Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sidang Gus Yaqut, Saksi Ceritakan Evaluasi Pelayanan Haji 2024
- KPK Lantik 7 Pejabat, Achmad Taufik Husein Jadi Direktur Penyidikan
- Ditelepon Teddy, Dirut KAI Merapat ke Istana
- Gunung Semeru 6 Kali Batuk-Batuk, Hindari Radius 13 Km Dari Pusat Erupsi
- Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Dimulai, Pendaftaran 5-10 November 2026
Melalui Genre, Kemendukbangga Buka Akses Konseling untuk Kelompok Marjinal
Jumat, 30 Oktober 2026 16:21 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji memastikan kelompok termarjinalkan menjadi sasaran program pendampingan kementeriannya. Melalui Generasi Berencana (Genre), Kemendukbangga membuka akses konseling untuk kelompok-kelompok yang selama ini belum tersentuh layanan secara optimal.
"PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) juga turun ke sana (kelompok marjinal), Genre juga turun ke sana," kata Wihaji, dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, di Kantor Kemendukbangga, Halim, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Wihaji menyatakan, komunitas Genre di berbagai daerah telah melakukan pendampingan terhadap kelompok marjinal. Di Depok, misalnya, anggota Genre terlibat dalam kegiatan bersama kelompok anak jalanan untuk memberikan ruang pendampingan.
"Saya bahkan turun langsung ke kelompok penyandang disabilitas. Saya tanya mereka apa ada masalah dengan mental mereka. Di situ mereka senang karena bisa curhat masalah kehidupan. Artinya mereka juga mau bercerita," ungkap Wihaji.
Baca juga : Kemendukbangga Perluas Akses Konseling Kesehatan Mental, Sasar Kelompok Marjinal
Ia menyadari, kelompok marjinal juga menghadapi persoalan kesehatan mental yang membutuhkan ruang aman untuk bercerita. Saat ini, kata dia, terdapat 34,9 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental.
“Pemerintah punya akses untuk mereka bercerita. Kemendukbangga punya PIK-R di sekolah-sekolah dan sudah kerja sama dengan kementerian terkait untuk menghidupkan budaya bercerita," jelas politisi Partai Golkar itu.
Kemendukbangga memperkuat sejumlah program untuk memberikan akses informasi, edukasi, dan konseling bagi remaja. Di antaranya PIK-R, Halo Remaja, Genre, dan Bina Keluarga Remaja. PIK-R dikembangkan di lingkungan satuan pendidikan dan kelompok masyarakat. Sementara Halo Remaja menyediakan layanan konsultasi melalui berbagai saluran, termasuk media komunikasi, telepon, dan virtual reality (VR).
"Ini bagian dari kehadiran negara memberikan akses kepada kelompok remaja," terangnya.
Baca juga : Wihaji Integrasikan 3 Program Pembinaan Remaja
Kemendukbangga juga mendorong pembentukan pendidik sebaya dan konselor sebaya. Mereka mendapatkan pelatihan agar mampu mengenali persoalan yang dihadapi teman seusianya dan menjadi pintu awal bagi remaja untuk mencari bantuan.
"Konselor sebaya ini bukan psikolog karena rata-rata umurnya sebaya, tapi mereka kami latih menjadi pendidik sebaya, bagaimana cara memperhatikan persoalan seusianya dan kemudian kami latih menjadi konselor sebaya," terang Wihaji.
Mantan Bupati Batang itu juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka antara remaja dan orang tua. Sebab, salah satu keluhan yang ditemukan adalah keengganan remaja bercerita kepada keluarga karena khawatir langsung disalahkan ketika menyampaikan persoalannya.
"Ada fakta memang seorang anak ini enggan bercerita kepada orang tua karena setiap kali cerita justru disalahkan. Karena itu, ini bagian dari yang kami perhatikan," imbuh Wihaji.
Baca juga : Manfaat Rutin Olahraga bagi Kesehatan Mental dan Emosional
Di tengah perkembangan teknologi, Wihaji memahami sebagian remaja kini memilih mencurahkan perasaan melalui kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia menyatakan, penggunaan AI tidak perlu langsung disalahkan. Namun, remaja perlu memahami bahwa AI merupakan teknologi. Bukan manusia yang memiliki empati dan perasaan.
"AI itu robot, dia tidak punya hati. Apakah salah? Tidak salah. Tetapi harapan kita, ayo kita bisa menceritakan masalah kita dengan teman-teman, dengan orang tua," ajak Wihaji.
Wihaji juga mengajak remaja agar tidak takut dan malu mengungkapkan persoalan yang sedang dihadapi. Menurutnya, bercerita maupun menangis bukanlah tanda kelemahan.
"Jangan malu bercerita. Cerita bukan berarti cengeng. Menangis bukan berarti cengeng. Minimal, inilah cara kita menyampaikan hal-hal yang mungkin bisa membantu kekuatan mental kita," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya