Dark/Light Mode

Jumhur Dorong Sarjana Dalami Perdagangan Karbon untuk Sejahterakan Rakyat

Selasa, 27 Oktober 2026 16:17 WIB
Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat saat menghadiri Wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Periode 2026 di Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/10/2026). (Foto: Humas Kementerian LH)
Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat saat menghadiri Wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Periode 2026 di Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/10/2026). (Foto: Humas Kementerian LH)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdagangan karbon dan pengelolaan keanekaragaman hayati dinilai membuka peluang ekonomi baru bagi Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat mendorong para sarjana, khususnya lulusan S1 dan S2, mendalami bidang tersebut agar potensi kekayaan alam Indonesia dapat memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Jumhur saat menghadiri Wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Periode 2026 di Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/10/2026).

Acara tersebut turut dihadiri Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd., serta Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah I Sumatera Utara Prof. Drs. Saiful Anwar Matondang, M.A., Ph.D.

Jumhur menjelaskan, persoalan lingkungan kini menjadi perhatian setiap individu, kelompok, komunitas, hingga negara. Perubahan iklim, peningkatan suhu bumi, kenaikan permukaan air laut, dan emisi gas rumah kaca telah berdampak terhadap berbagai aktivitas ekonomi, termasuk sektor pertanian.

“CO₂ yang dihasilkan dari setiap kegiatan manusia dan industri membuat seluruh dunia diminta menekan emisi gas rumah kaca,” kata Jumhur.

Menurutnya, kesadaran global untuk memulihkan lingkungan telah melahirkan berbagai kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.

Jika sebelumnya pelestarian lingkungan kerap dipandang sebatas upaya perlindungan alam, kini kegiatan tersebut juga membuka peluang usaha dan pekerjaan baru.

Ia mencontohkan, dahulu penebangan pohon untuk kepentingan industri belum selalu dipandang sebagai persoalan lingkungan.

Namun, seiring meningkatnya pemahaman tentang dampak emisi, pencemaran, dan perubahan iklim, pemulihan lingkungan menjadi kebutuhan bersama.

“Ketika ada kesepakatan itu, akhirnya menciptakan kegiatan-kegiatan yang punya nilai ekonomi, termasuk hal yang tidak pernah kita duga-duga, yaitu jualan oksigen, jualan karbon,” ungkapnya.

Baca juga : KLH Perkuat Pembuktian Ilmiah untuk Penegakan Hukum Lingkungan

Jumhur mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar dalam perdagangan karbon berkat kekayaan hutan, mangrove, dan sumber daya alam lainnya.

Kawasan-kawasan tersebut dinilai memiliki nilai ekonomi karena berperan dalam menyerap karbon dan mendukung upaya pengendalian perubahan iklim.

Menurutnya, potensi tersebut perlu dipahami dan dikelola agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di sekitar kawasan hutan maupun wilayah pesisir.

“Nanti teknisnya para wisudawan S1 dan S2 harus mendalami soal perdagangan karbon. Karena ini adalah suatu kegiatan yang sangat berdampak langsung kepada masyarakat dan kita terhubung dengan semua manusia yang ada di bumi. Boleh jadi satu wilayah yang ada, misalnya di Deli Serdang, satu kawasan mangrove atau hutan di Deli Serdang itu oksigennya dibeli oleh Microsoft di Amerika Serikat (AS) dan nilainya bisa berjuta-juta dolar AS,” tutur Jumhur.

Ia menambahkan, perdagangan karbon memiliki mekanisme perhitungan tersendiri.

Karena itu, pemahaman mengenai aspek teknis dan ekonomi perdagangan karbon penting dikembangkan, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.

Jumhur berharap, generasi sarjana tidak hanya melihat lingkungan dari sisi konservasi, tetapi juga memahami peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Selain perdagangan karbon, Jumhur menyoroti potensi keanekaragaman hayati atau biodiversity Indonesia.

Ia menyebut Indonesia sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas yang sangat besar, baik di daratan maupun di lautan.

Menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan menjadi sumber manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Baca juga : Gandeng Ahli Usut Kerusakan Lingkungan, KLH Gugat 6 Perusahaan Di Sumut Rp 4,8 T

Jumhur mencontohkan, berbagai bahan yang berasal dari tumbuhan dan hewan telah dimanfaatkan untuk pengembangan produk, termasuk obat-obatan.

Karena itu, asal-usul sumber daya hayati dan pembagian manfaat ekonominya menjadi isu penting dalam pembahasan global.

“Dunia sekarang sedang duduk bersama untuk memastikan asal muasal biodiversity harus dijadikan tempat yang bisa mendapatkan manfaat ekonomi. Hal itu sedang diatur dan apabila terealisasi maka Indonesia akan mendapatkan manfaat yang besar,” ujarnya.

Ia menegaskan, perlindungan keanekaragaman hayati harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Spesies yang terancam punah juga perlu mendapatkan perhatian agar kelestariannya tetap terjaga. Jumhur turut menyinggung gagasan garden yang tengah didorong UMSU.

Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan dan pelestarian biodiversitas.

“Kita akan terus memastikan biodiversity tetap terpelihara dan bagi yang mendekati punah kita terus bekerja keras supaya itu terus bisa berkembang, walaupun itu tidak mudah, tetapi gerakan ke sana harus dilakukan,” tegasnya.

Jumhur juga menyoroti peluang penciptaan lapangan kerja hijau atau green jobs melalui berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan.

Salah satu bidang yang akan didorong pemerintah adalah pekerjaan sebagai auditor lingkungan.

Menurutnya, pengembangan kegiatan audit lingkungan berpotensi menciptakan kebutuhan tenaga profesional dalam jumlah besar, bahkan mencapai ribuan hingga puluhan ribu auditor.

Baca juga : Di IWC-11, Jumhur Ungkap 4 Prioritas Indonesia Atasi Krisis Perairan Global

Ia meminta perguruan tinggi mengambil peran dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang tersebut.

“Kampus harus menjadi bagian dari gerakan ini karena kampus tidak hanya sifatnya individu, tetapi juga bisa menebarkan darma bakti perguruan tinggi. Tridarma perguruan tinggi kan salah satunya pengabdian kepada masyarakat,” imbaunya.

Jumhur menilai, gagasan, kecerdasan, dan ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi perlu disebarluaskan melalui gerakan bersama agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Ide-ide, kecerdasan-kecerdasan ilmu pengetahuan bisa ditebarkan bersama-sama menjadi sebuah gerakan. Itu UMSU sudah pasti mengerti soal itu karena memang hidupnya selalu dalam pergerakan,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Jumhur juga mengucapkan selamat kepada para wisudawan. Ia mengingatkan bahwa kelulusan merupakan tahap awal untuk mengabdikan ilmu kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kerja keras atau pencapaian akademik, tetapi juga dari dampak yang dihasilkan bagi masyarakat.

“Yang asyik itu kerja banyak, tetapi dampaknya juga banyak. Saya yakin ini sudah puluhan tahun dilakukan oleh kampus-kampus Muhammadiyah. Saya yakin akan berdampak. UMSU akan bekerja di masyarakat dan berdampak bagi masyarakat,” pungkas Jumhur.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.