Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Trump Ancam Tarif Tambahan, China: Tak Ada Yang Bisa Menangkan Perang Dagang
Selasa, 26 November 2024 14:31 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tak akan ada yang memenangkan perang dagang. Baik Amerika Serikat (AS) ataupun China. Begitu keyakinan Kedutaan Besar (Kedubes) China di Washington pada Senin (25/11/2024), setelah presiden terpilih AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap semua impor China, saat dia menjabat pada 20 Januari 2025.
"Terkait masalah tarif AS terhadap China, China percaya kerja sama ekonomi dan perdagangan China-AS saling menguntungkan," kata Juru Bicara Kedutaan Besar (Kedubes) China Liu Pengyu dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters, Selasa (26/11/2024).
"Tidak seorang pun akan memenangkan perang dagang atau perang tarif," imbuhnya.
Baca juga : Pimpin Kampanye Akbar, Hasto Ajak Warga Bekasi Bersatu Menangkan Tri & Harris
Belum lama ini, Trump menyatakan siap mengenakan tarif terhadap China, hingga negara tersebut menghentikan aliran obat-obatan terlarang ke AS. Khususnya, fentanil.
Dalam pernyataan tersebut, Liu menyebut China telah mengambil langkah-langkah untuk memerangi perdagangan narkoba, setelah Presiden Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping mencapai kesepakatan pada tahun lalu.
"Pihak China telah memberi tahu AS tentang kemajuan yang dicapai dalam operasi penegakan hukum terhadap narkotika di Amerika,” papar Liu.
Baca juga : Partai PRIMA Jakarta Konsolidasi Menangkan Pasangan RIDO
“Hal ini membuktikan bahwa anggapan yang menyebut China sengaja membiarkan prekursor fentanil mengalir ke AS, sepenuhnya bertentangan dengan fakta dan kenyataan," imbuhnya.
Saat ini, telah terjadi kemajuan nyata secara bertahap dalam kerja sama menghentikan perdagangan gelap bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi fentanil yang mematikan, setelah Xi dan Biden sepakat melanjutkan upaya bersama pada tahun lalu.
AS telah mendesak China untuk melakukan penegakan hukum yang lebih ketat, termasuk menangani keuangan gelap dan memperketat kontrol terhadap fentanil. Mengingat bahan kimia tersebut menjadi penyebab utama kematian di Amerika.
Baca juga : Survei Terakhir 4 Lembaga, Mas Pram-Bang Doel Berpotensi Menang 1 Putaran
Juni 2024, Jaksa Agung China mendesak pejabat penegak hukumnya untuk fokus pada pemberantasan perdagangan narkoba, di tengah penyelidikan gabungan terhadap narkoba antara Beijing dan Washington, yang terhitung langka.
Dua bulan berselang atau Agustus 2024, beberapa hari setelah pertemuan kelompok kerja antinarkoba gabungan, China menyatakan siap memperketat kontrol terhadap tiga bahan kimia yang penting untuk membuat fentanil.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya