Dark/Light Mode

Perayaan Imlek Perkuat Tali Silaturahmi Antar Golongan Masyarakat

Kamis, 30 Januari 2025 13:59 WIB
Mantan Ketua DPP Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), H Denny Sanusi (Foto: Istimewa)
Mantan Ketua DPP Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), H Denny Sanusi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perayaan Imlek atau Tahun Baru China merupakan momen suka cita bagi warga Tionghoa di seluruh dunia. Perayaan yang juga dikenal dengan sebutan Lunar Festival ini tidak hanya soal memperingati tahun baru pada kalender Tionghoa, namun juga sebagai lambang datangnya awal baru yang membawa harapan.

Mantan Ketua DPP Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), H Denny Sanusi, menjelaskan ditetapkannya Imlek sebagai salah satu hari libur nasional menandakan kondisi kebhinekaan Indonesia yang semakin terjaga. 

“Berkah perayaan Imlek dapat dirasakan seluruh etnis Tionghoa dengan semakin berkurangnya sentimen negatif yang biasanya dihembuskan seiring dengan ajang politik tertentu,” ujar Denny, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (30/1/2025).

Imlek juga menjadi salah satu kesempatan besar bagi warga Tionghoa untuk menunjukkan pentas budayanya kepada masyarakat luas. Dengan begitu, kesan warga Tionghoa yang cenderung menutup diri menjadi semakin sirna.

Baca juga : Polri Minta Masyarakat Waspada

Denny mengapresiasi keterlibatan warga non-Tionghoa dalam perayaan Imlek dari tahun ke tahun. Dia menilai, hal ini akan sangat baik bagi masyarakat dalam mengenal kebudayaan lain selain yang pernah dikenal dari tempat asalnya.

Menurutnya, pertukaran kebudayaan ini bisa semakin mempererat tali silaturahmi antar golongan masyarakat. “Saat ini sudah makin sering dijumpai bahwa permainan barongsai dan liong itu bukan hanya dimainkan orang Tionghoa, namun saudara-saudara kita dari etnis lain juga sudah banyak yang mempelajari dan memainkannya," ujarnya.

Selain itu, momentum Imlek juga dikenal dengan ragam kulinernya yang bisa dibagikan kepada tetangga atau teman yang beragama Islam. "Seperti dodol atau kue keranjang,” terang Denny.  

Mengenai perayaan Imlek yang ramai dihadiri masyarakat, baik etnis Tionghoa maupun non-Tionghoa, Denny menerangkan hal, ini terjadi karena Imlek bukan perayaan agama. Imlek adalah perayaan budaya. Saat ini, banyak pula warga etnis Tionghoa yang beragama Islam juga merayakan Imlek.

Baca juga : Terapkan SAMAN, Menkomdigi Perkuat Perlindungan Masyarakat Di Ruang Digital

“Seluruh etnis Tionghoa di seluruh dunia itu merayakan Imlek, karena ini adalah perayaan lintas agama. Kebetulan di Indonesia banyak warga Tionghoa beragama Buddha dan Konghucu, sehingga ada ritual peribadatan yang mereka jalankan sembari merayakan Imlek," ucapnya.

Untuk Denny pribadi, sebagai seorang Muslim, merayakan Imlek dalam konteks kebudayaan. "Bagi saya, perayaan Imlek membuat saya bersyukur karena hubungan silaturahim dengan sesama warga Tionghoa dapat dibangun melalui pintu kebudayaan,” tambahnya.

Selain itu, sebagai salah satu perwakilan warga Tionghoa Muslim yang tergabung dalam PITI, Denny menambahkan pentingnya keseriusan semua pihak dalam menjembatani komunikasi antar etnis. Dalam hal ini, PITI telah konsisten berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan bekerja sama dengan Ormas Islam lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

Sekjen Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini melanjutkan, PITI memanfaatkan kesamaan platform agama untuk menjalin komunikasi secara meluas terhadap golongan masyarakat yang sangat beragam. Ia menginginkan agar tidak ada lagi perbedaan yang dapat memunculkan konflik horizontal antara etnis Tionghoa dengan etnis lainnya di Indonesia. 

Baca juga : Kilang Pertamina Perkuat Komitmen Lingkungan dengan Program Berkelanjutan

Dia mengajak kepada seluruh warga Tionghoa agar bisa mencintai NKRI dengan sepenuh hati. Terlepas dari suka ataupun tidak, faktanya Indonesia adalah tempat kelahiran dan berpulang bagi banyak warga Tionghoa.

Denny berharap, agar perayaan Imlek bisa menjadi kesempatan bagi warga Tionghoa untuk membuka diri dan berbaur dengan masyarakat luas. Dengan saling mengenal dan percaya terhadap lintas golongan, masyarakat secara luas dapat bahu-membahu membangun Indonesia tercinta.

Dia optimis, generasi muda Tionghoa semakin terbuka dan berwawasan luas, sehingga mampu lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan di masyarakat. "Kita semua harus saling membuka diri dan mampu memanfaatkan persamaan ataupun perbedaan keimanan dan kebudayaan sebagai peluang untuk bisa menjalin komunikasi,” pungkas Denny.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.