Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Tanaman karet alam dibawa oleh VOC dari Brazil ke Indonesia dan disebarkan ke wilayah Sumatra Timur dan Riau. Karet kemudian ditanam secara luas di daerah Labuhanbatu dan Asahan. Di Labuhanbatu bahkan telah tumbuh perkebunan milik rakyat.
Di luar areal perkebunan, masyarakat mengambil bibit karet tersebut dan menjadi petani karet, terutama para imigran dari Tiongkok yang semula bekerja sebagai buruh di perkebunan-perkebunan karet. Salah satu yang terbesar di antara para pengusaha karet itu adalah Hock Seng Lie, yang membangun perkebunan karet sangat luas di wilayah Labuhanbatu.
Pada masa itu, persoalan utama adalah: ke mana hasil karet ini akan dipasarkan, sementara belum banyak industri yang mampu mengolahnya di dalam negeri? Di tengah situasi inilah hadir seorang pelaut dari Manado bernama John Lie (dalam beberapa catatan juga disebut memiliki kemungkinan hubungan keluarga dengan Hock Seng Lie). John Lie kemudian dikenal sebagai Pahlawan Nasional dengan pangkat Laksamana Laut.
Baca juga : Harapan Cak Imin, Perempuan Bangsa Mesti Ikut Membesarkan PKB
Setelah diolah secara sederhana, karet-karet tersebut diselundupkan ke Johor (Malaysia) dan Singapura. Jarak yang relatif dekat dari daerah Labuhan Bilik, Tambilahan (Sumatra Utara), serta Bagan Siapi-api (Rokan–Riau), yang merupakan pelabuhan-pelabuhan kecil nelayan, membuat aktivitas ini sulit dideteksi Angkatan Laut Belanda.
John Lie, dengan keberanian dan kelihaian tinggi, mengangkut karet-karet itu dan menyerahkannya kepada pembeli di Johor dan Singapura. Sebagian hasil penyelundupan kemudian dibayarkan dalam bentuk senjata dan mesiu. Senjata dan mesiu ini didistribusikan melalui jalur-jalur hutan via Labuhan Bilik–Simangambat–Pahae, terus ke Siantar hingga sampai ke wilayah Aceh bagian selatan.
Kecerdikan dan keberanian John Lie sangat ditakuti oleh Belanda dan sekutu, hingga ia dijuluki “sea devil of South Asia”. Di sekitar rute inilah kemudian Jenderal Spoor, pimpinan tertinggi militer Belanda di Sumatra Timur, disergap dan terbunuh dalam sebuah operasi laskar pejuang di bawah pimpinan Kapten Sahala (seangkatan dengan Mayor Bejo).
Baca juga : Prabowo Hormat Bendera Australia dalam Upacara Kenegaraan di Sydney
Tidak hanya berperan dalam penyelundupan senjata, John Lie juga dipercaya para pejuang dari Aceh untuk membeli peralatan radio pemancar. Melalui radio inilah berita-berita tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dapat dipancarkan dan didengar oleh dunia internasional, khususnya di India dan Birma (Myanmar). Informasi ini menjadi salah satu bukti bahwa Republik Indonesia masih eksis, sehingga dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, pihak kolonial tidak dapat beralasan bahwa Indonesia telah hilang dari panggung dunia.
Catatan-catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa karet alam memegang peranan penting dalam upaya memerdekakan Indonesia pada tahun 1945. Hasil karet bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi pernah menjadi sumber dana perjuangan, senjata, dan sarana diplomasi tidak langsung di mata dunia.
Oleh karena itu, pada momentum Hari Pahlawan 10 November, sudah selayaknya kita menghargai jasa para pejuang seperti John Lie dan para petani karet, sekaligus menyadari bahwa karet alam harus terus dipelihara, dilindungi, dan diberdayakan oleh masyarakat petani dan seluruh rakyat Indonesia sebagai bagian dari warisan perjuangan bangsa.
Baca juga : BPJPH Tegakkan Kedaulatan Lewat Sertifikasi Halal untuk Kesejahteraan Bangsa
Oleh: A Aziz Pane
Penulis Adalah Ketua Dewan Karet Indonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya