Dark/Light Mode

Delegasi Misi Dagang AS Jajaki Peluang Baru Di Pasar Indonesia

Senin, 6 Juni 2022 20:52 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Arifin Tasrif bersama Wakil Asisten Menteri Perdagangan Amerika Serikat untuk Asia Pamela Phan (kedua kiri) dan Direktur Badan Pembangunan dan Perdagangan AS Enoh T Ebong (kanan) serta Duta Besar AS untuk Indonesia Sung Kim (kiri) dalam kunjungan Misi Perdagangan Clean EDGE di Indonesia. (Foto Kedubes AS)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Arifin Tasrif bersama Wakil Asisten Menteri Perdagangan Amerika Serikat untuk Asia Pamela Phan (kedua kiri) dan Direktur Badan Pembangunan dan Perdagangan AS Enoh T Ebong (kanan) serta Duta Besar AS untuk Indonesia Sung Kim (kiri) dalam kunjungan Misi Perdagangan Clean EDGE di Indonesia. (Foto Kedubes AS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS), Senin (6/6), memimpin delegasi perwakilan bisnis Negeri Paman Sam yang akan menjajaki peluang dan kolaborasi baru di pasar Indonesia.

Ini merupakan kunjungan perdana misi perdagangan Pemerintah AS ke kawasan Asia, setelah penandatanganan bersejarah Kerangka Ekonomi Indo Pasifik (Indo-Pacific Economic Framework for Prosperity/IPEF) oleh Presiden Joe Biden, Presiden Jokowi, dan pemimpin lainnya di kawasan.

IPEF terdiri dari AS, Indonesia, dan 12 negara mitra lainnya (Australia, Brunei Darussalam, Fiji, India, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam).

Kegiatan tersebut adalah bagian dari Misi Pengembangan Bisnis Clean Enhancing Development and Growth through Energy (EDGE) Asia. Misi ini bertujuan untuk mendukung dan mempercepat transisi energi bersih di Asia dengan menggunakan keahlian dan sumber daya sektor publik dan swasta AS.

Baca juga : PBNU Apresiasi Puan Maharani Dukung Museum Nabi Muhammad Di Indonesia

“Misi Clean EDGE Asia memberikan peluang tepat waktu untuk menyingsingkan lengan baju kita dan mendiskusikan kemitraan perdagangan yang makin berkembang antara AS dan Indonesia di bawah IPEF,” kata Juru Bicara Kedutaan Besar AS Michael Quinlan.

Misi ini menghimpun perusahaan-perusahaan ternama AS bidang energi terbarukan yang bergerak dalam pengembangan energi surya, tenaga angin, biomassa, dan bentuk-bentuk energi terbarukan lainnya. 

Misi tersebut juga mempertemukan mereka dengan mitra-mitra Indonesia dari sektor energi dan para pengambil keputusan di pemerintahan.

Delegasi AS termasuk 12 perusahaan industri terkemuka subsektor energi terbarukan dan bahan bakar, penyimpanan energi, hidrogen, jaringan kelistrikan berteknologi canggih atau smart grid, nuklir, dan gas alam cair (LNG).

Baca juga : RI Berpotensi Isi Pasar Batubara Dan Minyak Sawit

Yaitu: Bechtel (Texas), Bloom Energy (California), Cheniere Energy (Texas), Ecoplexus (California), FuelCell Energy (California), Itron (Washington), Marquis Energy Global (Illinois), NuScale Power (Oregon), Sempra Energy (California), US Grains Council (Washington, D.C.), UPC Renewables (Florida), dan Westinghouse Electric Company (Pennsylvania).

Wakil Asisten Menteri Perdagangan AS untuk Asia Pamela Phan memimpin misi untuk Departemen Perdagangan AS didampingi Direktur Badan Pembangunan dan Perdagangan AS (US Trade and Development Agency) Enoh T Ebong serta perwakilan Export-Import Bank of the United States.

AS merupakan investor asing terbesar keempat di Indonesia, meningkat menjadi empat posisi terbesar dari tahun sebelumnya.

“Perusahaan-perusahaan Amerika menawarkan keunggulan dan nilai-nilai perusahaan AS kepada pasar Indonesia,” ujar Atase Perdagangan AS Paul Taylor.

Baca juga : Jalani Umrah, Puan Doakan Kesejahteraan Rakyat Indonesia

“Manfaat ekonomi bagi mitra-mitra kami di kawasan akan datang melalui kerangka kerja investasi dan perdagangan, yang tidak dapat dipisahkan dari prinsip bersama soal kesetaraan, pasar bebas, kemakmuran inklusif, ketahanan dan keamanan bersama,” imbuhnya. 

Perdagangan barang dua arah antara AS dan Indonesia tahun lalu meningkat lebih dari 30%, menjadi 36 miliar dolar. Bagi Indonesia, AS merupakan pasar ekspor terbesar kedua, dan Indonesia mengalami surplus perdagangan tahunan yang besar dengan AS.

Impor AS dari Indonesia mencakup sebagian besar produk bernilai tambah, menciptakan dampak ekonomi yang luas dan positif di Indonesia. Produk-produk ini antara lain tekstil dan alas kaki (26,6%), produk pertanian (20,3%), dan mesin serta peralatan mekanik (14,7%).

AS memiliki biaya tarif rata-rata tertimbang rendah—1,52% pada 2020. Separuh barang industri (nonpertanian) masuk ke AS dengan bebas bea.***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.