Dark/Light Mode

Picu Permasalahan Sosial, Orang Tua Perlu Waspada Defisiensi Zat Besi Pada Anak

Rabu, 30 April 2025 21:22 WIB
Ahli Nutrisi dr. Anna Hoengdrayana. Foto: Istimewa
Ahli Nutrisi dr. Anna Hoengdrayana. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Ahli Nutrisi dr. Anna Hoengdrayana mengingatkan kepada orang tua untuk menjaga asupan zat besi anaknya. Anna menilai defisiensi atau kekurangan zat besi tidak hanya mengganggu kesehatan semata, tapi juga memicu permasalahan sosial bagi anak.

"Defisiensi zat besi dapat memicu anemia karena hemoglobin yang bertugas mengikat oksigen pada darah akan menjadi kurang," kata Anna, dalam keterangannya, Rabu (30/4/2025).

Menurut Anna, kekurangan zat besi dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Sebab, tubuh akan merasakan kekurangan oksigen yang cukup untuk mendukung fungsi organ dan aktivitas fisik.

"Anemia defisiensi zat besi itu artinya Hb-nya dia rendah artinya oksigen yang dibutuhkan tubuhnya untuk berbagai kegiatan itu kurang," ujar Anna.

Baca juga : Pencegahan Dan Penanganan Pelecehan Seksual Di Institusi Pendidikan

Dua bilang, dampak sosial yang ditimbulkan akibat defisiensi zat besi adalah anak tidak suka bergaul karena merasa lemas. Selain itu, anak juga cenderung memiliki sifat yang cengeng, memiliki suasana hati yang kurang baik, dan tidak suka bergaul.

"(Akibat defisiensi zat besi) jadi lemas tidak suka bergerak, diem saja, cengeng, mudah bete, tidak suka bergaul," ucap Anna.

"Anak kecil biasanya suka lari-lari main sana main sini. Nah ini biasanya dia capek, mudah sesak napas," sambung Anna.

Guna mengatasi defisiensi zat besi, Anna menyarankan orang tua memberikan makanan yang kaya zat besi dari sumber hewani dan nabati. Contohnya, daging merah sebagai sumber protein hewani dan sayuran hijau sebagai sumber nabati.

Baca juga : DKI Pasang CCTV Dan Siagakan Petugas Untuk Antisipasi Pencurian Besi JPO

Meski begitu, Anna mengingatkan bahwa penyerapan zat besi oleh tubuh dari sumber hewani dan nabati memiliki tingkat efisiensi berbeda. Penelitian menunjukkan zat besi dari sumber hewani lebih mudah diserap.

Untuk meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber nabati, konsumsi vitamin C setelah makan sangat dianjurkan. “Vitamin C nya bisa dalam bentuk buah. Misalnya kita berikan sayur bayam, maka kita kasih buah jeruk,” ucap Anna.

Selain itu, ia juga menyebut produk fortifikasi juga dapat dijadikan asupan untuk memenuhi zat besi pada anak. Mulai dari susu hingga oatmeal yang sudah difortifikasi.

“Karena angka kejadian anemia banyak, untuk mencegah banyak sekali kerugiannya (yang ditimbulkan) kalau anemia, jadi pemerintah berusaha memfortifikasi berbagai bahan makanan pokok. Kalau beras susah difortifikasi, (tapi bisa) susu difortifikasi, oatmeal (bisa) difortifikasi,” tutur Anna.

Baca juga : Pecahkan Rekor, 309 Orang Ngumpul Pakai Topi Pisang

Kendati demikian, Anna mengingatkan konsumsi susu fortifikasi perlu memberikan jeda sebanyak 2-3 jam sesudah makan. Hal itu bertujuan agar penyerapan zat besi yang berasal dari susu fortifikasi dapat optimal.

“Jadi susu itu harus diberikan sekitar dua hingga 3 jam setelah dia makan,” ungkap Anna.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.