Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Rakyat Merdeka (RM.id) edisi 17 Juni 2026 menurunkan artikel berjudul “MBG Dievaluasi Total” dan artikel lain berjudul “Pemerintah Manfaatkan Libur Sekolah untuk Evaluasi dan Penataan SPPG”. Karena saat ini kita telah memasuki masa liburan sekolah, ada baiknya disampaikan beberapa pertimbangan dan usulan sebagai bagian dari partisipasi publik untuk memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan.
Dalam konteks tersebut, menarik pula untuk mencermati publikasi World Health Organization (WHO) yang terbit pada Juni 2026. Pada 4 Juni 2026, WHO mengeluarkan rilis mengenai dampak buruk makanan yang tidak aman (unsafe food) dengan judul “Unsafe Food Causes 866 Million Illnesses and 1.5 Million Deaths Annually, Young Children at Highest Risk”. Tentu publikasi WHO ini tidak secara spesifik membahas program tertentu di negara tertentu, tetapi merupakan kajian ilmiah yang layak dicermati, termasuk dalam pengelolaan dapur SPPG.
WHO memperkirakan makanan tidak aman di dunia berhubungan dengan sekitar 866 juta kasus penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Sebagian besar kasus penyakit tersebut terjadi akibat paparan cemaran biologis, termasuk bakteri, virus, dan parasit. Selain itu, paparan bahan kimia juga berhubungan dengan kejadian kematian.
Baca juga : Perubahan Geopolitik Dunia Saat Ini Membutuhkan Transformasi Organisasi PBB (Bagian I)
Data tahun 2021 menunjukkan sekitar 73 persen kematian akibat kontaminasi makanan terjadi karena paparan bahan kimia. Dua bahan kimia utama yang berhubungan dengan kematian tersebut adalah arsen anorganik (42 persen) dan timbal atau lead (31 persen), yang merupakan logam berat dengan simbol kimia Pb (plumbum). Disebutkan pula bahwa paparan kedua zat tersebut berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan kanker. Berbagai kemungkinan paparan bahan biologis maupun bahan kimia ini tentu harus menjadi perhatian penting bagi pengelola dapur di berbagai tempat.
Untuk pengendaliannya, WHO menyatakan bahwa sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian tersebut dapat dicegah dengan memperbaiki setidaknya tiga hal.
Pertama, menjamin mutu air, sanitasi, dan higiene (WASH-water, sanitation and hygiene). Kedua, selalu menerapkan praktik keamanan pangan (food safety practices).
Baca juga : Kedaulatan RI Menjadi Tantangan Strategi Penyelenggaraan Manajemen Pemerintahan
Kedua hal ini tentu berhubungan langsung dengan dapur yang menyediakan makanan di mana pun berada, baik dapur rumah tangga, dapur di fasilitas umum, maupun dapur SPPG.
Ketiga, WHO menekankan pentingnya tersedianya akses pelayanan kesehatan bagi kelompok yang rentan terhadap keracunan makanan. WHO juga menyatakan bahwa walaupun penyakit akibat makanan (foodborne disease) secara umum telah menurun sejak tahun 2000, berbagai kawasan masih menghadapi masalah yang cukup besar, dengan beban tertinggi berada di Afrika dan Asia Tenggara.
Selain dampak kesehatan, data ilmiah menunjukkan bahwa pada 2021 penyakit akibat makanan tidak aman diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi berupa hilangnya waktu produktif akibat sakit, dengan nilai mencapai sekitar 310 miliar dolar Amerika Serikat.
Baca juga : Pancasila Dan Literasi: Dua Pilar Indonesia Menghadapi Ketidakpastian Global
Sebagai penutup, perlu dikutip pernyataan Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menyebutkan bahwa keamanan pangan bukanlah isu yang abstrak. Persoalan ini dapat terkait dengan berbagai jenis makanan dan menjadi masalah yang dihadapi masyarakat setiap hari. Dr. Tedros menegaskan bahwa makanan tidak aman merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting dan harus menjadi perhatian utama di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Semoga publikasi WHO ini dapat menjadi salah satu masukan bagi para pengambil kebijakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang saat ini disebutkan sedang melakukan perbaikan tata kelola.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, Kepala Balitbangkes
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 dari Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI Tahun 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya