Dark/Light Mode

Negara Tak Boleh Kalah Oleh Bandar

Jumat, 3 Juli 2026 22:19 WIB
Emmy Kuswandari. (Foto: dok pribadi)
Emmy Kuswandari. (Foto: dok pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus ganja untuk cairan vape di Gresik menunjukkan bahwa peredaran narkoba bukan hanya perkara kriminalitas. Ia menjadi ujian atas wibawa negara, ketegasan hukum, dan kemampuan bangsa melindungi generasi muda.

Pengungkapan 3,37 ton ganja asal Thailand di sebuah gudang di Gresik, Jawa Timur, tidak bisa dibaca hanya sebagai keberhasilan aparat menggagalkan penyelundupan narkotika. Peristiwa ini juga harus dilihat sebagai alarm reputasi bangsa. Setiap kali narkoba dalam jumlah besar berhasil masuk atau nyaris beredar, pertanyaan yang muncul bukan hanya siapa pelakunya, tetapi juga seberapa kuat negara menjaga pintu-pintu masuknya.

Dalam kasus tersebut, ganja yang diamankan diduga bukan untuk diedarkan secara konvensional. Barang itu disebut akan digunakan sebagai bahan baku ekstrak tetrahidrokanabinol (THC) untuk cairan isi ulang dan cartridge rokok elektrik atau vape. Artinya, narkoba tidak lagi hanya hadir dalam bentuk yang mudah dikenali, tetapi mulai menyusup melalui medium yang tampak modern, praktis, dan dekat dengan gaya hidup anak muda.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih mengkhawatirkan. Vape selama ini kerap dibicarakan sebagai tren, pilihan gaya hidup, atau alternatif dari rokok konvensional. Namun, kasus Gresik memperlihatkan bahwa perangkat kecil yang mudah dibawa dan dipertukarkan itu dapat menjadi ruang penyamaran baru bagi zat berbahaya.

Ada reputasi negara yang dipertaruhkan. Mau menjadi bangsa seperti apa jika pintu masuk barang haram terus dapat ditembus, jaringan internasional terus menemukan celah, dan anak-anak muda menjadi pasar yang diburu? Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menafikan kerja aparat, tetapi untuk menegaskan bahwa keberhasilan penindakan tidak boleh membuat kita merasa persoalan telah selesai.

Justru dari satu kasus besar seperti ini, pertanyaan yang lebih tidak nyaman perlu diajukan: berapa banyak yang mungkin sudah lolos sebelumnya? Jika berton-ton ganja dapat dikemas dalam koper, kardus, dan peti kemas, lalu disiapkan sebagai bahan baku cairan vape, kita sedang berhadapan dengan jaringan yang rapi, sabar, dan mampu membaca celah sistem.

Narkoba bergerak mengikuti zaman. Ketika perdagangan lintas negara semakin terbuka, sindikat memanfaatkan pelabuhan dan gudang. Ketika jasa pengiriman dan transaksi digital tumbuh, barang terlarang mencari celah melalui paket kecil. Ketika anak muda akrab dengan vape, cartridge, dan perangkat portabel, narkoba pun menyesuaikan kemasan serta cara hadirnya.

Baca juga : AHY: Negara Tidak Boleh Kehabisan Gagasan

Karena itu, persoalan narkoba bukan hanya urusan kriminalitas, melainkan juga urusan komunikasi, kebudayaan, dan reputasi nasional. Sindikat tampak memahami bahwa anak muda tidak hanya membeli benda, tetapi juga simbol: pergaulan, keberanian, kebebasan, dan gaya hidup. Ketika narkoba mampu menumpang pada simbol yang dianggap biasa, pesan bahayanya menjadi semakin sulit ditangkap publik.

Negara tidak boleh kalah membaca bahasa zaman. Kampanye antinarkoba yang hanya mengandalkan slogan, spanduk, dan ceramah seremonial tidak cukup menghadapi sindikat yang terus beradaptasi. Jika jaringan narkoba mampu berbicara dalam bahasa anak muda, komunikasi pencegahan juga harus hadir dalam bahasa yang relevan, jujur, ilmiah, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Data nasional menunjukkan bahwa persoalan narkoba bukan masalah kecil. Survei prevalensi periode 2023–2025 mencatat angka pengguna narkoba di Indonesia mencapai 2,11 persen atau setara dengan sekitar 4,15 juta penduduk. Angka ini meningkat dibandingkan prevalensi 2023 yang berada pada 1,73 persen. BNN juga menyebut temuan tersebut masih bersifat underestimate, sehingga kondisi di lapangan diyakini bisa lebih besar daripada yang terekam dalam survei.

Kelompok usia muda masih menjadi kelompok yang sangat rentan. Ini berarti narkoba tidak hanya menyerang individu, tetapi juga menggerogoti bonus demografi yang selama ini disebut sebagai modal besar menuju Indonesia Maju. Jika generasi mudanya rapuh karena narkoba, cita-cita besar tentang Indonesia Emas akan kehilangan pijakan sosialnya.

Ketegasan hukum menjadi bagian penting dari reputasi bangsa. Namun, ketegasan tidak cukup hanya berarti hukuman berat di atas kertas. Yang lebih penting adalah kepastian penegakan hukum. Siapa pun yang terlibat dalam jaringan narkoba, terutama bandar besar, pemodal, pelindung, dan aktor yang membantu distribusi, harus diproses secara terbuka, konsisten, dan tanpa kompromi.

Publik perlu melihat bahwa negara tidak hanya keras kepada kurir kecil, tetapi juga serius membongkar jaringan besar. Ketika hanya pelaku lapis bawah yang mudah terlihat, sementara aktor besar sulit tersentuh, kepercayaan publik akan terkikis. Dalam isu narkoba, lemahnya kepercayaan publik sama berbahayanya dengan lemahnya pengawasan.

Ketegasan hukum juga harus berjalan bersama pemulihan yang manusiawi. Bandar, produsen, penyelundup, dan jaringan terorganisasi perlu ditindak keras. Namun, penyalahguna yang menjadi korban ketergantungan perlu mendapat akses rehabilitasi dan pendampingan agar tidak terus berputar dalam lingkaran kriminalitas.

Baca juga : Negara yang Mendengar

Selain penegakan hukum, komunikasi pencegahan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kampanye antinarkoba tidak boleh hanya muncul saat peringatan resmi, konferensi pers, atau setelah kasus besar terungkap. Ia harus masuk ke rumah, sekolah, kampus, RT/RW, komunitas keagamaan, karang taruna, tempat kerja, komunitas olahraga, hingga ruang digital yang setiap hari diakses anak muda.

Di tingkat keluarga, pencegahan dapat dimulai dari percakapan sederhana dan rutin. Orang tua tidak harus menunggu masalah muncul untuk berbicara tentang vape, rokok, alkohol, tekanan pergaulan, dan narkoba. Obrolan pendek yang hangat, tanpa nada menghakimi, sering kali lebih membuka ruang kepercayaan daripada nasihat panjang yang hanya berisi larangan.

Di tingkat lingkungan, tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, karang taruna, komunitas keagamaan, dan kelompok ibu dapat menjadi simpul komunikasi pencegahan. Diskusi kecil tentang modus baru narkoba, tanda-tanda anak mulai berisiko, cara menolak ajakan teman, dan jalur bantuan yang bisa dihubungi akan lebih mudah diterima karena dekat dengan kehidupan warga.

Salah satu pendekatan yang layak dikembangkan adalah human library atau perpustakaan manusia. Dalam forum seperti ini, anak-anak muda dapat bertemu dan bertanya langsung kepada orang-orang yang pernah menjadi pengguna narkoba, menjalani rehabilitasi, berhadapan dengan hukum, atau menjalani masa hukuman, lalu berhasil pulih dan membangun hidup kembali. Pengalaman nyata seperti ini sering kali lebih kuat daripada ceramah karena anak muda melihat langsung konsekuensi, penyesalan, proses pemulihan, dan harapan untuk berubah.

Tentu, human library harus disiapkan secara etis dan aman. Para narasumber perlu dipilih dengan hati-hati dan didampingi konselor, pendamping rehabilitasi, psikolog, atau lembaga yang kompeten. Tujuannya bukan membuat cerita menjadi sensasional, melainkan menjadikan pengalaman hidup sebagai pelajaran sosial yang menyentuh kesadaran anak muda.

Di sekolah, kampus, dan ruang digital, pencegahan perlu dipadukan dengan literasi kesehatan mental, diskusi tentang tekanan pergaulan, simulasi menolak ajakan berisiko, konten pendek, cerita nyata, tanya jawab anonim, serta cek fakta tentang vape dan zat adiktif. Kampanye yang baik bukan hanya yang viral, melainkan yang membuat orang berhenti sejenak, berpikir, dan berani berkata tidak.

Yang tidak kalah penting adalah menyediakan jalur bantuan yang aman dan tidak mempermalukan. Masyarakat perlu tahu ke mana harus berkonsultasi, melapor, atau meminta pertolongan ketika melihat tanda-tanda risiko pada anak, teman, atau anggota keluarga. Kampanye pencegahan akan kehilangan kekuatan jika hanya memberi peringatan, tetapi tidak menyediakan pintu keluar.

Baca juga : Perbaikan Tata Kelola Makanan

Kasus ganja untuk cairan vape di Gresik akhirnya membawa kita pada pertanyaan mendasar: mau menjadi bangsa seperti apa? Bangsa yang hanya terkejut setiap kali kebobolan, lalu kembali lupa setelah berita berganti? Atau bangsa yang menjadikan setiap pengungkapan sebagai momentum memperbaiki pengawasan, memperkuat hukum, dan membangun perlindungan sosial bagi generasi muda?

Reputasi bangsa tidak hanya dibangun dari pertumbuhan ekonomi, infrastruktur megah, atau pidato tentang masa depan. Reputasi bangsa juga ditentukan oleh kemampuannya melindungi anak-anak mudanya dari pasar gelap yang terus mencari korban. Negara yang kuat adalah negara yang pintu masuknya dijaga, hukumnya dipercaya, komunikasinya didengar, dan warganya merasa dilindungi.

Bangsa ini tidak boleh kalah oleh bandar. Bukan hanya karena narkoba merusak tubuh dan masa depan anak muda, tetapi karena setiap celah yang dibiarkan terbuka akan menggerus kepercayaan publik kepada negara. Dalam perang melawan narkoba, yang dipertaruhkan bukan sekadar barang bukti, melainkan martabat bangsa dan keselamatan generasi yang akan meneruskan negeri ini.

Oleh: Emmy Kuswandari
Penulis adalah mahasiswi Program Pascasarjana Universitas Paramadina.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.