Dark/Light Mode

IAF-2 Bali Targetkan Rp 58 Miliar, Ini 4 Sektor Yang Jadi Prioritas

Kamis, 22 Agustus 2024 22:57 WIB
IAF-2 Bali Targetkan Rp 58 Miliar, Ini 4 Sektor Yang Jadi Prioritas

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Pahala N Mansyuri menyampaikan, Indonesia Africa Forum (IAF)-2 yang akan digelar pada 1-3 September 2024, memiliki target konkret untuk jumlah pencapaian perjanjian di sektor usaha sebesar 3,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

"Sekitar Rp 58 triliun. Kelihatannya, memungkinkan untuk mencapai target ini," kata Pahala dalam pertemuan dengan Pemimpin Redaksi Media Massa di Jakarta, Kamis (22/8/2024).

Target kesepakatan bisnis itu diharapkan bisa dicapai melalui empat sektor prioritas. Pertama, sektor ketahanan pangan. Di sektor ini, Indonesia dan Afrika sama-sama mempunyai kebutuhan pangan yang tinggi. Di sisi lain, kedua negara punya potensi berupa lahan yang luas dan iklim yang baik. Sektor ini memiliki potensi perdagangan dan supply chain pangan, pupuk, serta pengembangan biofuels.

"Afrika bisa menjadi tempat untuk menjual produk kita. Beberapa negara juga sudah menjadi tempat produksi pangan kita. Misalnya di Nigeria, Afrika Selatan, dan Tanzania. Di Nigeria, Indomie sudah sangat mendominasi," papar Pahala.

Ketahanan pangan, lanjutnya, juga terkait dengan mineral fosfat dan potass untuk memproduksi pupuk NPK. Mengingat kebutuhan potass kita yang cukup besar, berkisar antara 1,5 juta sampai 1,8 juta ton per tahun. Dan 80 persen fosfat dunia ada di Maroko, Tunisia, dan Aljazair.

"Ini strategis bagi kita untuk tak hanya sekadar mengamankan suplai, tetapi juga memiliki resources di sana," beber Pahala.

Baca juga : Hari Ini, Ada Menteri Yang Di-Reshuffle

Kedua, sektor ketahanan energi. Dalam konteks ini, Indonesia dan Afrika perlu memastikan ketahanan energi. Afrika tak hanya kaya sumber daya energi migas, tetapi juga memiliki potensi kerja sama energi terbarukan.

"Pertamina saat ini sudah menjajaki dan memiliki beberapa fasilitas produksi di sana. Baik itu melalui Pertamina Internasional atau cucunya Pertamina yang ada di Prancis, yaitu Maurel et Prom (M&P). Selain itu, Pertamina juga punya beberapa titik di Gabon dan kerja sama dengan beberapa perusahaan di Nigeria," terang Pahala.

"Bayangkan, saat ini China mendapatkan 100-150 ribu barel per hari, untuk minyak. Minyak di China asalnya dari Angola, satu negara di Afrika," sambungnya.

Pahala menyebut, ketahanan energi dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan.

Saat ini, sudah ada perusahaan swasta Indonesia yang sudah memiliki MoU pengembangan pabrik urea dan amonia di Tanzania, negara Afrika yang kaya gas. Total nilai proyeknya mencapai 1,3 miliar dolar AS.

"Kami berharap, perusahaan Indonesia tidak hanya mengangkut, tetapi juga memperbaiki ketahanan pangan di Afrika. Karena selama ini, meski kaya gas, Tanzania tetap mengimpor pupuk dari negara lain," tutur Pahala.

Baca juga : Hakim Agung Gazalba Bawa Duit Dua Koper

Ketiga, sektor ketahanan kesehatan. Di sektor ini, Indonesia dan Afrika memiliki potensi kerja sama perdagangan obat, vaksin dan alat kesehatan (alkes), serta produksi dan pengembangan bersama.

Pahala mengatakan, total 1,4 miliar populasi Afrika adalah pasar bagi Indonesia di sektor kesehatan, baik itu melalui industri farmasi, vaksin dan sebagainya.

"Selama ini, Indonesia sudah memproduksi 1 miliar vaksin polio untuk negara-negara Afrika. Di sektor kesehatan, cukup banyak kesempatan. Dexa dan Biofarma juga sudah merintis kerja sama di bidang kesehatan," ucap Pahala.

Keempat, ketahanan mineral. Indonesia dan Afrika memiliki cadangan mineral kritis untuk transisi energi seperti nikel, kobalt, grafit, mangaan, dan sebagainya. Sehingga, Indonesia dan Afrika memiliki potensi untuk mengembangkan supply chain produksi komponen & baterai EV.

IAF-2 Bali

IAF-2 yang akan digelar di Nusa Dua Bali pada 1-3 September mendatang, akan diikuti 28 Kepala Negara/Pemerintahan dari Afrika, 800 peserta dari wakil pemerintah, organisasi Internasional dan regional, serta kalangan bisnis dari Indonesia dan Afrika.

Saat ini, sudah ada 6 konfirmasi kehadiran dari Kepala Negara/Pemerintahan dan 18 pembicara setingkat menteri, 8 orang dari Indonesia dan 10 orang dari Afrika.

Baca juga : Jokowi Minta OJK Dan BI Tingkatkan Perlindungan Di Sektor Ekonomi Digital

Jumlah ini masih akan terus bertambah. Masih ada 4-6 negara lagi yang leaders-nya akan hadir langsung.

Kata Pahala, mereka ingin melihat Indonesia sebagai brother atau sister yang bisa diajak kerja sama secara win-win," papar Pahala.

"Untuk partisipan, tadi pagi ada 411 delegasi bisnis dan non bisnis yang akan hadir. Tapi siang ini, sudah bertambah menjadi 487. Cepat sekali ini," cetusnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.