Dark/Light Mode

Hima Persis Tangsel: 8 Buku Yusril Adalah Kado Intelektual Terbesar Bangsa

Sabtu, 7 Februari 2026 21:50 WIB
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (kedua kiri) dalam Peluncuran 8 Buku Rekam Jejak 70 Tahun. (Foto: Dok. Penulis)
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (kedua kiri) dalam Peluncuran 8 Buku Rekam Jejak 70 Tahun. (Foto: Dok. Penulis)

Peluncuran delapan buku sekaligus oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dalam peringatan hari ulang tahunnya yang ke-70 bukan sekadar peristiwa seremonial. Bagi kami di Pimpinan Daerah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PD Hima Persis) Tangerang Selatan, momentum ini adalah oase literasi di tengah dinamika politik nasional yang kerap bising oleh kepentingan jangka pendek.

Langkah Prof. Yusril merilis delapan karya lintas disiplin—mulai dari hukum tata negara, pemikiran Islam, hingga biografi—menunjukkan konsistensi seorang negarawan dalam menjaga tradisi intelektual. Di usia yang ke-70, produktivitas tersebut bukan hanya patut diapresiasi, melainkan juga dijadikan teladan.

Kami melihat ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan kado intelektual terbesar untuk bangsa. Prof. Yusril membuktikan bahwa pengabdian tertinggi seorang tokoh bukan hanya melalui jabatan yang pernah atau sedang diemban, tetapi melalui gagasan yang diwariskan secara tertulis dan dapat diuji lintas zaman.

Baca juga : Bamsoet Apresiasi Peluncuran 8 Buku Yusril sebagai Warisan Intelektual Bangsa

Keteladanan bagi Aktivis Muda

Bagi kalangan aktivis mahasiswa, produktivitas tersebut seharusnya menjadi standar baru. Integritas seorang tokoh publik tidak cukup diukur dari posisi strategis yang diduduki, melainkan dari kedalaman pemikiran yang terdokumentasi dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Tradisi menulis adalah tradisi merawat peradaban.

Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis), kami memandang sosok Prof. Yusril sebagai perpaduan antara akademisi dan praktisi yang langka. Pengalaman beliau di ranah pemerintahan berpadu dengan ketekunan intelektual yang konsisten. Delapan buku tersebut menjadi peta jalan bagi generasi muda untuk memahami bagaimana Islam, hukum, dan demokrasi dapat berdialog secara harmonis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca juga : Yusril: Kami Ingin UMKM Terlindungi

Kehadiran karya-karya tersebut juga relevan dalam konteks kebangsaan hari ini. Ketika wacana hukum tata negara kerap diperdebatkan secara pragmatis, dokumentasi pemikiran yang sistematis menjadi rujukan penting agar diskursus publik tetap berada dalam koridor konstitusi dan etika bernegara.

Secara khusus, kami mengapresiasi keputusan Prof. Yusril untuk menggratiskan akses terhadap karya-karya tersebut dalam format digital. Langkah ini bukan hanya simbolis, tetapi substantif. Di tengah mahalnya akses terhadap literatur berkualitas, kebijakan tersebut merupakan bentuk nyata demokratisasi ilmu pengetahuan.

Keputusan membagikan buku secara gratis menunjukkan bahwa ilmu tidak boleh menjadi komoditas eksklusif. Ilmu harus menjadi milik publik. Mahasiswa dan masyarakat luas berhak membaca, mengkaji, bahkan mengkritisi arah pemikiran hukum dan kebangsaan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Baca juga : 15 Jembatan Perintis Dibangun, Desa-desa Terisolasi di Aceh Kembali Terbuka

Bagi kami, ini adalah pesan moral yang kuat: tradisi intelektual harus dibarengi dengan keterbukaan. Gagasan yang baik tidak takut diuji. Justru melalui dialog dan kritik, pemikiran akan menemukan relevansinya dalam menjawab tantangan zaman.

Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda Islam untuk tidak menjauh dari dunia literasi. Aktivisme tanpa basis intelektual hanya akan melahirkan kegaduhan. Sebaliknya, aktivisme yang ditopang oleh kedalaman bacaan dan tradisi menulis akan melahirkan gerakan yang berakar dan berkelanjutan.

Akhirnya, kami mendoakan agar Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus mengawal konstitusi serta memberikan bimbingan moral bagi para intelektual muda di Indonesia. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak teladan yang mewariskan gagasan, bukan sekadar meninggalkan jejak kekuasaan.

Mihyaz
Mihyaz
Ketua PD Hima Persis Tangsel

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.