Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
1 Dolar AS Tembus Rp 18 Ribu, IHSG Jeblok Di Bawah 6 Ribu
Purbaya Pastikan APBN Aman
Jumat, 5 Juni 2026 07:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tekanan di pasar keuangan domestik makin berat. Rupiah untuk pertama kalinya menembus level Rp 18 ribu per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok ke bawah 6.000. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, ekonomi nasional masih terkendali dan APBN masih aman.
Pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah ada di level Rp 18.033 per dolar AS atau melemah 0,46 persen dibandingkan hari sebelumnya. Posisi tersebut menjadi level penutupan terlemah sepanjang sejarah. Di saat bersamaan, IHSG juga berada dalam tekanan. Indeks ditutup di level 5.839,78 atau turun 101,28 poin setara 1,7 persen dibandingkan perdagangan Rabu (3/6/2026).
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, pelemahan rupiah masih dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah membuat prospek perdamaian semakin tidak pasti, mendorong harga minyak bertahan tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global.
Baca juga : Terbukti Terima Suap Dan Gratifikasi Rp 3,4 M, Noel Divonis 4,5 Tahun Bui
Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset-aset aman dan menarik modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, kebutuhan domestik terhadap dolar AS juga masih tinggi.
Menurut Destry, kondisi tersebut berkaitan dengan siklus repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri oleh korporasi. Menghadapi tekanan tersebut, BI terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental ekonomi nasional.
“BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik,” kata Destry di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Baca juga : PSI Surabaya Siap Hadapi Tahapan Verifikasi Parpol
Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pelaku pasar dan korporasi guna menjaga likuiditas serta mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Selain intervensi pasar, BI memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kerja sama tersebut telah dijalankan bersama Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyerahkan sepenuhnya pengelolaan stabilitas nilai tukar kepada Bank Indonesia. Ia menilai, belum ada kebutuhan mendesak bagi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menggelar rapat khusus.
Baca juga : Nasdem Dukung Prabowo Lakukan Diplomasi Intensif
Meski demikian, ia mengakui pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah karena kebutuhan rupiah untuk membayar kewajiban dalam dolar AS menjadi lebih besar.
Namun, lanjut Purbaya, kondisi tersebut masih berada dalam skenario yang telah diperhitungkan pemerintah saat menyusun APBN. Pemerintah memang menggunakan asumsi kurs Rp 16.500 per dolar AS dalam APBN 2026. Namun berbagai simulasi terhadap kemungkinan pelemahan rupiah maupun lonjakan harga energi telah disiapkan sejak awal. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya