Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wakil Menkes RI Dante Saksono Harbuwono & CEO APLMA Sarthak Das
Leaving No One Behind: Komitmen Indonesia Dalam Eliminasi Malaria
Minggu, 22 September 2024 09:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Malaria, penyakit menular yang ditularkan lewat nyamuk, terus membayangi Indonesia. Terlepas dari langkah luar biasa yang telah dilakukan Indonesia untuk mengeliminasi penyakit ini, malaria masih menjadi ancaman yang serius terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia.
Meskipun hampir 75 persen kabupaten di Tanah Air telah dinyatakan bebas dari malaria, namun beban malaria masih belum merata di seluruh Nusantara.
Menurut data dari Unit Malaria Kementerian Kesehatan RI, pada 2023, sebanyak 389 kabupaten telah mencapai tahap sertifikasi bebas malaria. Kemajuan yang mengesankan ini mencakup lima provinsi. DKI Jakarta, Bali, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.
Sebaliknya, Pulau Papua, Pulau Sumba (Nusa Tenggara Timur), dan Kabupaten Penajam Paser Utara (Kalimantan Timur) masih menanggung beban malaria yang cukup tinggi. Papua menyumbang 90 persen dari kasus malaria yang dilaporkan di Indonesia.
Kesenjangan dalam upaya penanggulangan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Penyediaan layanan dan pasokan kesehatan yang fundamental masih menjadi tantangan yang terus berlanjut karena isolasi geografis dan hambatan logistik.
Medan yang sulit, infrastruktur transportasi yang terbatas, dan kondisi cuaca yang buruk sangat menghambat akses untuk melakukan tes, pengobatan, dan tindakan pencegahan.
Baca juga : Menlu Selandia Baru Senang Pilot Susi Air Sudah Bebas dan Aman
Persepsi masyarakat tentang penyakit ini menambah kompleksitas, sehingga berkontribusi pada layanan yang tidak optimal yang memperburuk hasil kesehatan pasien malaria. Selain itu, wilayah ini sering kali memiliki profil kesehatan yang lebih buruk secara keseluruhan, dengan beban penyakit lain yang juga cukup besar seperti HIV, TBC, dan malnutrisi.
Bebaskan Indonesia Dari Malaria
Kesenjangan beban malaria di Indonesia menggarisbawahi adanya kebutuhan mendesak untuk menghidupkan kembali upaya pemberantasan malaria, terutama di daerah-daerah yang paling sulit dijangkau dan memiliki tingkat penularan dan beban penyakit tertinggi.
Sebelum berbicara tentang eliminasi, diagnosis yang cepat melalui diagnosa yang tepat, dan pengobatan sangatlah krusial. Juga harus disadari peran penting yang dimainkan tenaga kesehatan di tingkat masyarakat dan desa, terutama dalam deteksi kasus.
Setelah tingkat pengendalian yang sederhana dapat direalisasikan di kantong-kantong dengan beban tinggi ini, dapat dicari solusi berbasis masyarakat. Disesuaikan dengan kebutuhan yang memanfaatkan intervensi terbaik yang telah terbukti seperti kelambu serta alat baru yang dapat digunakan seperti metode pengendalian vektor atau vaksin.
Guna mencapai tujuan ini, diperlukan kepemimpinan yang kuat dan kemauan politik yang konsisten. Baik di tingkat nasional maupun lokal.
Upaya ini mencakup penentuan prioritas sumber daya untuk daerah-daerah dengan beban tinggi dan memberdayakan Pemerintah Daerah melalui solusi berbasis masyarakat dan kepemimpinan lokal.
Baca juga : Straits Times Sebut Prabowo Siap Bawa Indonesia Jadi Pemain Besar Dunia
Indonesia memperingati Hari Malaria Sedunia pada tanggal 24 Juni 2024, dengan tema “Mempercepat pemberantasan malaria untuk dunia yang lebih adil”. Sebagai bagian dari peringatan tersebut, 17 kabupaten baru menerima sertifikasi bebas malaria. Sementara itu, pertemuan tingkat tinggi digelar Kementerian Kesehatan di Jakarta dengan mengumpulkan para walikota dari 14 kabupaten dengan beban malaria yang tinggi di Papua.
Pertemuan tingkat tinggi ini mempertemukan para pemimpin dari tingkat nasional dan daerah, para ahli, dan mitra internasional, yang bertujuan untuk menyatukan kekuatan dan mengintensifkan upaya pemberantasan malaria di wilayah Papua. Namun, perjuangan ini menembus batas-batas negara.
Upaya Regional Eliminasi Malaria
Menyadari bahwa eliminasi malaria membutuhkan upaya regional, maka Indonesia berpartisipasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Asia Pasifik ke-8 tentang Eliminasi Malaria pada tanggal 6 Juni 2024 di Port Moresby, Papua Nugini.
Dalam KTT tersebut, Indonesia turut serta bersama Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Timor Leste, dan Vanuatu dalam menandatangani Eliminating Malaria and other Vector Borne Diseases through Enhanced Regional Partnerships (EDEN) Initiative. Yaitu kolaborasi regional yang berfokus pada pengendalian penyakit tular vektor secara terpadu.
Inisiatif ini menangani malaria dan penyakit yang ditularkan oleh vektor lainnya melalui pendekatan kolaboratif. Yang bertujuan untuk berbagi sumber daya dan keahlian lintas batas untuk menjembatani ketimpangan dalam perkembangan antara daerah dengan beban tinggi dan daerah dengan beban rendah di seluruh wilayah Asia Pasifik.
Eliminasi malaria di Indonesia membutuhkan pemikiran di luar kebiasaan dan dengan rasa keterdesakan. Waktu yang hilang adalah nyawa yang hilang. Hal ini terutama berlaku untuk upaya di Papua dan di daerah perbatasan.
Baca juga : Dubes Indonesia Untuk Belanda Mayerfas Happy, Peresmian IHA Dihadiri Menlu Retno
Mengeliminasi malaria pada tahun 2030 akan memajukan tujuan pembangunan Indonesia yang lebih luas. Termasuk visi generasi emas.
Hari Malaria Sedunia tahun ini menyoroti sebuah realita yang fundamental: menempatkan kesejahteraan masyarakat yang rentan sebagai prioritas utama. Tidak hanya untuk mengeliminasi malaria, tetapi juga untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan lebih sehat bagi seluruh rakyat Indonesia. Memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tertinggal (no one is left behind).
Penulis: Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dam Dr Sarthak Das, Chief Executive Officer Asia Pacific Leaders Malaria Alliance (APLMA)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya