Dark/Light Mode

Hasil Jajak Pendapat Terakhir

Harris Unggul Tipis Trump Tak Percaya

Senin, 12 Agustus 2024 06:20 WIB
Kamala Harris. (Foto: EPA)
Kamala Harris. (Foto: EPA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Calon Presiden (Capres) dari Partai Demokrat, Kamala Harris sedikit demi sedikit menggerus dukungan Capres Partai Republik, Donald Trump. Berdasarkan jajak pendapat terbaru, Harris unggul tiga negara bagian kunci yang selama satu tahun terakhir dikuasai Trump.

Hasil jajak pendapat tersebut diterbitkan, Sabtu (10/8/2024). Jajak pendapat ini dilakukan New York Times dan Siena College pada 5-9 Agustus lalu, Harris berada di atas Trump dengan 50 persen berbanding 46 persen, di Michigan, Pennsylvania dan Wisconsin.

Margin error pengambilan sampel di antara calon pemil­ih kurang lebih 4,8 persen di Michigan, 4,2 persen di Pennsylvania dan 4,3 persen di Wiscon­sin. Secara total, 1.973 calon pemilih diwawancarai untuk jajak pendapat tersebut.

Baca juga : Kejagung Limpahkan Berkas Pencucian Uang

Di bawah sistem pemungutan suara Electoral College di AS, tiga negara bagian tersebut yang terletak di wilayah Midwestern yang padat penduduknya, diang­gap sebagai kunci kemenangan pilpres bagi salah satu partai.

Hasil jajak pendapat ini sangat berbeda setelah hampir satu ta­hun Trump unggul atas Presiden Joe Biden dari Partai Demokrat.

Biden mundur dari pencalo­nan pada 21 Juli lalu dan men­dukung Harris untuk pemilu AS pada 5 November mendatang.

Baca juga : Cassandra Lee, Dilamar Ryuken Sambil Berlutut

Pergantian capres ke Harris, telah menghidupkan semangat Demokrat yang sempat goyah. Saat itu, peluang Biden meni­pis untuk mengalahkan Trump. Kemampuannya untuk terus memerintah jika dia menang, juga diragukan.

Jajak pendapat tersebut juga menunjukkan bahwa para pemilih masih lebih memilih Trump dalam isu-isu utama ekonomi dan imigrasi, meskipun Harris memiliki keunggulan 24 persen ketika para pemilih ditanyai siapa yang mereka percayai dalam masalah aborsi.

Tim Kampanye Trump meno­lak hasil jajak pendapat baru terse­but. Mereka mempertanyakan metodologi yang digunakan. Mereka menuding, jajak pendapat tersebut dirilis dengan maksud menekan dukungan bagi Trump.

Baca juga : Israel Biadabnya Nggak Ketulungan

Banyak hal dapat berubah dalam waktu hampir tiga bulan sebelum pemilu 5 November.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.