Dark/Light Mode

Persekusi Saat Ramadan Bentuk Ekspresi Keagamaan yang Berlebihan

Rabu, 12 Maret 2025 14:40 WIB
Budayawan dan akademisi dari Universitas Nadhlatul Ulama Indonesia, Ngatawi Al-Zastrouw. (Foto: Dok. BNPT)
Budayawan dan akademisi dari Universitas Nadhlatul Ulama Indonesia, Ngatawi Al-Zastrouw. (Foto: Dok. BNPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ramadan adalah bulan penuh keberkahan, ampunan, dan kebaikan. Karena itu, umat Islam harus bisa melawan segala bentuk hawa nafsu untuk bisa meraih keutamaan Ramadan. Apalagi melakukan kekerasan seperti persekusi.

Sayangnya, masih ada saja kasus-kasus persekusi, seperti yang terjadi terhadap warung kopi, di Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal ini, budayawan dan akademisi dari Universitas Nadhlatul Ulama Indonesia, Ngatawi Al-Zastrouw, menyatakan, persekusi itu mencerminkan ketidakdewasaan seseorang dalam beragama. “Itu tidak mencerminkan akhlak dan ajaran Islam. Itu lebih mencerminkan pada sikap emosi sikap berlebihan dalam mengekspresikan keagamaan,” ucapnya, di Jakarta, Rabu (12/3/2025).

Baca juga : Pertamina EP Salurkan Bantuan untuk 720 KK Terdampak Banjir di Bekasi

Menurut Ngatawi, Islam merupakan agama yang penuh dengan kasih sayang. Dalam menyerukan dakwah atau menasehati orang lain, ada etika dan tingkatannya, tidak serta langsung melakukan persekusi atau menista. 

“Pertama, diingatkan secara lisan, baik secara beradab, secara sopan, tidak langsung serta merta,” kata Ngatawi.

Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia ini mengatakan, akhlakul karimah, akhlak yang terpuji adalah esensi dari Islam. Akhlak menjadi yang hal utama dalam mengekspresikan agama. Bersyariat pun harus berlandaskan dengan ahklak, kalau tidak itu akan menjadi kontra produktif. 

Baca juga : Wamen Fahri Gagas Bank Tanah Untuk Pembangunan Perumahan

Ngatawi menambahkan, tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam Islam atau mengamalkan apa yang sudah digariskan dalam Islam. Seperti tercantum dalam.Surat Al Baqarah ayat 256.

Semua ibadah dilakukan secara ikhlas, sukarela, dan semampunya, mengingat kondisi seseorang tidaklah sama.

Dalam puasa, ada yang memiliki kekurangan, maupun ada yang mendapatkan keringanan (rukhsah) karena suatu kondisi. Misalnya orang dalam perjalanan, ibu hamil, atau orang yang sedang sakit. 

Baca juga : Pertamina Peduli Salurkan Bantuan Ke Warga Korban Banjir Di Jakarta Selatan

Dia mengingatkan, persekusi itu harus diantisipasi, karena bisa memunculkan benih-benih radikalisme. “Akar radikalisme, seperti arogan, intoleran ini, merasa paling benar, paling saleh, dan merasa memiliki otoritas untuk menegakkan kebenaran sesuai versi mereka, ini yang harus diwaspadai,” tegas Ngatawi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.