Dark/Light Mode

Kemenag Siapkan 5 Program Strategis untuk Perkuat Masa Depan Santri

Sabtu, 24 Oktober 2026 16:36 WIB
Foto: Kemenag.
Foto: Kemenag.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan lima program strategis untuk memperkuat masa depan santri dan pesantren dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Program tersebut mencakup penguatan keamanan lingkungan pesantren, pengakuan ijazah, kemandirian ekonomi, peningkatan kompetensi santri, hingga pengembangan dakwah digital.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan lima program tersebut saat upacara Peringatan Hari Santri 2026 di halaman kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan bangsa.

Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober sejak ditetapkan pada 2015. Peringatan ini bertujuan mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sebanyak 81 tahun lalu, tepatnya pada 22 Oktober 1945, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari mewakili warga pesantren mengumandangkan Resolusi Jihad.

Fatwa monumental tersebut menegaskan bahwa membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan fardhu ain dan mempertahankan kemerdekaan adalah ibadah tertinggi.

“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” tegas Nasaruddin.

Menurut dia, semangat tersebut turut menggerakkan perlawanan rakyat yang mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa itu menjadi pelajaran bahwa santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan juga bagian penting dari perjalanan bangsa.

Baca juga : Wapres Dukung Santri Belajar Teknologi Digital

“Tugas kita, melanjutkan perjuangan para kyai dan pahlawan bangsa melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” ujarnya.

Sejalan dengan semangat tersebut, Kemenag terus memperkuat ekosistem pendidikan pesantren.

Upaya ini dilakukan untuk memperluas peran pesantren sekaligus mempersiapkan santri agar mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Lima Program Strategis Pesantren

Nasaruddin menjelaskan, lima program tersebut disiapkan setelah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026 yang menandai pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.

Regulasi ini menjadi bentuk rekognisi, afirmasi, dan pelembagaan komitmen negara terhadap pesantren agar santri memperoleh ruang dan dukungan untuk berkembang secara optimal.

Pertama, SAFESANTRI

Program ini bertujuan memperkuat eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri.

“Citra pesantren aman dan nyaman harus dikawal agar tidak tercoreng oleh laku oknum yang tidak sejalan dengan semangat pesantren,” tegas Nasaruddin.

Sebagai bagian dari program tersebut, Kemenag membentuk Satuan Tugas (Satgas) SAFESANTRI yang diluncurkan Nasaruddin pada upacara Peringatan Hari Santri 2026.

“Bertepatan peringatan Hari Santri Tahun 2026 ini, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan Satuan Tugas SAFESANTRI. Semoga langkah ini menjadi ikhtiar nyata untuk menjaga eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri,” ujar Nasaruddin.

Satgas SAFESANTRI akan menyiapkan mekanisme pencegahan, pengaduan, pendampingan, serta respons cepat terhadap persoalan kekerasan di lingkungan pesantren.

Baca juga : Hari Santri 2026, Syahganda Ungkap Peran Besar Pesantren di Era Prabowo

Sejumlah tokoh pesantren telah menyatakan kesediaan bergabung dalam satuan tugas tersebut, salah satunya Gus Kautsar.

Nasaruddin berharap, keterlibatan unsur masyarakat pesantren dapat memperkuat kolaborasi dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi santri.

Kedua, Penguatan Rekognisi Ijazah

Program ini ditujukan untuk memperkuat pengakuan terhadap pendidikan pesantren sekaligus memperluas akses santri untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai bidang.

Penguatan rekognisi juga diharapkan memperbesar peluang kerja dan pengembangan karier lulusan pesantren.

Dengan demikian, capaian pendidikan dan kompetensi santri dapat memperoleh pengakuan yang lebih luas, baik dalam sistem pendidikan maupun dunia kerja.

“Program ini sekaligus menjawab kebutuhan agar masa depan santri tidak terhambat bukan karena kurangnya kemampuan atau kedalaman ilmu, melainkan karena keterbatasan pengakuan terhadap pendidikan yang telah ditempuh,” jelas Nasaruddin.

Ketiga, Pesantren Adaptif dan Mandiri

Program ini berfokus pada penguasaan teknologi, modernisasi tata kelola kelembagaan, serta penguatan kemandirian ekonomi pesantren.

Menurut Nasaruddin, pesantren saat ini menghadapi tantangan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Melalui program ini, pesantren didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

“Program ini juga akan mengawal kemandirian ekonomi pesantren,” ujarnya.

Keempat, Santri 5.0

Baca juga : Santri Jangan Pajangan

Program ini bertujuan mencetak santri yang tidak hanya menguasai khazanah keilmuan Islam, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang terus berkembang.

Penguatan keterampilan, literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, serta karakter keagamaan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan santri menghadapi tantangan masa depan.

“Ilmu agama dan keterampilan, keduanya penting sebagai bekal santri menatap masa depan,” kata Nasaruddin.

Kelima, Dakwah Digital

Program ini diarahkan untuk menyiapkan dai dan daiyah yang menguasai ilmu agama sekaligus memahami media sosial, algoritma, AI, dan pembuatan konten kreatif.

Melalui program tersebut, dakwah yang santun dan moderat diharapkan semakin dekat dengan generasi muda.

Inisiatif ini juga menjadi respons terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi dan pengetahuan keagamaan.

Dakwah pesantren diharapkan tidak hanya hadir melalui mimbar dan ruang pengajian konvensional, tetapi juga menjangkau ruang digital yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.

Meski demikian, transformasi dakwah tetap harus berpijak pada kedalaman ilmu agama, moderasi beragama, dan kesinambungan sanad keilmuan pesantren.

“Santri harus juga hadir dalam kreatif dan relevan di ruang digital. Sehingga dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda,” tandas Nasaruddin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.