Dark/Light Mode

Cap Go Meh Wadah Persatuan Antar-Suku Bangsa

Rabu, 4 Maret 2026 15:12 WIB
Tatung di Singkawang (Sumber Foto: Dok. Acung Singkawang)
Tatung di Singkawang (Sumber Foto: Dok. Acung Singkawang)

Saat Abdurrahman Wahid (2000-2002) mejadi Presiden RI yang ke-4, ia menerbitkan Keppres Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 (tentang pelarangan budaya Tionghoa) dan mengakui Konghucu sebagai agama yang setara dengan enam agama lainnya di Indonesia. Sejak itulah, masyarakat Tionghoa mulai merayakan Imlek dan Cap Go Meh secara terbuka di depan umum. Presiden Abdurrahman Wahid telah memberi jalan bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh secara terbuka yang tidak mereka rasakan selama 32 tahun berkuasanya Orde Baru. 

Tahun Baru Imlek atau 春节 (Chūnjié) 2577 jatuh pada Selasa, 17 Maret 2026. Berarti 15 hari setelah Imlek, atau jatuh pada 3 Maret 2026, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, merayakan Cap Go Meh. Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien, salah satu dialek Tionghoa di Indonesia yang sebagian besar tinggal di Pulau Jawa dan Medan. Cap Go berarti lima belas atau hari ke-15 bulan pertama Tahun Baru Imlek dan Meh berarti malam. Artinya malam Cap Go Meh atau malam 15 Imlek masyarakat melakukan berbagai aktivitas untuk merayakan Cap Go Meh. Dalam bahasa Mandarin, Cap Go Meh dikenal sebagai Yuan Xiao Jie atau Festival Lampion. Cap Go Meh adalah perayaan penutup dari Tahun Baru Imlek.

Di Tiongkok, Cap Go Meh dikenal dengan nama Yuan Xiao Jie (Festival Lampion), sebagai penutup dari perayaan Tahun Baru Imlek pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar. Perayaan ini dilakukan dengan cara meriah, yaitu ditandai dengan pemasangan lampion merah, di rumah-rumah, di sudut-sudut kota, tempat-tempat ibadah, di jalan-jalan desa dan umum. Pemasangan lampion ini adalah terkandung harapan bahwa tahun ini akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, mereka juga memakan Tang Yuan, yaitu berbentuk bola-bola yang terbuat dari ketan (seperti wedang ronde) yang menyimbolkan persatuan dan keutuhan anggota keluarga. Mereka tidak berharap pada tahun ini adanya perpecahan dan permusuhan dalam keluarga mereka. Bagi mereka, keutuhan keluarga itu adalah yang paling penting dari segalanya. Keutuhan keluarga adalah simbol dari keutuhan yang lebih luas, yaitu negara. Perayaan Cap Go Meh di Tiongkok juga dimeriahkan dengan pertunjukan tarian naga, barongsai, dan menebak teka-teki. Tradisi ini terus dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca juga : Cap Go Meh 2026, Telkomsel Perkuat Jaringan Hyper 5G Di Singkawang

Sebagaimana kita ketahui bahwa orang Tionghoa adalah salah satu suku bangsa yang sangat kuat dalam melestarikan tradisi leluhur, terutama tradisi menghormati leluhur. Tradisi menghormati leluhur ini juga menjadi tradisi bagi Confucius (551-479 SM) semasa hidup. Bagi orang Tionghoa, melestarikan tradisi sama artinya dengan menghormati leluhur yang melahirkan tradisi tersebut dan meneruskannya dari satu generasi ke generasi yang lain. Apa yang baik dari leluhur adalah sebuah ajaran moral yang patut dihormati dan dilestarikan oleh generasi berikutnya. Jika tradisi yang baik itu tidak diteruskan, sama artinya dengan tidak menghormati apa yang sudah diajarkan oleh leluhur.

Perayaan lampion ini menandai bulan purnama pertama setelah Tahun Baru Imlek, menjadikan malam yang dinantikan orang Tionghoa dengan keindahan cahaya lampion di mana-mana tempat dan menerangi kampung dan kota-kota. Lampion yang terpasang di berbagai tempat ini menjadi daya tarik para wisatawan yang datang untuk menyaksikannya. Lampion adalah simbol penerangan, harapannya agar tahun yang baru ini akan dimudahkan segala urusan, diberi kesehatan dan dimurahkan rezeki. Ada juga kepercayaan oleh sebagian masyarakat Tionghoa, bahwa pemasangan lampion di berbagai sudut kota, tempat ibadah dan rumah-rumah, adalah simbol untuk memberikan penerangan bagi dewa dapur yang datang dari menemui Tuhan dan kembali ke rumah-rumah di mana dia tinggal sebelumnya. Dalam kepercayaan sebagian masyarakat Tionghoa, dewa dapur diyakini tinggal di rumah dan berfungsi mencatat perilaku anggota keluarga yang ada di rumah yang dia tinggali. Beberapa hari sebelum Tahun Baru Imlek, dewa dapur diyakini naik ke langit menemui Tuhan dan melaporkan hasil catatannya selama setahun kepada Tuhan.

Banyak tradisi dan kepercayaan yang menyelimuti masyarakat Tionghoa dalam perayaan Cap Go Meh di seluruh Indonesia. Kota Singkawang, Kalimantan Barat, misalnya, di samping melakukan berbagai ritual keagamaan di tempat ibadah, seperti kelenteng, juga digelarnya pertunjukan barongsai dan tatung di tempat-tempat umum untuk mengusir roh-roh jahat dan memberikan hiburan kepada masyarakat. Tatung adalah orang yang dirasuki roh-roh dewa dan leluhur, yang diyakini orang Tionghoa dapat mengusir roh-roh jahat, mengobati dan meramal nasib manusia. Tatung-tatung di Kota Singkawang yang menunjukkan kemampuannya di muka umum, tidak hanya berasal dari masyarakat Tionghoa, tapi juga berasal dari sebagian kecil masyarakat Dayak setempat. Demikian juga di tempat-tempat yang lain seperti Medan, Jawa, Pontianak, Bandung, Bogor dan lain-lain yang terdapat komunitas Tionghoa, juga melakukan perayaan Imlek dengan cara yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. 

Baca juga : Ibas : Wapres Try Sutrisno Adalah Pejuang Konstitusi dan Patrot Bangsa

Perayaan Cap Go Meh 2577 atau bertepatan dengan 2026 M, bersamaan dengan umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Di satu sisi, umat Islam melakukan serangkaian ibadah di masjid-masjid dan musala-musala pada malam Ramadan, dan siangnya mereka melaksanakan ibadah puasa. Di sisi lain, masyarakat Tionghoa juga melakukan perayaan Cap Go Meh baik pada malam 15 dan pada hari ke-15 Imlek. Dua peristiwa penting ini diharapkan dapat berjalan dengan baik tanpa ada hambatan satu dengan yang lainnya. Kedua belah pihak harus saling menghormati dan menjunjung tinggi perbedaan. Masyarakat yang merayakan Cap Go Meh juga perlu menghormati umat Muslim yang sedang melakukan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain di bulan Ramadan. Saling menghargai adalah salah satu budaya leluhur masyarakat Indonesia yang patut dilestarikan. 

Jika pada tahun-tahun sebelumnya perayaan Cap Go Meh dilaksanakan dengan kemeriahan, namun pada tahun 2026 ini perayaan Cap Go Meh perlu memikirkan bagaimana membantu orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi. Sebagaimana diketahui, tidak semua masyarakat Tionghoa memiliki ekonomi yang tinggi dan masih banyak di antara mereka yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka juga perlu mendapatkan perhatian dari saudara-saudara mereka yang mampu secara ekonomi. Jika kita berada di Kota Singkawang, kita akan menyaksikan banyak orang Tionghoa yang hidup berkekurangan, terutama bagi mereka yang tinggal di desa-desa dan bekerja sebagai petani, nelayan, tukang, buruh dan lain-lain pekerjaan. Mereka juga harus merasakan kebahagiaan seperti saudara-saudara mereka yang mapan secara ekonomi di perayaan Cap Go Meh. Jangan sampai ada satu kelompok masyarakat hidup dalam penderitaan sedangkan kelompok yang lain menunggu uluran tangan dari yang mampu.

Cap Go Meh bukan sekadar perayaan penutup dari serangkaian Tahun Baru Imlek, bukan saja tanda ucapan syukur kepada Tuhan, dan menghibur masyarakat dengan berbagai pertunjukan kesenian, tapi juga dapat dijadikan sarana untuk mempersatukan berbagai suku bangsa, budaya dan agama yang ada di daerah di mana perayaan Cap Go Meh tersebut dilakukan. Jika dalam perayaan Cap Go Meh dirasakan belum ada suku bangsa-suku bangsa lain yang terlibat di dalamnya, belum ada kegiatan sosial yang dapat meringankan beban ekonomi masyarakat yang kurang mampu, perlu dipikirkan bagaimana dalam satu perayaan Cap Go Meh dapat melibatkan dari berbagai suku bangsa dan budaya dan ada kegiatan sosial yang dapat membantu masyarakat kurang mampu. Meskipun di tahun-tahun yang lalu ada di beberapa daerah yang menggabungkan perayaan Cap Go Meh dengan bakti sosial, pembagian sembako dan pengobatan gratis, namun pada perayaan Cap Go Meh tahun 2577 perlu ditingkatkan lagi, karena kegiatan sosial ini memiliki dampak positif bagi masyarakat yang kurang mampu.***

M. Ikhsan Tanggok
M. Ikhsan Tanggok
Guru Besar Antropologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.