Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Garap 20 Film Kepahlawanan, Kemenbud Ingin Sejarah Makin Mudah Dikenal
Jumat, 2 Oktober 2026 18:43 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) meneken kontrak kerja sama dengan sejumlah production house (PH) untuk memproduksi 20 film kepahlawanan. Film-film tersebut mengangkat berbagai kisah sejarah Indonesia pada periode 1945-1950.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, film menjadi medium yang tepat untuk menceritakan kembali sejarah Indonesia kepada masyarakat. Perpaduan gambar, suara, dan cerita dinilai membuat sejarah lebih mudah divisualisasikan dan dipahami generasi berikutnya.
“Ini komitmen Pak Presiden yang meminta saya supaya sejarah lebih mudah divisualisasikan dan diceritakan. Dan paling baik itu di dalam film karena di dalamnya ada semua, mulai gambar, audio, dan cerita,” ujar Fadli di Graha Utama Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Menurut Fadli, periode 1945-1950 merupakan salah satu fase penting dalam sejarah Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung melalui pertempuran, tetapi juga diplomasi, pers dan peran masyarakat.
Baca juga : Perpusnas-Kemenbud Bersinergi dalam 4 Ruang Lingkup Pemajuan Warisan Budaya
“Setelah kemerdekaan, mungkin sedikit saja orang yang tahu bahwa kehidupan kita tidak semakin mudah atau makin sulit karena banyak pihak yang ingin mengambil kendali Republik,” ungkapnya.
Karena itu, Fadli berharap film-film tersebut tidak berhenti pada proses produksi. Karya yang mengangkat kisah kepahlawanan itu diharapkan dapat disaksikan masyarakat luas melalui berbagai ruang pemutaran.
“Kita harapkan dalam waktu dekat kita punya film di bioskop tentang kepahlawanan. Mudah-mudahan bisa tayang di festival-festival dan itu tentu akan kita dukung,” katanya.
Selain bioskop, Kemenbud membuka peluang film tersebut ditayangkan melalui platform digital, lingkungan sekolah hingga kegiatan nonton bareng. Dengan demikian, kisah sejarah yang diangkat dapat menjangkau penonton yang lebih luas.
Baca juga : Fadli Zon: Indonesia Bersama 3 Negara Ajukan Tari Zapin Ke UNESCO
Program produksi film kepahlawanan tersebut sebelumnya diikuti 143 PH yang mengajukan proposal dan naskah. Peserta terpilih kemudian menjalani proses riset dan pengembangan skenario hingga menghasilkan naskah akhir yang siap diproduksi.
Dari proses seleksi tersebut, terpilih 20 film yang terdiri dari tujuh film panjang dan 13 film pendek.
Sejumlah film panjang yang masuk dalam program tersebut antara lain Barisan Penghibur produksi Alenia Citra Multimedia, Rengasdengklok dari Visinema Pictures, serta Hoegeng yang Ada Tinggal Nama Tun Tujuh Delapan Enam.
Fadli menegaskan, penandatanganan kontrak produksi bukan sekadar proses administratif. Kemenbud ingin film yang dihasilkan memiliki kualitas dari sisi cerita, sinematik maupun artistik.
Baca juga : Sejarah Indonesia yang Demokratis?
“Penandatanganan kerja sama ini bukan sekadar proses administratif, tapi komitmen bersama menghadirkan film kepahlawanan yang berkualitas menyeluruh, baik dari sisi artistik, sinematik, maupun skenario,” katanya.
Untuk menjaga ketepatan sejarah, Kemenbud melibatkan sejarawan dan pihak terkait dalam proses produksi. Sementara praktisi perfilman dilibatkan dalam proses seleksi untuk menilai aspek teknis dan pembuatan film.
Kemenbud juga membuka ruang koordinasi bagi para PH selama proses produksi, termasuk ketika membutuhkan akses maupun dukungan untuk pengambilan gambar di lokasi tertentu.
Penandatanganan kontrak kerja sama tersebut turut dihadiri pasangan aktor Ale Sihasale dan Nia Zulkarnaen serta sejumlah pelaku industri perfilman yang terlibat dalam program produksi film kepahlawanan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya