Dark/Light Mode

Layanan Jemaah Haji di Arab Saudi Sudah Siap, Berikut Rinciannya

Selasa, 29 April 2025 09:09 WIB
Direktur Layanan Haji Luar Negeri Muchlis M Hanafi (Foto: Dok. Kemenag)
Direktur Layanan Haji Luar Negeri Muchlis M Hanafi (Foto: Dok. Kemenag)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jemaah haji Indonesia akan mulai masuk Asarama Haji pada 1 Mei 2025 dan terbang ke Arab Saudi sehari setelahnya. Kementerian Agama (Kemenag) memastikan, layanan bagi jemaah haji Indonesia selama di Tanah Suci sudah siap. 

“Sejauh ini kesiapan penyelenggaraan ibadah haji, khususnya di Arab Saudi, sudah siap. Sesuai arahan Menteri Agama, kami berupaya mempersiapkannya secara cermat dan teliti agar bisa memberikan layanan terbaik ke jemaah haji,” terang Direktur Layanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama Muchlis M Hanafi, di Jakarta, Selasa (29/4/2025).

Muchlis menjelaskan, layanan di Arab Saudi mencakup lima hal, yaitu: konsumsi, transportasi, akomodasi, layanan umum, serta layanan selama proses puncak ibadah haji di Masyair Muqaddasah. Untuk akomodasi, Kemenag sudah menyiapkan 205 hotel di Makkah dan 95 hotel di Madinah sebagai tempat tinggal jemaah haji Indonesia.

"Akan ada 203.320 jemaah haji reguler yang akan kita layani di 300 hotel yang ada di Makkah dan Madinah,” terangnya.

Untuk hotel di Makkah, jaraknya maksimum 4,5 km. "Untuk di Madinah, semua hotel berada di wilayah Markaziyah,” sambungnya.

Terkait transportasi, Muchlis menjelaskan, pihaknya menyediakan layanan di tiga area. Pertama, transportasi antar kota perhajian yang melayani rute Madinah–Makkah, Jeddah–Makkah, Makkah–Jeddah, dan Makkah–Madinah.

Baca juga : Menag Ikuti Forum Hadis Kerajaan Saudi di Madinah, Bawa Misi Penting Ini

Kedua, Bus Shalawat yang akan mengantar dan menjemput jemaah dari hotel ke Masjidil Haram dan sebaliknya. Ketiga, transportasi saat puncak proses ibadah haji di Arafah–Muzdalifah–Mina (Armuzna). 

“Ini tiga area yang kami siapkan untuk pelayanan transportasi bagi jemaah haji Indonesia,” terangnya.

Berkenaan dengan layanan konsumsi, Muchlis menjelaskan, Kemenag sudah bekerja sama dengan 55 perusahaan katering yang akan menyiapkan 84 kali makan bagi jemaah selama di Makkah dan 15 kali makan saat puncak haji di Armuzna. Sementara, selama di Madinah, jemaah akan mendapatkan 27 kali makan yang disiapkan oleh 21 perusahaan katering. 

“Total yang kami siapkan untuk jemaah haji kita selama di Arab Saudi itu 127 kali makan. Jadi kami harus menyiapkan 25,8 juta box makanan,” ucap Muchlis.

Kemenag juga meminta agar perusahaan katering menggunakan produk dalam negeri. Misalnya, untuk keperluan bumbu, Kemenag minta perusahaan katering gunakan bumbu jadi dari Indonesia. 

“Dari 611 ton bumbu yang dibutuhkan, 475 ton sudah kita penuhi dari Indonesia. Artinya produk dalam negeri ikut serta dalam perhajian tahun ini dengan angka yang cukup signifikan,” jelasnya.

Baca juga : Akhir Pekan Harga Emas Turun Rp 21 Ribu, Berikut Rinciannya

Demikian juga dengan makanan siap saji. Muchlis menjelaskan, makanan siap saji akan disiapkan pada rentang ada 7-15 Zulhijjah. Saat itu, kondisi di Makkah macet sehingga menyulitkan dalam proses distribusi. Karenanya, disiapkan makanan siap saji agar bisa didistribusian lebih awal dan makanan tetap bisa dikonsumsi pada waktunya.

Lauk siap saji ini diproduksi di dalam negeri. Sampai sekarang, perusahaan yang akan melayani jemaah haji kita sudah mendatangkan 2,4 juta paket makanan siap saji, ada rendang, opor dan lain sebagainya.

“Mudah-mudahan dengan itu semua kepuasan jemaah terhadap layanan konsumsi tahun ini semakin meningkat,” lanjutnya.

Terkait layanan puncak ibadah haji, dari 8–13 Zulhijjah, Muchlis juga menegaskan bahwa itu sudah siapkan. Kementerian Agama untuk kali pertama bekerja sama dengan 8 perusahaan dalam menyiapkan layanan bagi 203.320 jemaah.

Muchlis melanjutkan, keterlibatan 8 perusahaan ini merupakan suatu hal baru dalam pelayanan jemaah haji Indonesia di di Arab Saudi. Dulu, pada sekitar tahun 1950–1970-an, layanan jemaah haji Indonesia disiapkan melalui para syekh dari Jawa. Tahun 1981–1983, para syekh ini melebur dalam satu muassasah (Yayasan) berbasis geografis. 

“Kalau dari Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Thailand itu muassasahnya namanya Asia Tenggara. Jadi mesti kita dilayani ke situ,” sebutnya.

Baca juga : Kuasa Hukum Hasto: Para Saksi Tak Beri Bukti Dakwaan Perintangan dan Suap

Sejak 2021–2023, Muassasah ini diminta oleh Kerajaan Arab Saudi untuk bertransformasi menjadi perusahaan supaya lebih profesional. Sekarang penyedian layanannya tidak lagi dibatasi pada aspek geografis. Jemaah haji Indonesia misalnya, tidak harus ke perusahaan yang dulu menangani Asia Tenggara, tapi sudah terbuka.

“Ketika kita mulai penyediaan barang dan jasa pada Desember 2024, ada 43 perusahaan yang mendaftar. Lalu 16 yang presentasi dan mengajukan penawaran setelah proses verifikasi. Dari 16 itu kita pilih 8 yang terbaik,” papar Muchlis M Hanafi. 

“Delapan perusahaan itu yang nanti akan melayani jemaah haji kita mulai dari kedatangan sampai kepulangan, termasuk di masa puncak di Arafah-Muzdalifah-Mina,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.