Dewan Pers

Dark/Light Mode

Literasi Informasi Penting Untuk Tangkal Hoaks Dan Berdayakan Masyarakat

Sabtu, 21 Agustus 2021 21:20 WIB
Webinar Digital Literacy and Hoax Busting yang diselenggarakan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan, Sabtu (21/8). (Foto: Dok. Perpusnas)
Webinar Digital Literacy and Hoax Busting yang diselenggarakan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan, Sabtu (21/8). (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah pandemi, intensitas penggunaan teknologi digital meningkat dratis. Termasuk dalam komunikasi dan informasi. Untuk itu, diperlukan edukasi tambahan terkait literasi digital agar dapat mengimbangi perkembangan teknologi digital.

Literasi digital merupakan kecakapan (life skills) yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital. Jika hanya berbekal kemampuan mengoperasikan komputer atau telepon pintar, hal itu masih kurang dalam menangkal hoaks yang sering ditemui di media digital.

“Literasi informasi menjadi fondasi kemampuan literasi digital. Tanpa kemampuan untuk menemukan dan mengevaluasi informasi secara kritis, kita akan kesulitan dalam bersosialisasi dan belajar di dunia digital,” urai Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Dedi Junaedi, dalam kesempatan Webinar “Digital Literacy and Hoax Busting” yang diselenggarakan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan, Sabtu (21/8).

Literasi digital, tambah Dedi, memungkinkan seseorang untuk menganalisa sudut pandang yang digunakan orang lain serta memahami dalam membuat konten digital. Literasi digital akan menopang siapa pun dalam mengelola kemampuan literasi, seperti berbicara, mendengarkan, dan berpikir kritis. Yang diperlukan adalah memaksimalkan keberadaan ruang digital untuk memberdayakan masyarakat ketika mencari, menggunakan, atau bahkan menciptakan informasi secara efektif untuk memenuhi tujuan pribadi, sosial, pekerjaan, dan pendidikan. 

Untuk meningkatkan literasi digital, Perpusnas memuat aplikasi iPusnas. Dengan iPusnas, diharapkan memenuhi ruang digital masyarakat yang mampu menyediakan informasi maupun pengetahuan yang sahih.

iPusnas memuat 73.112 judul dengan 889.597 eksemplar yang bisa diakses masyarakat seluas-luasnya tanpa bayar. Hingga saat ini, tidak kurang 1.462.152 jumlah pengguna, dan sebanyak 12.517.639 telah mengakses koleksi iPusnas.  

Selain iPusnas, Perpusnas juga menyediakan Pojok Baca Digital (Pocadi) yang tersebar pada sejumlah ruang publik. Pocadi adalah tempat membaca yang berisikan koleksi buku cetak dan buku digital (e-book). Koleksi e-book yang ada di Pocadi berasal dari konten yang tersimpan pada lokal server dan iPusnas.

Semua bisa dipinjam dan diunduh mengunakan aplikasi iPusnas. Pocadi juga dilengkapi dengan perangkat pop up dan aplikasi untuk media promosi, kegiatan serta koleksi e-book, audio, dan video.

Duta Baca Indonesia (DBI) Gol A Gong menambahkan, kemampuan literasi digital amat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Ada nilai ekonomi dan pasar (market) yang besar karena penduduk Indonesia sudah mencapai 270 juta jiwa dan jumlah ponsel pintar yang beredar tembus 370 juta. Di tambah lagi data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang memperlihatkan, lebih dari separuh penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet.   

Artinya, ini peluang besar. Jika dikelola dengan baik, akan mendatangkan nilai ekonomis dan mampu menggerakkan roda ekonomi. Maka, keberadaan Perpusnas dengan program unggulan, seperti inklusi sosial kesejahteraan adalah jawaban untuk memaksimalkan potensi masyarakat. “Siapa pun dari kita akan berdaya dengan buku asal mampu memahami makna yang terkandung dalam setiap bahan bacaan," ucap Gol A Gong.

Selain menghadirkan dua narasumber, Webinar juga mengetengahkan pemateri Ketua Umum Siberkreasi Yosi Mokalu dan Civil Society Organization (CSO) Anti Hoaks/Mafindo, Anita Wahid. [USU]