Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kecelakaan Pesawat Di Brazil, Total 61 Penumpang Tewas
Sabtu, 10 Agustus 2024 06:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kecelakaan pesawat VoePass rute Cascavel-Sao Paulo jenis ATR 72-500 di Vinhedo, Brazil, Jumat (9/8/2024), dilaporkan telah menewaskan seluruh penumpang yang totalnya berjumlah 61 orang. Terdiri dari 57 penumpang dan empat awak.
“Tak ada yang selamat dalam musibah ini,” kata pihak berwenang, seperti dikutip BBC, Jumat (9/8/2024).
Peta lokasi jatuhnya pesawat VoePass di Vinhedo, Brazil, Jumat (9/8/2024). (Foto: New York Times)
Merespons kejadian ini, Presiden Brazil Luis Inacio da Silva menyatakan turut berbelasungkawa kepada seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Dalam sebuah acara, Lula meminta para hadirin untuk mengheningkan cipta selama satu menit. "Kita hanya perlu berduka dan peduli pada mereka yang ditinggalkan. Peduli pada mereka yang saat ini sangat gelisah. Lots of sadness in the air," tutur Lula, seperti dikutip New York Times.
Lewat platform media sosial X miliknya, Lula mengumumkan masa berkabung resmi tiga hari sebagai tanda duka mendalam atas tragedi VoePass.
Otoritas setempat mengatakan, perekam data penerbangan telah berhasil diamankan. ATR, pabrik pembuat pesawat Prancis-Italia menyatakan siap bekerja sama untuk menyelidiki musibah ini.
Baca juga : Ini Jawaban Wartawan Saat Ditanya Menko Hadi Soal IKN: Bangga Nggak?
Pesawat dilaporkan jatuh di wilayah pemukiman. Namun, tak ditemui adanya korban luka. Hanya ada satu rumah di kompleks kondominium lokal yang rusak.
Video menunjukkan area yang luas terbakar dan puing-puing berasap di area pemukiman. Polisi dan pemadam kebakaran terlihat berada di tempat kejadian.
Menurut situs web pelacakan Flightradar24, pesawat nahas tersebut meninggalkan Cascavel pada pukul 11.56 waktu setempat (14.56 GMT).
Sinyal terakhir pesawat tersebut, diterima sekitar satu setengah jam kemudian.
FlightRadar24 juga mengungkap, pada menit terakhir penerbangan, transponder melaporkan pesawat itu jatuh pada ketinggian 8.000 hingga 24.000 kaki per menit. Sebelum jatuh, pesawat terbang pada ketinggian 17.000 kaki.
FlightRadar24 juga mengatakan, di area pesawat kehilangan kendali, terdapat peringatan aktif untuk lapisan es yang parah. Terbentuknya es di pesawat selama penerbangan dapat menjadi skenario yang berbahaya.
Fenomena ini dapat membuat pesawat menjadi lebih berat dan mengurangi daya angkatnya. Sebagian besar pesawat memiliki sistem anti-es yang dirancang untuk mencegah atau mengurangi terbentuknya es.
Baca juga : Tarik 3 Pesawat Sambil Berjalan Dengan Tangan
VoePass, yang sebelumnya dikenal sebagai Passaredo, adalah maskapai penerbangan kecil Brazil yang mengoperasikan armada 15 pesawat ATR untuk melayani kota-kota berukuran sedang di seluruh Brazil.
Tahun lalu, maskapai ini mengangkut sekitar 500.000 penumpang. Mewakili kurang dari 0,5 persen pasar Brazil.
Cirium, sebuah perusahaan data penerbangan menyebut, ada lebih dari 800 pesawat ATR yang terbang di seluruh dunia. Atau kurang dari 3 persen armada pesawat penumpang global yang aktif. Pesawat jenis ini populer di Asia dan Eropa.
Kondisi Pesawat Baik
Badan Penerbangan Sipil Brazil menjelaskan, pesawat VoePass yang mengalami kecelakaan tragis di Vinhedo, merupakan jenis pesawat turboprop bermesin ganda bikinan tahun 2010. Kondisinya baik.
Pesawat berkapasitas 68 orang itu terdaftar dan memiliki sertifikat kelaikan udara yang valid. Begitu pula empat kru pesawat, semuanya berlisensi dan memiliki kualifikasi baik.
2 Dokter Jadi Korban
Kepada BBC Brazil, Rumah Sakit Kanker Uopeccan di Cascavel mengungkap, dua dokter peserta pelatihannya termasuk di antara korban meninggal pesawat VoePass.
Valinhos, kota terdekat dari lokasi kejadian, mengirim 20 personel darurat ke TKP sebagai bagian dari operasi bersama.
Baca juga : Demo Anti Pemerintah Di Bangladesh, 59 Orang Tewas
"Sebanyak 20 orang telah dimobilisasi, termasuk tiga kendaraan dari Penjaga Sipil Kota Valinhos dan satu kendaraan dari Pertahanan Sipil," kata Balai Kota Valinhos dalam sebuah pernyataan.
Musibah jatuhnya pesawat ini disaksikan oleh warga setempat. "Ketika mendengar suara pesawat jatuh, saya melihat ke luar jendela. Saya takut melihat jatuhnya pesawat itu," Felipe Magalhaes kepada Reuters.
Saksi lain, Nathalie Cicari mengaku tengah makan siang ketika dia mendengar suara yang sangat keras. Dia menggambarkannya seperti suara drone, tetapi jauh lebih keras.
"Saya pergi ke balkon. Di sana, saya melihat pesawat berputar. Dalam hitungan detik, saya menyadari bahwa itu bukan gerakan normal untuk sebuah pesawat," tuturnya kepada CNN Brazil.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya