Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Islam yang berkembang di Indonesia memiliki kekhasan yang selaras dengan budaya lokal dan nilai-nilai ke-Islaman. Islam Indonesia memiliki karakteristik yang khas karena secara antropologis dan sosiologis disesuaikan dengan budaya Indonesia melalui skema akulturasi.
"Islam itu disesuaikan dengan budaya Indonesia tanpa mengubah aspek-aspek yang sifatnya mendasar," kata ustaz muda sekaligus influencer milenial, Habib Husein Ja'far Al Hadar, di Jakarta, Rabu (16/7/2025).
Habib Ja’far menjelaskan, dalam hukum islam, akulturasi atau penyesuaian ini dikenal dengan ‘urf. Yaitu ketika adat kebiasaan yang baik dapat menjadi hukum, tanpa mengubah aspek-aspek fundamental Islam, baik dari sisi teologi, fikih, maupun tafsir Al-Qur'an dan Sunnah.
Dia mencontohkan, pelaksanaan zakat fitrah di Indonesia menggunakan beras sebagai makanan pokok, berbeda dengan di Arab yang menggunakan gandum atau kurma. Hal ini lumrah terjadi karena inti dari zakat fitrah adalah memberikan makanan pokok kepada mereka yang membutuhkan.
Baca juga : Prabowo Sambut Presiden Brasil Bawa Ratusan Pebisnis ke Indonesia
Oleh karena itu, tambah Habib Ja’far, perlunya kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menerima informasi atau mendengar ceramah dari ulama yang berasal dari luar Indonesia. Apakah ceramah tersebut bisa disesuaikan dengan karakter bangsa, atau tidak. Jangan sampai umat malah mudah menghakimi atau memprovokasi orang lain yang tidak sependapat.
“Akulturasi inilah yang menyebabkan Islam di Indonesia begitu kuat. Meskipun kita dijajah dalam waktu yang lama, nilai-nilai Islam tetap terjaga karena telah berbaur dengan budaya Indonesia itu sendiri,” kata Habib Ja’far.
Menanggapi kelompok garis keras yang kerap membenturkan Islam dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa, Habib Ja’far menyatakan, tindakan tersebut tidak tepat. Dia berpandangan, Islam dan Pancasila tidak bisa disandingkan, karena keduanya memiliki nilai-nilai yang sama dalam konteks berbeda.
Menurutnya, menjunjung tinggi nasionalisme dan menjadi Muslim seutuhnya adalah hal yang sudah sepatutnya dijalankan bersamaan. Karena nilai luhur kebangsaan dan ajaran agama sama-sama menentang ketidakadilan dan kezaliman.
Baca juga : PNM Jadi Pencetus Peluncuran Orange Bonds di Indonesia
Habib Ja'far menganalogikan Pancasila layaknya Piagam Madinah, sebuah kesepakatan yang dibuat Nabi Muhammad SAW untuk mengatur kehidupan secara damai antara umat Islam dengan komunitas lain di Madinah. Dia memaparkan, setiap sila dalam Pancasila merefleksikan ajaran dasar Islam.
"Bahkan sejak pertama kali dibuat, Pancasila telah melibatkan para ulama-ulama baik dari Nahdlatul Ulama maupun dari Muhammadiyah," terangnya.
Alumnus Magister Ilmu Qur’an dan Tafsir dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai perlunya masyarakat untuk memilah informasi di tengah infiltrasi ideologi transnational dalam konten dakwah di media sosial. Menurutnya, ujian paling dasar untuk sebuah konten dakwah adalah apakah ia mengandung cinta kasih (rahmatan lil 'alamin) dan etika (akhlak).
Pria berdarah Madura dan Arab ini menilai, dakwah yang benar bersifat aspirasi, inspirasi, dan rasional. Sebaliknya, dakwah yang keliru cenderung menggunakan narasi provokasi, intimidasi dan emosi.
Baca juga : Tekad Kei Hirose Bersama Borneo FC Musim Depan
"Kalau nilai-nilai dakwah itu disampaikan dengan provokasi, maka itu sudah jelas bertentangan dengan nilai Islam. Tapi kalau disampaikan sebagai edukasi, maka itu sesuai dengan nilai-nilai Islam," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya