Dark/Light Mode

Naik Hercules ke Vanimo, Paus Bawa 1 Ton Bansos

Senin, 9 September 2024 08:54 WIB
Paus Fransiskus saat berkunjung ke Vanimo, Papua Nugini, Minggu (8/9/2024). (Foto: Instagram Vaticannews)
Paus Fransiskus saat berkunjung ke Vanimo, Papua Nugini, Minggu (8/9/2024). (Foto: Instagram Vaticannews)

RM.id  Rakyat Merdeka - Paus Fransiskus menyampaikan sejumlah pesan saat melakukan perjalanan apostolik di Papua Nugini. Di hadapan para pemimpin dan tokoh masyarakat, Paus bicara soal pentingnya mengelola kekayaan alam dan mengakhiri kekerasan antarsuku. Saat bertemu masyarakat di daerah terpencil Vanimo, Paus berpesan untuk ikut membantu mengakhiri berbagai perilaku buruk yang ada di tengah masyarakat, seperti kekerasan, dan penyalahgunaan alkohol. 

Seperti saat berkunjung di Jakarta, agenda Paus di Papua Nugini juga berlangsung padat. Dari pagi hingga malam. Pada Minggu (8/9/2024), agenda Paus lebih lama lagi karena harus berkunjung ke Vanimo, daerah terpencil di Papua Nugini.

Paus memulai aktivitas Minggu pagi dengan memimpin Misa Akbar di Stadion Sir John Guise, Port Moresby. Setelah itu, Paus terbang ke Vanimo, yang terletak di pesisir barat daya Papua Nugini. Kalau dilihat di peta Pulau Papua yang mirip burung, letak Vanimo berada di bagian punggung. Posisinya sekitar 30 kilometer dari perbatasan Indonesia. Tak jauh dari Jayapura. Meski disebut kota, kondisinya mirip seperti kecamatan. Namun, kota ini strategis karena menjadi pintu gerbang antara Papua Nugini dan Indonesia. 

Paus berangkat dari bandara Port Moresby dengan Pesawat Hercules C-130 pada pukul 1 siang waktu setempat. Penerbangan ini difasilitasi Royal Australian Air Force (RAAF), angkatan udaranya Australia. Perjalanan ke Vanimo memakan waktu 1,5 jam. 

Awalnya, kunjungan ke Vanimo ini akan menggunakan pesawat komersial. Para jurnalis pun sudah diminta mendaftar dalam penerbangan. Namun, sepekan sebelum perjalanan Paus ke Asia-Pasifik dimulai, Kantor Pers Vatikan mengumumkan, perjalanan ke Vanimo tak memungkinkan menggunakan pesawat komersial. Alasannya, karena fasilitas dan infrastruktur di bandara Vanimo kurang memadai. Informasi lain menyebutkan, landasan di bandara Vanimo pendek. Selain itu, tak tersedia lift yang akan digunakan untuk menurunkan Paus dari pesawat. 

Vatikan akhirnya memutuskan untuk menggunakan Hercules C-130. Pesawat pabrikan asal Amerika Serikat itu, memang punya beberapa keunggulan. Seperti bisa menaikkan kargo dan penumpang dari lambung pesawat serta mendarat di landasan yang pendek dan kasar. Cocok dengan kondisi di Bandara Vanimo. 

Baca juga : Besok Jokowi Ngantor di IKN Lagi, Bandara Siap Didarati, Air Minum Siap Dijajal

Hanya saja, ukuran pesawat dengan nomor ekor A97-450 ini, tak terlalu besar. Hanya tersedia 6 kursi berbusa yang menghadap depan. Para wartawan dan Garda Swiss duduk di kursi yang menempel di sisi kiri-kanan lambung pesawat. 

Penumpang pun tak muat banyak, lantaran Paus membawa 1 ton bantuan untuk masyarakat setempat. Bantuan tersebut seperti obat-obatan, pakaian, mainan, dan bahan-bahan makanan lainnya. Salah satu barang yang dibawa adalah permen gulali.

Vatikan juga membawa mobil golf kecil dengan lambang Vatikan di depannya. Kendaraan ini digunakan Paus saat menyapa umat di lapangan. 

Keterbatasan armada ini membuat hanya sepuluh jurnalis yang ikut dalam penerbangan tersebut. Sementara, sebagian besar wartawan lainnya menunggu di Media Center yang berada di Ballroom Hilton, Port Moresby.

Untunglah panitia lokal menyiapkan dua layar lebar di ruangan ini. Para jurnalis bisa menyaksikan secara live perjalanan Paus ke Vanimo. Selain itu, para jurnalis yang ikut ke Vanimo juga rajin membagikan foto, video singkat, dan wawancara dengan berbagai narasumber. Hal ini membantu para wartawan di Media Center untuk mengupdate perkembangan di lapangan.

Di Vanimo, Paus disambut sekitar 20 ribu umat Katholik yang berkumpul di lapangan depan Katedral. Paus berkeliling menyapa umat dengan mobil golf. Dalam acara ini, hadir sekitar 1.000 umat Katholik asal Indonesia yang tinggal di Jayapura dan sekitarnya. Untuk acara ini, Pemerintah membantu dan memfasilitasi pergerakan umat dari Jayapura ke Vanimo. 

Baca juga : Soal Pendirian Parpol, Imin Nasihatin Anies: Berat Mas!

Dalam pidatonya, Paus memuji keindahan alam Papua Nugini yang kaya dengan berbagai flora dan fauna, serta budaya. Namun, menurut Paus, keindahan yang paling memukau justru terletak di dalam diri setiap orang yang hidup dengan cinta kasih dan keharmonisan.

Dalam pidato itu, Paus juga mengajak umat untuk membantu mengakhiri berbagai perilaku buruk seperti kekerasan, penyalahgunaan alkohol, dan penggunaan narkoba, yang sering kali merusak komunitas. "Mari kita sebarkan cinta yang lebih kuat dari semua itu. Cinta yang berakar pada Tuhan, yang mampu menyembuhkan dunia," ucapnya.

Setelah menemui umat, Paus menemui para misionaris di Vanimo Secondary School di Dusun Baro. Sekolah tersebut dikelola para misionaris dan para biarawati sejak 1997. Salah satu alasan kunjungan Paus ke Vanimo adalah menemui temannya, pastor asal Argentina, yang berkarya di kawasan tersebut.

Kedatangan Paus ke daerah terpencil di Papua Nugini ini disambut penuh rasa takjub. Pastor Tomas Ravaioli, seorang misionaris asal Argentina, mengungkapkan bahwa ia sempat ragu Paus benar-benar akan datang ke Vanimo.

"Ia menepati janjinya untuk datang," ujar Ravaioli. "Kami benar-benar tidak menyangka. Di usianya yang sekarang, apa yang dilakukan Paus sangat luar biasa," ucapnya.

Pada Sabtu (7/9/2024), Paus memulai agenda di Papua Nugini dengan melakukan kunjungan kehormatan ke Gubernur Jenderal Papua Nugini Bob Bofeng Dadae di Government House. Acara dilanjutkan dengan melakukan pertemuan dengan berbagai otoritas, perwakilan masyarakat sipil, dan korps diplomatik di APEC Haus.

Baca juga : Pulang Keliling ASEAN, Prabowo Nggak Keluar Hambalang

Di acara itu, Paus menyinggung soal pentingnya mengelola kekayaan alam dengan adil dan bijaksana. Menurut Pimpinan Tertinggi Gereja Katholik itu, kerja sama internasional diperlukan, tapi kerja sama itu harus menjamin kesejahteraan masyarakat lokal.

Tak lupa, Paus juga menyampaikan pentingnya stabilitas dalam melakukan pembangunan. Paus lalu menyampaikan keprihatinannya terhadap kekerasan antar suku yang kerap terjadi. Ia mengimbau semua pihak untuk menghentikan kekerasan. 

Pada sore hari, pukul 17.00 waktu setempat, Paus mengunjungi anak-anak dari Street Ministry dan Callan Services, sebuah program pelayanan untuk anak-anak jalanan dan penyandang disabilitas. Agenda pada Sabtu diakhiri dengan pertemuan dengan uskup, imam, diakon, seminaris, dan katekis dari Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, di Shrine of Mary Help of Christians.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.