Dark/Light Mode

Makna Warna Merah dan Kuning dalam Perayaan Imlek

Rabu, 29 Januari 2025 13:01 WIB
Salah satu altar sembahyang di Klenteng Sam Poo, Kong Semaang, 26 Agustus 2019. (Foto: Istimewa)
Salah satu altar sembahyang di Klenteng Sam Poo, Kong Semaang, 26 Agustus 2019. (Foto: Istimewa)

Warna merah dapat dikatakan ciri khas dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah bukan saja ada dalam upacara-upacara orang Tionghoa, misalnya upacara Imlek, Cap Go Meh (tanggal 15 bulan pertama Imlek), pernikahan dan ulang tahun, tapi juga menghiasi bangunan tempat ibadah, seperti kelenteng, alas meja altar sembahyang, lampion, batang hio, lilin, dan lain-lain.

Di samping itu, ada juga wana kuning yang selalu dipasangkan dengan warna merah. Sebagaimana lampion yang banyak kita jumpai pada saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh, juga ada gabungan warna merah dan kuning. Biasanya lampion berwarna merah dan tulisan Tionghoa-nya warna kuning. Tulisan yang ada di lampion adalah Gong Xi Fa Cai (Selamat dan Semoga Rejekinya Lancar).

Kedua warna ini selalu dipasangkan dan maknanya tidak jauh berbeda.
Dalam perayaan masyakat Tionghoa, sangat didominasi warna merah. Misalnya, saat merayakan kedatangan tahun baru Imlek, mereka memakai pakaian baru bewarna merah. Ampau, yaitu amplop bewarna merah berisikan uang yang dapat dijumpai pada hari raya Imlek. Sepanduk dan baliho juga bewarna merah, kadangkala sepanduk dan baliho tersebut ditulis dengan tinta warna kuning. Jarang kita jumpai ada sepanduk warna merah yang terpasang dan ditulis dengan tinta hitam atau putih, kecuali sepanduk ucapan duka atau belasungkawa. Kelenteng, kain alas altar sembahyang di dalam kelenteng juga menggunakan warna merah.

Makna Warna Merah

Dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, warna merah melambangkan kebahagian, sejahtera dan murah rejeki. Penggunaan warna merah mengandung harapan bagi yang menggunakannya. Seseorang yang menggunakan warna merah untuk acara-acara tertentu, pasti dia berharap agar dia memperoleh keberuntungan, kesuksesan dan murah rejeki.

Baca juga : Gempa Darat M3,2 Getarkan Kota Bogor, Kedalaman 9 Km

Mengapa banyak orang Tionghoa menggunakan warna merah dalam perayaan Imlek? Karena mereka berharap dapat memperoleh banyak keberuntungan di tahun baru Imlek ini. Jika mereka berdagang, pasti mereka berharap di tahun baru ini dagangnya semakin meningkat dan maju pesat.

Warna merah juga melambangkan keberanian dan pantang menyerah. Banyak orang Tionghoa berani dalam melakukan usahs. Satu kali usaha bisnisnya gagal, dia bangkit lagi dengan usaha yang lain. Jika usaha bisnis keduanya gagal juga, dia bangkit lagi dengan usaha bisnis yang lain. Jadi, merah bukan sekadar warna, tapi terkandung unsur-unsur doa bagi yang menggunakannya.

Makna Warna Kuning

Warna kuning dalam bahasa Mandarin disebut “huáng sè”. Kuning dalam bahasa Mandarin dianggap mewakili unsur bumi. Bumi adalah ladang dan sumber rejeki. Jika manusia pandai mengelola bumi, mereka dapat memperoleh keberuntungan atau rejeki yang banyak. Sebaliknya, bagi siapa yang tidak pandai merawat bumi atau merusak bumi atau tidak memeliharanya dengan baik, bumi dapat menjadi sumber malapetaka atau ancaman bagi manusia. Seringkali kita menjumpai tanah longsor pada saat musim hujan tiba, ini akibat banyak orang merusak hutan dan membuat tanah cepat longsor atau rusak.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, bumi ini memiliki penguasa atau dikenal dengan dewa bumi. Jika kita datang ke kelenteng, seringkali kita menjumpai sebuah altar dengan perlengkapan sembahyang yang sederhana untuk memuja atau menghormati dewa bumi.

Baca juga : Dubes Suryo: Tak Ada Kendala dalam Proses Ekstradisi Paulus Tannos

Kuning melambangkan netralitas dan keberuntungan dan itulah mengapa warna ini sering dipadupadankan dengan warna merah. Jika dalam diri manusia unsur warna merahnya lebih dominan, maka warna kuning harus dimasukkan agar lebih seimbang. Warna kuning dalam budaya Tionghoa juga secara tradisional melambangkan kekuasaan, royalti, dan kemakmuran.

Kertas Sembahyang

Kertas yang sering digunakan masyarakat Tionghoa untuk sembahyang di kelenteng dan wihara sering disebut kertas Sui Kim atau Sui Kim Cua. Siu artinya air, kim artinya emas, dan cua artinya kertas. Kertas Sui Kim ini biasanya digunakan pada saat sembahyang pada dewa-dewa. Kertas Sui Kim ini sering juga disebut oleh masyarakat Tionghoa dengan nama Toa Kim. Sedangkan Gin Cua adalah kertas yang digunakan untuk sembahyang pada leluhur dan pada roh-roh orang yang sudah meninggal dunia. Ada juga yang menyebutnya dengan nama Kim Ci.

Ada lagi kertas Thi Kong Kim, yaitu kertas yang digunakan untuk sembahyang pada Tuhan. Thi Kong artinya Tian atau Tuhan dan Kim artinya emas. Sebagaimana kita ketahui, masyarakat Tionghoa sebelum mereka sembahyang pada dewa-dewa, leluhur,  dan roh-roh, mereka terlebih dahulu sembahyang pada Tuhan. Tuhan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari dewa-dewa, roh-roh leluhur, dan roh-roh orang sudah meninggal dunia. Dengan demikian, Tuhan wajib disembah terlebih dahulu ketimbang yang lainnya. 

Baik kertas Sui Kim, Thi Kong Kim, maupun Gin Cua, didominasi warna kuning dan sedikit warna merah di tengahnya. Ada juga kertas untuk perlengkapan sembahyang ini bertuliskan angka 88 di tengahnya. Jika dilihat dari ilmu Feng Shui (ilmu tentang tata letak kuburan dan bangunan) angka 88 ini adalah angka keberuntungan atau hoki.

Baca juga : Kebijakan Gas Murah Dukung Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Selesai melakukan sembahyang kertas ini dibakar dengan maksud dikirimkan pada dewa dan leluhur yang dihormati atau dipuja. Makna lain adalah dengan harapan agar keberuntungan, rejeki, dan kekayaan selalu menghampiri orang-orang yang melakukan sembahyang. Sebagaimana warna kuning adalah simbol dari emas dimaknai sebagai rejeki dan kekayaan.

Tahun baru Imlek menjadi tumpuhan harapan dan doa bagi semua orang yang merayakannya, agar di tahun yang baru Imlek 2576 atau bertepatan dengan 2025 Masehi ini, semua orang memperoleh rejeki dan keberuntungan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, simbol-simbol dan warna-warna yang digunakan dalam suasana menyambut kedatangan tahun baru Imlek mencerminkan murah rejeki dan keberuntungan.  

M. Ikhsan Tanggok
M. Ikhsan Tanggok
Guru Besar Antropologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.