Dark/Light Mode

Ramadan sebagai Madrasah Pembentuk Pribadi Wasatiyah

Rabu, 26 Maret 2025 18:53 WIB
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Andi Faisal Bakti. (Foto: Dok. Pribadi)
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Andi Faisal Bakti. (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di penghujung Ramadan 1466 Hijriah, umat Muslim diajak untuk terus meningkatkan ketakwaan, kesabaran, dan kebijakan, dalam menghadapi persoalan duniawi. Ramadan harus dijadikan madarasah untuk membentuk pribadi Muslim yang wasatiyah.

Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Andi Faisal Bakti. Menurutnya, Ramadan tidak hanya sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun empati dan membentuk hubungan yang lebih baik dengan sesama Muslim, maupun dengan umat agama lain. Dengan demikian, Ramadan bukan lagi persoalan pada menahan lapar dan dahaga saja, namun menciptakan insan kamil yang berlandaskan Pancasila dan agama secara kaffah.

“Seharusnya umat Islam di Ramadan ini lebih toleran, lebih berempati, sehingga bisa meredam ketegangan. Tentu bukan hanya kepada umat Muslim, tapi juga kepada agama lainnya,” ucap Prof Andi, di Jakarta, Rabu (26/3/2025).

Baca juga : Bejo Jahe Merah Temani Pemudik di Mudik Gratis Jawa Tengah

Menurut Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini, Islam adalah agama yang inklusif, merangkul keberagaman, dan menghargai perbedaan. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 143, diungkapkan umat Islam adalah umat yang wasatiyah, moderat berada di tengah. Menurutnya, Islam adalah agama menjunjung tinggi prinsip keadilan, dan merangkul semua umat manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang.

Ia menambahkan, konsep wasatiyah ini bisa digambarkan dengan analogi permainan bola. Dalam permainan bola dibutuhkan wasit yang netral di antara kedua belah pihak. Wasit tidak boleh berpihak kepada salah satu pemain atau kelompok. Jika berpihak, permainan tidak akan menarik, dan menimbulkan kekacauan.

Sama halnya dengan beragama, umat tidak boleh terlalu ekstem yang menimbulkan keresahan, dan tidak juga bersikap acuh. “Begitu juga dengan Islam, yang berada di tengah-tengah," ungkapnya

Baca juga : Santunan Ramadan Pertamina Patra Niaga: Berbagi Cinta dan Doa untuk Anak Yatim

Sebagai umat yang meyakini bahwa setiap mahkluk adalah cipataan Allah SWT, kata Prof Andi, maka harus saling mengasihi antar sesama makhluk, tidak memandang perbedaan suku, ras dan agama. Tidak boleh merasa paling benar, menghakimi atau mempersekusi orang yang berbeda keyakinan. 

“Islam sangat terbuka, sangat moderat. Islam itu justru merangkul dan merangkum kepercayaan agama lain,” imbuhnya.

Prof Andi mengingatkan agar madrasah Ramadan ini menjadi momentum peningkatan kualitas diri, tidak hanya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, namun juga meningkatkan kualitas kesalehan sosial antar umat beragama. Sehingga, dalam perayaan Idul Fitri, dapat merayakannya dengan hati yang suci dan bersih.

Baca juga : PT GDPS Tindak Tegas Segala Bentuk Penipuan Atas Nama Perusahaan

“Setelah berpuasa selama sebulan, umat Islam akan kembali kepada kesucian. Oleh karena itu, jangan lagi menebar benci, hate speech terhadap sesama,” kata Prof Andi.

UNESCO Chair in Communication and Sustainable Development (COSDEV) ini berharap, momen Ramadan ini menjadi refleksi diri untuk saling memaafkan dan menghargai antar umat beragama.

“Ini adalah momentum yang sangat luar biasa untuk saling bersolidaritas dengan sesama manusia, bukan hanya sesama umat Islam tapi juga kepada penganut penganut agama lainnya,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.