Dark/Light Mode

Memaknai Kembali Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H

Sabtu, 28 Juni 2025 05:53 WIB
Jalan santai Anggota Majlis Ta’lim Masjid As-Saadah Kompleks Kompas 2 Ciputat, dalam rangka menyambut kedatangan Tahun Baru Islam 1447 H (Foto: Dok. Pribadi)
Jalan santai Anggota Majlis Ta’lim Masjid As-Saadah Kompleks Kompas 2 Ciputat, dalam rangka menyambut kedatangan Tahun Baru Islam 1447 H (Foto: Dok. Pribadi)

Tanggal 1 Muharram di kalender Hijriah adalah Tahun Baru Islam yang diperingati setiap tahun di seluruh dunia dengan cara-cara yang berbeda di setiap daerah dan setiap negara. Tanggal 1 Muharram 1447 Hijriah di tahun ini jatuh pada 27 Juli 2025. Tanggal 27 Juli 2025 ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai hari libur nasional dan sama dengan Tanggal 1 Januari juga ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai hari libur nasional.

Tidak hanya itu, pemerintah Indonesia juga menetapkan tahun baru Imlek untuk masyarakat Indonesia keturunan atau peranakan Tionghoa sebagai hari libur nasional. Salah satu alasan 1 muharram, 1 Januari dan tanggal 1 bulan pertama tahun baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional karena untuk menghormati orang-orang yang merayakannya.

Tanggal 1 Muharram adalah awal Tahun Baru Islam yang menandai peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari kota Makkah ke kota Madinah pada tahun 622 Masehi. Hijrahnya nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah ini juga diikuti oleh para sahabat nabi yang setia kepadanya dan setia pada ajaran-ajarannya. Tahun Hijriah ini menjadi tahun pertama dalam kalender Hijriah, yang kemudian ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai tahun baru Hijriah atau tahun baru Islam.

Bulan pertama dari kalender Hijriah adalah Muharram. Bulan Muharram ini juga dikenal sebagai bulan suci dalam Islam. Umat Islam dilarang untuk melakukan peperangan dan perbuatan-perbuatan yang tidak baik lainnya. Selai Muharram, bulan Ramadan, bulan kesembilan dalam kalender Hijriah, di mana umat Islam diwajibkan melaksanakn ibadah puasa pada bulan tersebut juga dianggap sebagai bulan suci. Selain itu, ada tiga bulan lain yang juga dianggap suci atau mulia oleh umat Islam, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab, yang dikenal sebagai "bulan-bulan haram. Jadi, Muharram dikenal sebagai salah satu bulan yang suci dikalangan umat Islam dan juga dikenal sebagai bulan haram.

Baca juga : Paman Sam Kembalikan Tiga Benda Cagar Budaya Indonesia

Secara bahasa Muharram dapat diartikan sebagai yang diharamkan atau yang dipantangkan, karena pada bulan Muharram ini nabi Muhammad SAW melarang umat Islam untuk melakukan segala bentuk peperangan demi menghormati bulan yang haram (suci) ini dan perbuatan-perbuatan lain yang dianggap sebagai menodai bulan suci ini.

Larangan melakukan peperangan dalam bulan Muharram bukan saja untuk menjaga kesucian bulan Muharram, tapi juga memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk mengintropeksi diri, mendekatkan diri pada Allah dan melakukan amalan-amalan yang bermakna di dalamnya. Jika bulan Muharram atau bulan pertama dalam kalender Hijriah tidak diisi dengan amalan-amalan atau kegiatan-kegiatan bermanfaat, sama artinya kita menyia-nyiakan kedatangan bulan Muharram.

Tanggal 1 Muharram atau tahun baru Islam diperingati dengan cara yang berbeda-beda di kalangan masyarakat Indonesia sesuai dengan adat-istiadat dan kebudayaan lokal di setiap daerah yang dapat mempengaruhinya. Ada sebagian masyarakat Islam di berbagai daerah di Indonesia meyakini malam 1 Muharram sebagai malam yang sakral atau suci. Untuk mengisi malam yang suci itu berbagai kegiatan yang bernuansa religius dilakukan di pondok-pondok pesantren, masjid dan musala. Kegiatan yang dilakukan di dalam masjid dapat berupa, membaca Al-Qur’an, zikir, membaca doa dan menyantap makan-makanan yang dibuat secara kolektif atau dibawa dari masing rumah di sekitar masjid.

Ada juga sebagian masyarakat Muslim yang merayakan kedatangan tahun baru Islam dengan melakukan pawai obor di malam tahun baru Islam atau atau tahun baru Hijriah. Ada juga sebagian umat Islam yang menyambut kedatangan bulan Muharram atau tahun baru Hijriyah ini dengan melakukan jalan santai mengelilingi kampung dan sekaligus dijadikan ajang silaturahmi di antara mereka. Ada juga sebagian masyarakat Muslim Jawa, khususnya masyarakat keraton dan masyarakat sekitarnya memadukan perayaan 1 Suro dengan 1 Muharram atau memadukan kebudayaan Jawa dan Islam dalam rangka menyambut 1 Suro dan 1 Muharram dan juga diisi dengan berbagai kegiatan kebudayaan lokal. Perayaan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim Indonesia dalam menyambut kedatangan tahun baru Islam, tidak hanya dipandang sebagai bentuk penghormatan pada tahun baru Islam, tapi juga sebagai bentuk pengungkapan ekspresi keagamaan masyarakat muslim itu sendiri.

Baca juga : Menata Kolegium, Mencegah Munculnya Negara Dalam Negara

Salah satu ibadah yang dianjurkan dan paling utama oleh nabi Muhammad Saw untuk dilakukan pada bulan Muharram ini adalah melakukan puasa, karena puasa dapat membuat orang merasakan bagaimana sulitnya bagi orang-orang miskin untuk mendapatkan makan layak bangi mereka. Hadis tersebut berbunyi demikian: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata: ‘Rasulullah SAW bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam” (HR Muslim). Mungkin pada Muharram di tahun yang lalu amalan puasa ini belum sempat untuk dilakukan, namun dalam rangka intropeksi diri, maka puasa tersebut bisa dicoba untuk dilakukan.

Mengacu pada hadis nabi Muhammad SAW di atas, bahwa selain puasa di bulan Muharram, maka ibadah yang lain yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad adalah melakukan shalat malam. Shalat malam ini adalah shalat yang sulit untuk dilakukan oleh umat Islam karena harus bangun di pertengahan malam atau bagian akhir dari malam, sementara orang-orang yang lain dalam keadaan nyenyak tidurnya, kecuali bagi orang yang sudah mempunyai niat yang bulat untuk bagun di sebagian malam dan melakukan ibadah shalat malam. Bulan Muharram ini adalah momentum yang cukup baik untuk meningkatkan amal ibadah dengan cara melakukan salat malam.

Makna tahun baru Islam bukan saja dilihat dari konteks sejarah, yaitu adanya hijrah nabi Muhammad Saw dari kota Mekkah ke kota Madinah dan ditetapkannya tahun baru Hijriah atau tahun baru Islam, tapi tahun baru Islam harus dimaknai lebih luas lagi dari sekedar perpindahan Nabi Muhammad dan para sahabatnya, yaitu hijrahnya manusia atau umat Islam dari perbuatan yang tidak baik ke perbuatan yang lebih baik; hijrah manusia dari tindakkan-tindakkan yang melanggar hukum, seperti korupsi, narkoba dan minum-minuman keras, ke tindakan yang tidak melanggar hukum, hijrahnya manusia dari budaya malas ke budaya yang senang bekerja untuk peningkatan ekonomi yang lebih baik dan hijrahnya manusia dari kebodohan ke manusia yang lebih cerdas dan menguasai teknologi. 

Dalam masyarakat Indonesia yang multietnik, bahasa, budaya, dan agama, tentu saja rawan terhadap konflik ethnik dan agama yang bisa saja terjadi di berbagai daerah di Indonesia jika sikap intoleransi masih melekat pada diri sebagian orang. Dalam rangka memaknai kembali tahun baru Islam ini, sebaiknya sikap dan pikiran intoleran dapat hijrah ke sikap dan pikiran toleran, yaitu dengan cara saling menghormati perbedaan di antara kita yang berbeda keyakinan dan kebudayaan.

Baca juga : Beli Kembali Mobil Yang Hilang Dicuri

Salah satu makna yang terpenting di Muharram adalah mengintropeksi diri. Dalam mengintropeksi diri, mungkin banyak amalan-amalan yang belum kita lakukan pada tahun-tahun sebelumnya, terutama perbuatan-perbuatan yang bermanfaat bagi peningkatan amal ibadah kita atau perbuatan-perbuatan yang dapat memberikan manfaat pada masyarakat umum, maka pada tahun baru Islam 1447 Hijriah ini terbuka peluang bagi kita untuk melakukan apa-apa yang belum dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Jika dihubungan dengan ibadah, mungkin banyak ibadah-ibadah yang bisa mendatangkan atau meningkatkan tabungan pahala kita yang belum bisa kita lakukan di tahun-tahun sebelumnya, maka pada tahun baru Islam 1447 Hijriah ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk melakukannya.

M. Ikhsan Tanggok
M. Ikhsan Tanggok
Guru Besar Antropologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.