Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Abdul Mu’ti: Prinsip Ekonomi Syariah Adalah Distribusi Kekayaan
Jumat, 25 September 2026 14:07 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ekonomi syariah kini menjadi tren menarik yang terus meningkat. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengembangkan ekonomi syariah inklusi dengan menjadikan kesalehan spiritual sebagai sumber motivasi meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
Pandangan demikian disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di hadapan peserta Ajang Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026, yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Plaza Insan Berpretasi, Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Hadir dalam kesempatan itu Menteri Koperasi yang juga Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Ferry Juliantoro, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (KE PEPK) OJK Dicky Kartikoyono, jajaran Eselon 1 Kemendikdasmen, dan OJK.
Menurut Mu’ti, fenomena menarik umat Islam Indonesia adalah semakin kaya semakin soleh. Ukurannya mudah bisa dilihat dari makin banyaknya orang pergi umrah dan panjangnya antrean haji. Itulah kekuatan ekonomi bangsa Indonesia ditopang ekonomi syariah yang berbasis dari ketaatan beragama.
Baca juga : OJK Ingatkan 15 Bank Jangan Perang Bunga
Mu'ti lalu mengutip survei World Charity Index, negara yang paling dermawan sedunia adalah Indonesia. "Di antara penyumbang ekonomi Indonesia adalah ketaatan membayar zakat, infak, dan sedekah. Itulah orang Indonesia, makin kaya makin soleh," ucapnya, seperti keterangan yang diterima redaksi, Jumat (25/9/2026).
Potensi zakat Indonesia sangat tinggi bisa seperempat APBN, tetapi potensi itu belum menjadi aktual. Hal itu tidak berarti umat Islam tidak berinfak dan tidak bersedekah, tetapi penyalurannya tidak melalui lembaga-lembaga yang resmi. Karena masih banyak orang yang merasa memberikan sedekah langsung itu lebih nyaman,
Ia jelaskan, aspek inklusi syariah di Indonesia makin kuat dengan dibolehkannya kelebihan pembayaran pajak bisa dari kewajiban agama yaitu dari zakat, infak, dan sedekah. “Kalau ingin pajaknya tidak banyak-banyak, zakatnya diperbanyak,” katanya.
Mu’ti mencontohkan, ketika musibah banjir di Aceh, sebagian sekolah dibangun dari ZIS karyawan di Kemendikdasmen, yang jumlahnya hampir Rp 1 miliar. Bukan dari uang Kementerian,
Baca juga : Pendidikan Gratis Dimulai TK, Pemerintah Siapkan BOS Dan PIP
“Ini contoh bagaimana ekonomi syariah itu tidak sekadar pinjam-meminjam, tidak sekadar menabung atau pinjam. Gerakan ekonomi syariah kita gunakan untuk memberi beasiswa, kita gunakan untuk menggaji guru. Itu ekonomi syariah yang versi baru” tuturnya.
Di acara yang sama, Menteri Koperasi Ferry Juliantoro melihat masih ada kesenjangan antara pemahaman dan pemanfaatan syariah. Tingkat literasi keuangan syariah sekarang sudah mencapai 43 persen, tetapi tingkat inklusinya baru 13,24 persen. Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara pemahaman masyarakat dan juga pemanfaatan syariah.
Ajang Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026 mencatatkan lonjakan partisipasi yang signifikan dari generasi muda. Pada gelaran ISFO 2026, total peserta tercatat mencapai 11.952 orang, tumbuh sebesar 15,3 persen dari tahun 2025 yang berada di angka 10.367 peserta.
Kepala Eksekutif PEPK OJK Dicky Kartikoyono mengungkapkan, antusiasme tinggi peserta ISFO mencerminkan makin kuatnya literasi serta inklusi keuangan syariah di kalangan pelajar, mahasiswa, hingga wirausaha muda di seluruh Indonesia.
Baca juga : Mendikdasmen: Hadiah OSN Dipertahankan, Talenta Sains Diperkuat
"Bagi saya, bagi OJK, ini bukan sekadar angka, tapi lebih menunjukkan betapa sebenarnya animo dari adik-adik sekalian untuk belajar, menguji kemampuan, ikut terlibat, kemudian yang pasti adalah ikut terus melakukan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan keuangan syariah," ujar Dicky.
Di akhir sambutannya, Abdul Mu’ti menekankan agar lingkup ekonomi syariah itu jangan dibatasi hanya urusan simpan pinjam. "Tetapi how our money can work, bagaimana uang kita itu bisa bekerja. Karena prinsip ekonomi syariah itu bukan accumulation of wealth, bukan kekayaan yang terhimpun pada sekelompok kecil orang, tapi distribution of wealth," ucapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya