Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Penghormatan pada Bumi dan Padi dalam Upacara Seren Taun di Kabupaten Kuningan
Selasa, 8 April 2025 22:58 WIB
Dusun Manis adalah salah satu dusun di Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Ada kemungkinan disebut Dusun Manis, karena dusun ini memiliki pemandangan yang sangat indah, dikelilingi sawah-sawah yang luas, sehingga membuat pemandangan sawah yang cukup hijau dan dapat menarik wisatawan lokal datang ke sini. Dari Dusun Manis, Desa Pasawahan ini kita dapat menyaksikan pemandangan yang cukup indah yaitu: (1) sawah yang membentang luas (2) para petani sedang memanen padi yang sudah memasak (3) biji padi hijau yang belum siap panen, namun tinggal menunggu panen, dan (4) pemandangan yang cukup indah Gunung Ceremai, Jawa Barat. Gunung Ceremai membentang di 3 kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Cirebon.
Berdasarkan laporan BPS Kabupaten Kuningan 2024, jumlah penduduk di Kecamata Pasawahan sebanyak 23.680 jiwa dan sedikit meningkat jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di 2023 yang berjumlah 23.519. Jumlah kecamatan di Kabupaten Kuningan sebanyak 32. Berdasarkan sensus pertanian 2023, petani di Kecamatan Pasawahan berjumlah 2.821 orang atau sekitar 11 persen saja penduduknya yang bekerja sebagai petani. Sisanya bekerja di sektor-sektor yang lain. Sedangkan jumlah petani di Kabupaten Kuningan pada 2023 sebanyak 110.475 orang.
Desa Pasawahan ini jalannya sudah beraspal, kelihatan mulus, dan masyarakatnya yang sangat ramah. Di sepanjang jalan Desa Pasawahan--jika kita masuk dari jalan besar, di sebelah kanan terbentang sawah-sawah milik para petani yang cukup luas. Namun, di pinggir jalan ada juga rumah-rumah yang bertingkat dan bagus dan pemandangan sawah membentang di belakangnya. Di sebelah kiri jalan umumnya terdapat rumah-rumah penduduk yang cukup padat hingga sampai jauh ke belakang. Ada beberapa rumah yang bagus dan ada juga rumah-rumah yang sederhana. Ini menunjukkan masyarakat yang tinggal di desa ini tingkat ekonominya tidak sama, ada yang tingkat ekonominya menengah ke bawah dan ada yang tingkat ekonominya menengah ke atas. Masyarakat di Desa Pasawahan ini umumnya masyarakat Sunda dan berbahasa Sunda. Tapi ada juga lelakinya suku Sunda dan menikah dengan orang wanita Jawa Tengah. Dengan demikian para istrinya yang berasal di luar desa ini, harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa Sunda.
Baca juga : Halal Bihalal Jadi Salah Satu Cara Syukuri Kedamaian Indonesia
Penduduk di Dusun Manis, Desa Pasawahan ini--walaupun memiliki sawah yang terbentang luas--namun tidak semua bekerja sebagai petani, dan ada sebagian di antara mereka yang bekerja di luar sektor pertanian. Di antaranya ada yang bekerja sebagai supir, pedagang, tukang bangunan, pegawai dan lain-lain. Generasi mudanya ada beberapa yang bekerja di luar Kabupaten Kuningan, misalnya ada yang bekerja di pabrik garmen yang ada di Tangerang, dan ada juga yang bekerja di Tangerang Selatan dan lain-lain daerah.
Jika kita menemui para petani yang ada di Desa Pasawahan ini, sulit bagi kita untuk menemukan petani yang berusia muda, dan umumnya para petani di sini berusia di atas 45 tahun. Ada kemungkinan para generasi mudanya tidak menyenangi pekerjaan sebagai petani dan banyak menggeluti pekerjaan di sektor-sektor lain. Dampaknya pada 10 dan 20 tahun ke depan Desa Pesawahan dan desa-desa yang yang di berbagai Kecamatan di Kabupaten Kuningan ini akan mengalami krisis petani dan tanah-tanah sawah yang luas tidak dapat digarap dengan baik. Pemerintah daerah harus mencari jalan keluar bagaimana meningkatkan minat masyarakat dan terutama generasi muda untuk tertarik bekerja di sektor pertanian.
Masyarakat Desa Pasawahan, sangat toleran dan menghormati orang yang mendapat musibah, misalnya musibah kematian. Salah seorang warga dusun Manis, Desa Pasawahan, dan Kecamatan Pasawahan menceritakan bahwa jika ada salah seorang di dusun ini ditimpa musibah kematian, dan pada hari yang sama ada pesta pernikahan di salah satu rumah tetangganya, maka tentangga yang akan melakukan acara pernikahan tidak mengadakan acara hiburan (misal organ tunggal dan hiburan-hiburan lain) selama pesta pernikahan itu berlangsung. Tapi jika pesta pernikahan itu diadakan sehari setelah tetangganya ditimpa musibah, namun pesta pernikahan dapat dilakukan dengan disertai hiburan. Sikap ini dilakukan masyarakat karena menghormati orang yang telah terkena musibah.
Baca juga : Libur Lebaran di Jakarta? Ini 10 Tempat Wisata Seru yang Wajib Kamu Kunjungi!
Penduduk yang menganut agama Islam di 32 kecamatan di Kabupaten Kuningan berdasarkan BPS Kabupaten Kuningan pada tahun 2023 sebanyak 1.214.561 jiwa, Protestan sebanyak 2.448 jiwa, Katolik sebanyak 5.577 Jiwa, Hindu sebanyak 9 jiwa, Buddha sebanyak 148 jiwa dan lain-lain sebanyak 466. Sedangkan jumlah penduduk di kecamatan Pasawahan yang menganut agama Islam sebanyak 24.102 jiwa, Protestan sebanyak 1 jiwa, Katolik, Hindu dan Buddha tidak ada. Berdasarkan catatan BPS Kecamatan Pasawahan 2019, jumlah penduduk di Kecamatan Pasawahan yang menganut agama Islam sebanyak 24.361 jiwa. Sedangkan penduduk yang menganut agama lain di Kecamatan Pasawahan, seperti: Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Khonghucu tidak ada. Ini menunjukan bahwa agama Islam berkembang sangat pesat di wilayah ini. Perkembangan agama Islam di wilayah ini juga dapat dilihat dari banyaknya tempat ibadah umat Islam di desa Pasawahan ini. Berdasarkan data dari Kecamatan Pasawahan Dalam Angka 2022, jumlah Masjid desa Pasawahan ini adalah: Masjid 1 buah dan Musallah 22 buah dan tempat ibadah agama lain tidak ada.
Ada tradisi lokal yang masih dipertahankan oleh masyarakat yang ada di Kabupaten Kuningan, salah satunya adalah upacara Seren Taun. Subiantoro (2002), dalam abstrak tesis S2-nya yang berjudul: “Upacara Seren Taun Sebuah Ritual Keagamaan di Cigugur Kuningan Jawa Barat,” menjelaskan bahwa upacara Seren Taun adalah upacara yang berhubungan dengan kesuburan pada masyarakat agraris di desa Cigugur Kuningan Jawa Barat. Upacara ini dilaksanakan pada setiap tanggd 22 Rayagung yaitu bulan keduabelas menurut perhitungan tahun Sunda. Dalam upacara ini, bumi dan padi ditempatkan sebagai objek yang harus dihormati, karena dianggap sebagai sumber dari segala kehidupan masyarakat. Upacara ini sudah direvitalisasi dan dilaksanakan sejak tahun 1926 oleh Kiai Madrais. Upacara ini dijadikan sebagai peristiwa monumental sebagai sebuah ritual keagamaan dari Agama Jawa Sunda.
Di samping itu, menurut Aradea Ferescky, Desy Safitri, dan Sujarwo, dalam artikelnya yang berjudul: “Analisis Tradisi Seren Taun Sebagai Sarana Pelestarian Kebudayaan Sunda di Era Globalisasi,” yang diterbitkan dalam jurnal Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (JPIPS), Juni 2024, menjelaskan bahwa: “Dari sudut pandang kehidupan masyarakat Sunda, tradisi Seren Taun merupakan ungkapan rasa syukur atas semua hasil pertanian yang didapatkan dan sebagai bentuk harapan agar hasil pertanian di tahun berikutnya dapat meningkat.” Mungkin bisa kita katakan bahwa upacara Seren Taun ini ada kemiripan dengan upacara Sedekah Bumi yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Baca juga : Peduli Korban Banjir, Waka MPR Salurkan Bantuan Di Kabupaten Tolitoli
Dalam Kecamatan Pasawahan, upacara Seren Taun tidak diadakan di Desa Pasawahan, tapi di adakan dan dipusatkan di Desa Cigugur. Meskipun demikian, tidak ada larangan bagi masyarakat dari desa-desa lain di Kecamatan Pasawahan untuk ikut acara sakral ini. Upacara Seren Tuan ini bukan sekadar upacara tahunan, tapi juga dapat berfungsi sebagai wadah pemersatu dari berbagai kelompok masyarakat dari dusun, desa, dan kecamatan di satu kabupaten. Walaupun upacara ini sudah ada sejak lama dan sudah dipraktikan secara turun-temurun di Kecamatan Pasawahan, namun dengan perkembangan teknologi moderen dan masuknya budaya-budaya luar yang sulit untuk dibendung, upacara ini juga sudah kurang diminati generasi muda. Untuk itu perlu pelestarian budaya lokal ini agar warisan leluhur tidak cepat punah dan generasi muda tidak asing dengan budaya lokal mereka sendiri. Jika perlu, budaya lokal Seren Taun ini diperkenalkan pada anak didik di sekolah-sekolah mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum.
M. Ikhsan Tanggok
Guru Besar Antropologi Agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Guru Besar Antropologi Agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya