Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kembalikan Nilai Aswaja: Jaga Keharmonisan dengan Toleransi dan Kasih Sayang
Rabu, 22 Januari 2025 13:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Habib Nabiel Almusawa, prihatin dengan fenomena merasa paling sunnah namun mudah membid’ah dan mengkafirkan orang lain yang terjadi di masyarakat. Dia pun mengajak semua pihak untuk mengembalikan nilai moral Ahlussannah waj Jamaah (Aswaja).
Habib Nabiel menekankan, Aswaja atau ajaran yang berpedoman pada sunnah Nabi Muhammad merupakan ajaran yang lembut, tidak mudah untuk mengkafirkan seseorang atau memecah belah bangsa. Aswaja merupakan nilai moral, akhlak Nabi Muhammad yang patut dicontoh umat untuk menebar kebaikan, kasih sayang antarsesama.
Baca juga : ASUS Kenalkan Jajaran Laptop Gaming Terbarunya, Ini Daftarnya
"Mengklaim paling saleh, paling sunnah merupakan bentuk keangkuhan yang bisa merusak nilai-nilai ke-Islaman,” ujar Habib Nabiel, dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (22/1/2025).
“Merasa paling benar, lalu membid'ahkan kelompok lain,seperti yang merayakan Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj, itu, mohon maaf, mirip dengan gejala-gejala kalau zaman dulu itu Khawarij, takfiri,” imbuhnya.
Baca juga : KPK: Tidak Ada Kaitan Dengan Perkara Di MK
Menurut Dewan Syuro Majelis Rasulullah SAW ini, secara ushul fiqih, empat mahzab yang dikenal di Indonesia, yaitu Mazhab Hambali, Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi, dan Mazhab Syafi'i juga menganut Aswaja. Di Indonesia, Aswaja memiliki ciri khas khusus, lebih spesifik karena mengalami adaptasi dan akulturasi dengan budaya lokal, layaknya strategi Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia.
Habib Nabiel menambahkan, karakter Aswaja yang lekat dengan Indonesia adalah karakter yang moderat. Aswaja di Indonesia cenderung bisa menyesuaikan diri beradaptasi bisa lebih toleran. "Sebaliknya, sikap mudah menghakimi orang lain, ekstremisme, dan intoleran itu kurang pas dengan karakter budaya Indonesia, karena bisa menyebabkan konflik," ucapnya.
Baca juga : Warga Dikasih Tenda, Perahu Dan Pelampung
Habib Nabiel melanjutkan, jika terdapat perbedaan, ikhtilaf dalam masalah fiqih, tidak bisa dihukumi sesat dan masuk neraka. "Jangan sampai ini menjadi perpecahan dan berujung pada konflik berkepanjangan," pengurus Rabithah Alawiyah Indonesia.
Oleh karena itu, Habib Nabiel menyerukan untuk mengembalikan nilai moral, akhlak Aswaja. "Bagaimana Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk menjaga adab dan menghargai pandangan orang lain. Toleransi ini merupakan bagian dari ajaran Aswaja yang harus kita tegakkan di tengah masyarakat yang semakin plural ini,” pungkas Habib Nabiel.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya