Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Catatan Asep Lukman
Duka Gaza: Korban Ambisi Kekuasaan, Bukan Konflik Agama
Minggu, 1 Februari 2026 13:39 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Terlebih dahulu, izinkan saya mengajukan sebuah pertanyaan sebagai bahan renungan bersama: apakah duka Gaza merupakan korban ambisi kaum agamawan, atau justru tercipta karena prinsip negara dan para penguasanya?
Agama dan Manusia
Kebutuhan jiwa manusia terhadap agama ibarat raga yang membutuhkan asupan makanan, minuman, dan hal-hal yang bersifat materi. Artinya, kebutuhan jiwa terhadap agama bukanlah rekayasa emosi yang disiasati oleh rasio, melainkan sebuah kebutuhan naluriah yang melekat sejak azali.
Terlepas dari benar atau salahnya pilihan keyakinan manusia, hampir semua benak sepakat bahwa agama adalah wawasan ke-Tuhanan yang sarat kasih sayang, kedamaian, keagungan, dan kesucian. Karena itu, bagi para pemeluknya, agama bukan milik perseorangan atau kelompok tertentu, melainkan mutlak milik Tuhan Semesta Alam.
Dengan pemahaman tersebut, agama mustahil dapat terkotori oleh visi dan misi perburuan materi yang sarat dengan kesadisan, kekejaman, dan pelanggaran norma kemanusiaan. Sejak dunia tercipta hingga kelak hancur, mustahil ada ajaran agama yang menghendaki para tokohnya membekali pengikut dengan pedang, tombak, atau senjata tajam lainnya untuk meneror dan mengintimidasi.
Agama sejatinya bergerak melalui pemahaman, logika, dan etika. Karena itu, penyebaran agama dengan cara-cara yang bertentangan dengan nalar dan kemanusiaan justru menunjukkan kontradiksi mendasar.
Kesadaran jiwa manusia dalam menganut agama tidak mungkin dibentuk melalui kekerasan. Kesadaran lahir dari pemahaman rasional yang dilandasi nilai-nilai luhur. Bahkan sejahat apa pun seseorang, ketika ia benar-benar menjadi rahib Yahudi, Paulus, atau alim ulama, unsur kejahatan dalam dirinya akan terkekang oleh embrio kesucian ajaran yang diyakininya.
Baca juga : Dapat Bantuan Rp 10 Juta, Pengungsi Longsor Bandung Barat Mulai Kontrak Rumah
Lantas, benarkah perang Israel–Palestina terjadi demi visi dan misi religius yang diprakarsai para tokoh agama untuk mengubah keyakinan bangsa Palestina? Ataukah konflik itu sejatinya merupakan persengketaan kepentingan materi dan kekuasaan kawasan yang dipandang strategis oleh para penguasa negara?
Rasa Iba untuk Gaza
Secara naluriah, setiap jiwa manusia yang memiliki potensi ke-Tuhanan pasti akan merasa iba ketika menyaksikan jatuhnya korban dalam peperangan. Namun, kuatnya prinsip-prinsip kenegaraan kerap menjelma menjadi ambisi yang memaksa para penguasa mengabaikan rasa kemanusiaan demi perburuan materi, baik melalui perang maupun politik ekonomi monopoli.
Dalam logika negara, rasa kemanusiaan sering dipandang sebagai penghalang misi. Sebab, jika negara terlalu teguh berpegang pada naluri kemanusiaan, maka eksistensinya dianggap terancam. Negara, menurut pandangan ini, harus keras agar tidak runtuh.
Agresi Israel ke Palestina yang telah berlangsung lama dapat dibaca sebagai manifestasi visi dan misi negara untuk memperbesar kekuatan ekonomi dan politiknya, termasuk melalui peningkatan anggaran pendapatan dan belanja negara agar dinobatkan sebagai negara kuat dan disegani.
Di sisi lain, kelompok Hamas yang berambisi menjadi penguasa negara Palestina selalu berhadapan dengan kekuatan Israel yang didukung negara adidaya. Sederhananya, konflik ini tidak jauh berbeda dengan kisah negara yang mencaplok wilayah lain demi kepentingan geopolitik, sebagaimana Indonesia dahulu mencaplok Timor Timur.
Hamas kerap dipandang sebagai pejuang bangsa Palestina, bahkan dilekatkan dengan label pejuang Muslim. Namun jika dikaji lebih dalam, duka Gaza sejatinya adalah akibat dari benturan ambisi antarkelompok yang sama-sama ingin berkuasa, baik ambisi penguasa Israel maupun ambisi kelompok yang ingin menguasai Palestina.
Baca juga : Inklusi Keuangan, Kunci Keberlanjutan Dana Haji
Artinya, tragedi Gaza bukanlah perang antara masyarakat Israel dan masyarakat Palestina. Dalam konflik ini, masyarakat sipil selalu dijadikan alat, alasan, sekaligus korban.
Harapan Masyarakat
Masyarakat sebagai penghuni mayoritas suatu negara pasti akan diliputi kebingungan ketika dihadapkan pada situasi perang yang mencekam. Rasa terancam, kehilangan sanak saudara, tetangga, dan kerabat dekat menjadi keseharian. Dalam kondisi seperti itu, satu-satunya harapan masyarakat hanyalah hidup jauh dari bunyi ledakan.
Kita bisa membayangkan harapan masyarakat Palestina saat ini. Mungkin kalimat yang terlintas di benak mereka berbunyi: “Lebih baik hidup dengan mahalnya harga kebutuhan pokok daripada setiap hari mendengar dentuman meriam.”
Mari bertanya pada rasa dan logika: samakah harapan masyarakat itu dengan ambisi kelompok Hamas dan penguasa Israel?
Bagi Hamas yang mengatasnamakan perjuangan, jatuhnya korban sipil akan dianggap sebagai risiko. Bagi penguasa Israel, penderitaan warga sipil kerap dipandang sebagai konsekuensi yang harus ditanggung. Maka harapan sederhana masyarakat Palestina hampir pasti dianggap salah oleh kedua belah pihak.
Lalu, mungkinkah harapan masyarakat Palestina itu didengar?
Baca juga : Senayan Dukung Upaya Nyata Perbaiki Kerusakan Lingkungan
Jawabannya singkat: mustahil.
Di tengah ambisi kekuasaan, jeritan masyarakat sipil nyaris tak pernah menjadi prioritas. Sementara para penguasa terus bertikai, masyarakat hanya bisa bertanya dengan nada putus asa: “Mengapa kami yang selalu menjadi korban?”
Asep Lukman
Wakil Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Barat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya