Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Denny JA Foundation secara resmi meluncurkan Dana Abadi Penghargaan Penulis, sebuah inisiatif filantropi kebudayaan yang bertujuan memberikan penghargaan berkelanjutan kepada para penulis dari berbagai daerah dan latar belakang di Indonesia.
Program ini hadir sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat suara-suara dari pinggiran yang selama ini kurang mendapatkan panggung, serta untuk mendorong keberlanjutan karya sastra bermutu di tengah derasnya arus digitalisasi.
“Penulis adalah penjaga kata, dan kata adalah senjata sunyi revolusi manusia. Di era digital yang cepat dan dangkal, penghargaan seperti ini adalah oksigen bagi karya tulis yang mendalam,” kata Denny JA, pendiri yayasan, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/5/2025).
Baca juga : Konsep Hunian TOD Perumnas Jadi Penggerak Perekonomian Kota
Dana Abadi ini dibangun dengan model keberlanjutan melalui penyisihan sebagian saham dari bisnis pribadi Denny. Tujuannya adalah untuk menjamin kelangsungan program secara permanen, lepas dari ketergantungan pada anggaran tahunan atau tokoh tertentu.
“Warisan sejati bukan saldo abadi atau bangunan tinggi, tapi nyala yang terus hidup dalam diri para penulis, bahkan ketika lampu dunia padam,” ujarnya.
Pada tahun 2024, empat penghargaan telah diberikan melalui Dana Abadi Penghargaan Penulis, masing-masing disertai sertifikat dan dana tunai sebesar Rp50 juta untuk Lifetime Achievement dan Rp35 juta untuk kategori lainnya. Berikut penerima penghargaan: Ahmad Tohari (Lifetime Achievement), penulis yang dikenal luas dengan karya-karya yang mengangkat kehidupan rakyat kecil Indonesia. Lalu, Esther Haluk (Fiksi), penyair asal Papua yang menulis tentang luka dan harapan dari tanah kelahirannya.
Baca juga : Tana Group Luncurkan Proyek AURUM Jadi Pusat Bisnis Dan Hiburan Di Batam
Kemudian, Murdiono Mokoginta (Nonfiksi), penulis asal Bolaang Mongondow (Bolmong) yang merekonstruksi sejarah lokal dalam karyanya. Dan terakhir, Jasni Matlani (Puisi Esai Internasional), penulis Malaysia yang menjadi pelopor puisi esai di Asia Tenggara.
Program ini disalurkan melalui tiga komunitas sastra: Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, Lembaga Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai.
Denny menegaskan bahwa penghargaan ini tidak diberikan kepada selebritas sastra metropolitan, tetapi kepada mereka yang menulis dari desa, pinggiran kota, dan ruang-ruang sunyi yang kaya makna.
Baca juga : Gandengan Tangan Dengan Ari Lasso
“Inspirasi kami datang dari penulis dunia seperti Abi Daré dari Nigeria dan Yasmin Zaher dari Palestina. Kami percaya penghargaan sastra bukan hanya simbol, tetapi motor perubahan sosial dan kultural,” tambah Denny.
Melalui Dana Abadi ini, Denny berharap filantropi kebudayaan di Indonesia tidak lagi menjadi kegiatan musiman, melainkan tumbuh kokoh sebagai pohon yang ditanam untuk generasi yang belum lahir.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya