Dark/Light Mode

Korut Bersiap Putuskan Jalan Darat Dan Akses Kereta Api Ke Korsel

Rabu, 9 Oktober 2024 21:57 WIB
Barikade di dekat Jembatan Unifikasi menuju Panmunjom di Zona Demiliterisasi (DMZ) pada 11 Juni 2024 di Paju, Korea Selatan. (Foto: Getty Images via CNN International)
Barikade di dekat Jembatan Unifikasi menuju Panmunjom di Zona Demiliterisasi (DMZ) pada 11 Juni 2024 di Paju, Korea Selatan. (Foto: Getty Images via CNN International)

RM.id  Rakyat Merdeka - Militer Korea Utara (Korut) menyatakan siap mengambil langkah besar-besaran, dengan memutus total wilayahnya dari Korea Selatan (Korsel), Rabu (9/10/2024). Jalan darat dan rel kereta api yang menghubungkan kedua negara akan sepenuhnya terputus.

Langkah ini diambil setelah Korut memperkuat perbatasannya yang dijaga ketat selama berbulan-bulan. Awal tahun ini, Pemimpin Korut Kim Jong Un telah membatalkan kebijakan lama untuk reunifikasi damai dengan Korea Selatan (Korsel).

“Situasi militer akut yang terjadi di semenanjung Korea mengharuskan angkatan bersenjata DPRK untuk mengambil tindakan yang lebih tegas dan lebih kuat, agar lebih kredibel dalam mempertahankan keamanan nasional,” kata Staf Umum Tentara Rakyat Korea (KPA), seperti dilansir KCNA, Rabu (9/10/2024).

Dalam pernyataan tersebut, Korut disebut dengan nama resmi: Republik Rakyat Demokratik Korea.

Melansir CNN International, sejak Januari, Pyongyang telah memperkuat pertahanan perbatasannya, meletakkan ranjau darat, membangun perangkap anti-tank, dan menyingkirkan infrastruktur rel kereta api.

Baca juga : HKTI: Impor Beras Efektif Jaga Stabilitas Harga Dan Sejahterakan Petani

Kim juga telah meningkatkan retorikanya yang berapi-api terhadap Korsel. Dia menyebut Korsek sebagai musuh utama dan musuh utama yang tidak berubah-ubah.

Staf Umum KPA menjelaskan, tindakan tersebut merupakan respons terhadap "latihan perang" yang belum lama ini diadakan di Korsel. Serta kunjungan ke tempat yang diklaim sebagai aset nuklir strategis AS di wilayah tersebut.

Selama setahun terakhir, sebuah kapal induk AS, kapal serbu amfibi, pembom jarak jauh, dan kapal selam bolak-balik mengunjungi Korsel. Sehingga menuai teguran keras dari Pyongyang.

Menanggapi hal ini, Kepala Staf Gabungan Korsel menilai, rencana Korut tersebut merupakan bentuk putus asa yang berasal dari kepemimpinan Kim Jong Un yang gagal menciptakan keamanan. Hal ini hanya akan mengarah pada isolasi yang lebih keras.

Sementara Hong Min, seorang peneliti senior di Institute for National Unification, Seoul memandang, langkah ini merupakan upaya Korut memformalkan pekerjaan yang telah dilakukan di sepanjang perbatasan militernya. Bukan tak mungkin, Pyongyang akan mengkonstitusionalkannya di masa datang.

Baca juga : MPR Tuai Pro-Kontra

"Jika Korut menetapkan klausul teritorial baru melalui amandemen konstitusional dan memutuskan hubungannya dengan Korea Selatan, dampak internal dan eksternalnya akan sangat besar," kata Hong kepada CNN International.

Menurutnya, Pyongyang sudah mulai mengambil langkah kecil ke arah itu.

Membara

Permusuhan membara antar-Korea pada tahun ini, antara lain dipicu oleh langkah Korut yang sepertinya sudah mulai mengintensifkan upaya produksi nuklirnya, dan memperkuat hubungan dengan Rusia.

Hal ini memperdalam kekhawatiran yang meluas di negara-negara Barat.

Minggu lalu, Kim mengancam akan menggunakan senjata nuklir untuk menghancurkan Korsel, jika diserang.

Baca juga : Dirjen Minerba Ingatkan Perusahaan Tambang Waspadai Kampanye Dirty Nickel

Ancaman ini datang setelah Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol memperingatkan, Korut akan menghadapi akhir resmi jika menggunakan senjata nuklir.

Dalam parade Hari Angkatan Bersenjata Korsel, Presiden Yoon memamerkan rudal balistik terkuat Seoul dan senjata lain yang dirancang untuk mencegah ancaman Korut.

Leif-Eric Easley, seorang profesor di Ewha Woman University di Seoul berpendapat, pengumuman tentara Korut merupakan upaya Pyongyang untuk mengalihkan kesalahan atas kegagalan ekonominya. Korut melegitimasi pembangunan rudal dan senjata nuklirnya yang mahal, dengan membesar-besarkan ancaman eksternal.

"Kim Jong Un ingin khalayak domestik dan internasional percaya bahwa dia bertindak berdasarkan kekuatan militer. Tapi, mungkin saja, dia justru dimotivasi oleh kelemahan politik," papar Easley.

"Ancaman Korut, baik nyata maupun retorika, mencerminkan strategi bertahan hidup rezim kediktatoran yang turun-temurun," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.