tenaga kerja.

"Kami menyambut baik kembalinya PMI Manufaktur Indonesia ke level ekspansif 50,2 pada Juli 2026. Kenaikan 3,3 poin dari bulan Juni ini mengonfirmasi bahwa roda produksi industri pengolahan kembali bergerak cepat," kata Febri dalam keterangan di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Baca juga : Kemenperin Perkuat Ekosistem Industri Gaya Hidup Aktif Dan Sehat

Menurut dia, peningkatan output produksi terjadi untuk pertama kalinya sejak Februari 2026. Di sisi lain, permintaan baru mulai stabil seiring meningkatnya kepercayaan pelanggan dan dimulainya berbagai proyek baru, sehingga mendorong perusahaan kembali merekrut tenaga kerja setelah empat bulan sebelumnya mengalami penurunan.

Survei S&P Global juga menunjukkan optimisme pelaku industri untuk 12 bulan ke depan mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Pada saat yang sama, laju kenaikan harga bahan baku melambat ke titik terendah dalam empat bulan.

Febri menilai tren pemulihan tersebut semakin kuat berkat implementasi dua kebijakan strategis pemerintah yang mampu menciptakan kepastian iklim usaha sekaligus menekan biaya produksi industri.

Kebijakan pertama adalah kepastian pelaksanaan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), yang dinilai mampu menjaga daya saing industri pengguna gas bumi seperti pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, sarung tangan karet, dan oleokimia.

Baca juga : PMI Manufaktur Juli Kembali Ekspansi, Kadin Minta Tren Positif Dijaga

"Kebijakan ini memberikan dampak yang sangat positif bagi industri pengguna gas bumi. Kepastian pasokan dan harga energi yang terjangkau berhasil menjaga daya saing sektor industri manufaktur," ujarnya.

Kebijakan kedua adalah pemberlakuan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai relaksasi atau pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik. Kemenperin mengapresiasi langkah tersebut karena dinilai mampu mengurangi tekanan biaya produksi di berbagai sektor.

Menurut Febri, kebijakan itu menjadi angin segar bagi industri kemasan, makanan dan minuman, otomotif, hingga elektronika yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi kenaikan biaya bahan baku akibat gejolak nilai tukar dan gangguan pasokan global.

"Kombinasi antara kepastian HGBT dan berlakunya PMK relaksasi bea masuk bahan baku plastik merupakan bukti nyata kehadiran pemerintah dalam menjaga struktur biaya industri tetap efisien. Langkah konkret ini terbukti langsung meredam tekanan biaya input yang melambat ke level terendah dalam empat bulan terakhir, sekaligus memacu optimisme pelaku industri," kata Febri.

Baca juga : Manufaktur RI Kembali Ekspansif, IKI Juli 2026 Naik Ke Level 53,10

Meski demikian, Kemenperin mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk tetap mewaspadai dinamika rantai pasok global dan fluktuasi nilai tukar yang masih berpotensi memengaruhi kinerja industri manufaktur.

Kementerian juga berkomitmen menjaga ketersediaan bahan baku, keterjangkauan energi, serta perlindungan pasar domestik agar tren pemulihan sektor manufaktur dapat terus berlanjut pada semester II-2026.

Secara regional, capaian PMI Indonesia menempatkan industri manufaktur nasional kembali berada di jalur ekspansi bersama sejumlah negara di kawasan. Pada Juli 2026, Indonesia mencatat PMI sebesar 50,2, setara dengan Malaysia, sementara Filipina berada di level 51,8 dan Vietnam 52,9. Sementara itu, Myanmar masih berada di zona kontraksi dengan PMI 49,3.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.