Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam politik modern, rasa malu sering dianggap kelemahan. Pemimpin dituntut tampil percaya diri, institusi dituntut terlihat kuat, dan kekuasaan dituntut selalu tampak benar. Akibatnya, kemampuan untuk merasa malu perlahan menghilang. Padahal dalam kehidupan publik, rasa malu yang sehat justru merupakan salah satu fondasi etika yang paling penting.
Banyak krisis tidak bermula dari kesalahan pertama. Krisis muncul ketika kesalahan tidak lagi menimbulkan rasa malu. Ketika janji yang gagal ditepati dianggap biasa, ketika pelayanan yang buruk dianggap lumrah, atau ketika penyalahgunaan kewenangan dijelaskan dengan berbagai pembenaran. Di titik itulah masalah kecil berubah menjadi budaya.
Baca juga : Keadilan yang Terasa
Rasa malu memiliki fungsi moral yang unik. Ia mengingatkan bahwa ada jarak antara apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang benar-benar terjadi. Tanpa kemampuan merasakan jarak itu, kekuasaan mudah kehilangan refleksi diri. Yang tersisa hanyalah pembelaan, rasionalisasi, dan kemampuan mencari alasan.
Masalahnya, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar godaan untuk menyingkirkan rasa malu. Lingkungan kekuasaan sering menciptakan ruang yang melindungi pemiliknya dari kritik langsung. Kesalahan dibungkus oleh prosedur, kegagalan disamarkan oleh statistik, dan tanggung jawab tersebar ke begitu banyak pihak hingga tidak lagi terasa milik siapa pun.
Martha Nussbaum dalam Hiding from Humanity (2004) menjelaskan bahwa emosi moral seperti rasa malu tidak selalu bersifat negatif. Dalam kadar yang tepat, ia membantu manusia mengenali keterbatasan dirinya dan menjaga hubungan etis dengan orang lain. Tanpa kemampuan itu, individu maupun institusi mudah kehilangan kompas moral.
Negara yang sehat bukan negara yang tidak pernah salah. Negara yang sehat adalah negara yang masih memiliki kapasitas untuk merasa terganggu oleh kesalahannya sendiri. Dari rasa tidak nyaman itulah lahir evaluasi, koreksi, dan perbaikan. Ketika rasa malu hilang, kesalahan justru berisiko diulang dengan lebih percaya diri.
Baca juga : Bekerja untuk Siapa
Karena itu, persoalan terbesar dalam kekuasaan bukan hanya korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau kebijakan yang keliru. Persoalan yang lebih mendasar adalah hilangnya kemampuan untuk merasa malu ketika semua itu terjadi. Sebab banyak krisis lahir bukan karena elite tidak tahu apa yang salah, melainkan karena mereka tidak lagi merasa perlu menyesali kesalahannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.